SOLOBALAPAN.COM - Belut merupakan salah satu hewan yang bisa diolah menjadi berbagai macam olahan kuliner yang lezat.
Nah salah satunya yaitu diolah menjadi belut botok mercon yang memiliki cita rasa pedas menggoda.
Sajian botok belut ini sangat cocok jika dihidangkan dengan nasi hangat hingga membuat kuliner satu ini makin nikmat.
Seperti halnya di Tangkil, botok belut sedikit berbeda dengan botok mercon. Meski sama-sama tanpa parutan kelapa dan dibungkus daun pisang, namun dimasak menggunakan rempah-rempah seperti kemiri dan dengan ditambahkan tomat segar.
Rasa botok belutnya memang pedas, namun tidak sepedas botok mercon. Tapi cukup segar karena juga dibumbui dengan irisan tomat.
Sedangkan sambal belutnya disajikan lebih pedas. Dipadu dengan sambal bawang yang ciamik.
Penjual biasanya mencari belut ketika habis panen. Namun ketika tidak panen, membeli dari pengepul belut. Sementara saat sulit bahan baku,
kadang tidak jualan. Tapi terkadang pelanggan menghubungi lebih dulu jika akan menikmati masakan belut.
Penjual sambal belut dan botok belut, Sukarni Ani, 51, Warga Desa Tangkil menyampaikan, lokasi warungnya cukup mudah diakses.
Karena merupakan akses utama dari Sragen ke Kecamatan Gesi dan Sukodono.
Dia menambahkan, awal jualan saat pandemi Covid-19 lalu. Karena suaminya petani dan pada saat panen, muncul ide tambahan mencari penghasilan karena pada saat itu stok belut melimpah. Soal masakan botoknya, Ani menyampaikan beda dengan botok mercon.
”Ini pakai tomat yang digongso, cabai tidak sebanyak botok mercon, pakai kemiri dan bumbu lainnya. Selain itu juga dengan bumbu lainnya,” terangnya.
Sedangkan sambel belutnya, dia memadukan dengan sambel bawang. Terkait harga tidak bikin kantong bolong.
Sambal belut dengan nasi dibanderol Rp 15 ribu. Sedangkan botok belut dan nasi hanya Rp 16 ribu.
Awalnya dia buka di tepi sawah jalur Sragen-Gesi. Namun karena ada perbaikan talut terpaksa pindah di depan kantor balai desa.
Terkait jam buka warungnya, Ani menyampaikan tidak pasti. Rata-rata pukul 10.00-10.30 dan tutup sekira pukul 16.00.
Untuk pelanggan biasanya rombongan pegawai negeri sipil (PNS) dan perangkat desa Tangkil. Selain itu ada juga orang yang melintas jalur tersebut. (din/adi)
Editor : Nindia Aprilia