SOLOBALAPAN.COM – Jelang Imlek, ada setidaknya 5.000 lampion yang telah dipasang di Kawasan Gladag, depan balai kota sampai ke Pasar Gede Solo.
Berbagai rangkaian acara juga sudah dimulai, salah satunya pemasangan lampion dan perahu di kali pepe Solo.
Acara lain yang akan digelar yaitu Grebeg Sudiro pada Minggu, 4 Februari mendatang.
Dikawasan tersebut juga banyak dipasangi lampion hingga simbol naga yang dipajang diberbagai titik.
Hal ini dikarenakan Imlek tahun ini merupakan tahun naga, maka banyak bentuk naga yang dipasang disana..
"Kami manambah beberapa maskot naga, terutama di Gladag. Kami import dari Tiongkok berbahan viber glass agar bisa menjadi contoh pembuatan lampion yang lebih indah."ujar Ketua panitia Imlek bersama Sumartono Hadinoto.
"Kemudian ada naga yang berputar di perempatan BI. Di depan balkot ada dua naga yang bisa bergerak dan ada bola api yang berputar," lanjutnya.
Soal keamanan lampion mengiat potensi hujan yang tinggi, Sumartono mengatakan, panitia telah melakukan antisipasi.
Salah satunya dengan menambah beban pemberat pada lampion yang dipajang di pinggir jalan.
"Namun yang namanya cuaca tidak bisa diprediksi. Kadang bersahabat, kadang tidak. Tentunya kami berharap tidak terjadi bencana (angin kencang). Kalau nanti rusak akan segera kami perbaiki," ujarnya.
Di lain sisi, perayaan pesta lampion di sekitar Pasar Gede sedikit tercoreng.
Ada pelaku premanisme, berupa pemalakan yang dirasakan sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jalan Jendral Sudirman (Jensud) hingga Pasar Gede.
Kondisi ini disesalkan oleh pihak panitia bersama Imlek 2574/2024. Sebab panitia sudah mengupayakan kenyamanan terhadap semua pihak, termasuk pedagang yang tengah mengais rezeki.
Sumartono mengatakan, sejak awal rakor bersama pemkot yang dipimpin Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa, sudah disampaikan bahwa PKL akan ditata dengan baik.
"Sehingga tidak mengganggu yang jajan, yang mau foto, arus lalu lintas, serta keberadaan PKL-nya itu sendiri. Sehingga kalau kemudian ada kejadian pemalakan seperti ini, tentu kami sangat menyesalkan,” terangnya.
Dia mengakui sudah menjaga kondusivitas keamanan disana. Tapi ternyata ada pihak yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi.
“Ini baru pertama kali terjadi (pemalakan di kawasan lampion)," bebernya.
Sumartono mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada kepolisian yang telah merespons cepat keluhan dari para PKL.
Pelaku juga sudah diamankan, sehingga gelaran lampion jadi lebih aman dan nyaman kepada masyarakat yang hadir dan pedagang.
"Kami siap membantu dari sisi keamanan apabila dibutuhkan," ujarnya.
Sementara itu, Sumartono menambahkan sejak Imlek dijadikan hari libur nasional, diskriminasi yang dulu sempat dirasakan warga keturunan Tionghoa tidak terjadi lagi.
Apalagi didukung dengan undang-undang kewarganegaraan. PMS sebagai organisasi tionghoa yang bergerak di bidang sosial juga terus berkembang
Dia juga mengungkapkan bahwa jika dulu orang Tionghoa hanya di bisnis saja maka kedepannya bisa masuk ke DRR, TNI, hingga Polri.
Apalagi mengingat bahwa mereka sangat minoritas dan kebanyakan meneruskan bisnis orang tuanya. Maka diharapkan agar anak bisa mencoba bidang lainnya. (atn/nik/nda)
Editor : Nindia Aprilia