SOLOBALAPAN.COM - Jenang merupakan makanan khas di Kota Solo yang memiliki cita rasa unik.
Selain menjadi pelengkap dalam berbagai hajatan, jenang juga menjadi simbol-simbol filosofis yang kaya makna bagi masyarakat Jawa.
Jenang bukan sekedar makanan ringan di Kota Solo, ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi yang melekat sejak zaman Kerajaan Hindu-Budha dan era Walisongo.
Dilansir dari surakarta.go.id, Belasan macam jenang dapat ditemukan di Solo, namun tujuh di antaranya meraih ketenaran dan sering digunakan dalam berbagai acara hajatan.
Pertama, Jenang Sumsum dengan warnanya yang putih bukan hanya sebuah makanan, melainkan simbol keberkahan dan kesehatan.
Dipercaya dapat mempererat hubungan antar masyarakat, sering digunakan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan dan khitanan.
Kedua, Jenang Candil menggambarkan kehidupan yang penuh perbedaan, diibaratkan sebagai roda yang terus berputar.
Disajikan saat selamatan, jenang ini menjadi simbol rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ketiga, Jenang Sengkala terdiri dari merah dan putih, melambangkan peradaban manusia.
Dengan simbol lelaki (jenang abang) dan perempuan (jenang putih), mengingatkan manusia akan esensi feminim dan maskulin dalam dunia ini.
Keempat, Jenang Procot memiliki makna dalam doa untuk kelancaran proses kelahiran.
Digunakan dalam upacara mitoni atau tujuh bulanan, jenang ini menjadi ungkapan harapan bagi ibu yang sedang hamil.
Kelima, Jenang Lemu memberikan makna kuat dan membangun semangat baru dalam kehidupan.
Sering disajikan dalam berbagai upacara adat, jenang ini menjadi simbol kekuatan dan semangat.
Keenam, Jenang Majemukan ibarat manusia sebagai makhluk sosial. Simbol saling menghormati dan menghargai perbedaan menjadi nilai penting dalam masyarakat yang plural dan multikultural.
Terakhir, Jenang Abang Putih dengan makna merah dan putih, merepresentasikan penciptaan manusia.
Simbol untuk selalu melihat sesuatu dengan sudut pandang luas dan tetap fokus pada tujuan hidup.
Ketujuh jenang ini tidak hanya memiliki makna yang mendalam, tetapi juga menjadi warisan yang perlu dijaga kelestariannya.
Kota Solo bahkan menggelar festival jenang setiap tahun, sebagai upaya memperingati tradisi dan menjaga agar jenang tetap lestari di masa depan.
Melalui simbolisme filosofisnya, jenang tidak sekadar makanan lezat ia menjadi penjaga kearifan lokal dan kaya akan makna yang memperkaya budaya Kota Solo.(mg5/nda)
Editor : Nindia Aprilia