SOLOBALAPAN.COM - Ketika berkunjung ke Solo, pastinya sudah tidak asing lagi ketika mendengar nama makanan ini yaitu nasi liwet.
Nasi liwet berupa nasi gurih yang disajikan bersama dengan sayur labu siam, ayam suwir, areh putih (kumut), dan telur kukus.
Nasi liwet dapat dikatakan sebagai salah satu kuliner tradisional yang menjadi tujuan para wisatawan ketika berkunjung ke Solo.
Cita rasanya yang tidak pernah berubah yaitu gurih dan lembut membuat nasi liwet menjadi ikon kuliner khas Kota Solo.
Namun siapa sangka, dibalik rasanya yang gurih ternyata nasi liwet juga memiliki sejarah.
Menurut pengamat kebudayaan dari Keraton Kasunanan Surakarta yaitu Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Dipokusumo dalam Antropologi Kuliner Nusantara (2014), setiap kamis malam pada zaman dahulu Keraton Surakarta biasa menyajikan jenang lemu dan sega liwet untuk keperluan ritual.
Makanan tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat yang lewat di depan Kori Kamandungan.
Saat itu, sega liwet yang disajikan di keraton adalah sega gurih (nasi yang dimasak dengan santan) dilengkapi dengan kedelai hitam, cabai hijau, bawang merah, dan potongan mentimun.
Setelah sering mendapatkan pembagian makanan dari keraton, masyarakat kemudian membuat sendiri makanan tersebut. Waktu memasaknya pun tak hanya di hari kamis malam.
Lambat laun, sega liwet mendapatkan inovasi baru oleh mantan abdi dalem yang tinggal di Baki, Menuran, Sukoharjo.
Melalui inovasi tersebut kemudian nasi liwet versi baru yang dikenal saat ini pun muncul.
Karena rasanya yang terbilang lebih enak, nasi liwet ala Menuran ini kemudian mulai disajikan di istana.
Konon, nasi liwet Menuran telah dikenal di istana pada abad ke-19 tepatnya masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana XI (1861-1893).
Saat itu, nasi liwet Menuran telah menjadi kesukaan raja dan para abdi dalem.
Kendati demikian, setiap acara karawitan digelar maka raja akan memesan nasi liwet langsung dari Baki untuk dinikmati bersama dengan para abdi dalem.
Seiring perkembangan waktu, dalam budaya masyarakat Jawa nasi liwet biasanya menjadi kelengkapan penting dalam sebagian ritual atau upacara.
Selain itu, nasi liwet bersama kelengkapannya juga digunakan untuk membentuk simbol tertentu sesuai dengan harapan orang yang menyelenggarakan upacara atau ritual.
Saat ini, nasi liwet telah banyak ditemukan di setiap sudut Kota Solo.
Umumnya, isian nasi liwet berupa nasi gurih disajikan bersama dengan sayur lodeh labu siam, ayam suwir, telur kukus pindang, dan kumut.
Cara penyajiannya yang tradisional yaitu menggunakan daun pisang yang dibentuk seperti pincuk membuat nasi liwet terlihat lebih menarik.
Tak hanya itu, para pedagang nasi liwet juga masih menggunakan tungku dan kayu bakar untuk memasaknya.
Mereka percaya bahwa penggunaan tungku dan kayu bakar membuat nasi liwet terasa lebih enak dan tahan lama.
Nasi liwet umumnya dinikmati dengan cara duduk lesehan. Maka tak heran jika para pedagang nasi liwet berjualan dengan berjalan kaki dan diedarkan keliling perumahan. (mg4/nda)