SOLOBALAPAN.COM - Jika kamu berwisata ke Solo, lidahmu akan dipuaskan dengan beragam kuliner khas.
Salah satu kuliner khas tersebut adalah cabuk rambak.
Cabuk rambak merupakan merupakan sebuah makanan yang terdiri dari ketupat yang diiris tipis-tipis.
Ketupat tersebut disiram saus wijen dan dilengkapi beberapa potong karak.
Karak sendiri adalah kerupuk yang terbuat dari nasi.
Dilansir dari buku Kuliner Tradisional Solo yang Mulai Langka karya Dwaud Achroni, bahwa untuk membuat makanan ini harus membutuhkan kesabaran.
Pasalnya, proses pembuatan ketupat bisa menghabiskan waktu yang lama.
Proses masak yang lama ini diperlukan guna mendapatkan kualitas ketupat yang kenyal.
Makanan ini sulit bahkan mungkin tak bisa ditemukan di kota lain.
Di kota Solo sendiri kuliner cabuk rambak juga sudah mulai langka.
Beda dengan makanan lain, kamu hanya bisa menemukan cabuk rambak di tempat-tempat tertentu.
Kamu bisa menemukan cabuk rambak ini di pasar tradisional, seperti Pasar Klewer, Pasar Gedhe dan pasar yang lainnya.
Biasanya, cabuk rambak ini adalah ibu-ibu yang sudah memasuki usia senja.
Mereka berjualan dengan menggendong dagangannya. Dan berpindah-pindah tempat jualan.
Cabuk rambak sebenarnya punya cita rasa gurih dan sedap yang didapat dari perpaduan saus yang berbahan wijen, kelapa parut sangrai, dan aneka bumbu.
Cita rasa cabuk rambak bisa membuat siapapun ketagihan untuk menikmati makanan ini.
Untuk menyajikan makanan ini diperlukan ketrampilan khusus dan kesabaran.
Pasalnya, seorang penjual harus bisa mengiris ketupat menjadi irisan tipis-tipis.
Selain itu, penjual cabuk rambak ini harus bisa membuat pincuk daun pisang.
Bagi yang belum terbiasa, membuat pincuk pasti akan kelihatan susah.
Soalnya, daun pisang sering sobek ketika dilipat.
Selain itu juga, lidi yang digunakan untuk membuat pincuk patah saat ditusukkan pada lipatan pincuk.
Maka dari itu, jika pergi ke Solo, cabuk rambak kiranya menjadi kuliner yang wajib untuk dicoba. (mg8/rei)