SOLOBALAPAN.COM - Ketika mendengar nama Balung Kethek, pasti terlintas suatu pertanyaan di kepala apakah makanan satu ini benar-benar terbuat dari tulang monyet?
Penamaan “Balung Kethek” diambil dari kata bahasa Jawa. “Balung” memiliki arti tulang sedangkan “Kethek” artinya monyet. Sehingga “Balung Kethek” berarti tulang monyet.
Padahal, Balung Kethek hanya sebuah kiasan yang menggambarkan bentuk dan tekstur yang keras mirip dengan tulang.
Sehingga ketika orang menggigitnya akan menimbulkan ekspresi nyengir seperti monyet.
Dilansir dari Javanologi Uns, penamaannya yang unik ini dijelaskan oleh seorang sejarawan muda di Kota Solo, Heri Priyatmoko.
"Orang Jawa itu dalam menamakan sesuatu pasti mengacu atau mengumpamakan dengan hal-hal yang dilihat," ucapnya.
Balung Kethek merupakan sebuah makanan khas Jawa, tepatnya jajanan unik satu ini berasal dari Kota Solo.
Dahulu, Balung Kethek biasanya dibuat dari sisa-sisa rebusan ketela yang keras dan rasanya dominan manis.
Cara pembuatannya pun cukup mudah, hanya menggunakan singkong dan beberapa bahan lain seperti gula, garam, dan bumbu penambah cita rasa sesuai selera.
Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, jajanan satu ini sangat akrab di kalangan nenek moyang kita. Bahkan di masa sekarang pun masih banyak ditemui.
Namun, tidak banyak kalangan muda yang menyukainya dikarenakan teksturnya yang keras. (Mg4/nda)
Editor : Nindia Aprilia