SOLOBALAPAN.COM - Menggali potensi daerah memang bukanlah hal yang mudah. Apalagi pada daerah yang rawan kekeringan. Jika biasanya daerah lain memanfaatkan potensi alam seperti sungai, danau, atau laut maka kawasan ini tidak bisa dengan hal tersebut.
Seperti yang ada di Dukuh, Kecamatan Tangen, Sragen. Pihak Pemerintah Desa (Pemdes) tengah mengupayakan untuk meningkatkan potensi daerah meskipun desa mereka rawan kekeringan.
Hal tersebut dilakukan dengan pengembangan kolam renang yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Wilayah Desa Dukuh dikenal langganan kekeringan saat musim kemarau tiba. Tiap tahun pemdes setempat rutin meminta bantuan dropping air bersih. Bahkan pada saat tertentu, warga membuat belik di tengah sungai yang mengering demi mendapatkan air bersih.
Menariknya di tengah ancaman krisis air bersih, Pemdes Dukuh berani mengembangkan potensi wisata kolam renang. Ide ini berawal dari kepemimpinan Kepala Desa (Kades) Dukuh Slamet Widodo.
“Saya menjabat kades sejak 2019. Sebelumnya sudah ada proyek kolam renang, tapi tidak optimal karena membutuhkan banyak sarpras penunjang,” kata Slamet, kemarin (5/1).
Daripada tidak terurus, proyek kolam renang di atas tanah kas desa alias bengkok ini dilanjutkan. Kemudian dibuat tiga kolam untuk anak-anak dan dewasa. Alhasil sejak Januari 2023 lalu, kolam renang ini selalu ramai pengunjung. Bahkan menjadi destinasi favorit.
Maklum di Kecamatan Tangen belum ada wahan kolam renang. Apalagi tiket masuknya sangat terjangkau. Hanya Rp 5 ribu per orang. Tidak terlalu memberatkan bagi warga yang tinggal di sisi utara Sungai Bengawan Solo ini.
“Butuh fasilitas pendukung seperti mesin, penyaring, perlengkapan kolam, dan banyak item lainnya. Kalau siap operasional seperti sekarang, biayanya lebih dari Rp 500 juta. Pengelolaannya dari BUMDes,” imbuh Slamet.
Setahun berjalan, kolam renang ini menyumbang pendapatan asli desa (PADes) yang lumayan besar. Kisarannya mencapai Rp 50 juta.
“Tapi itu pemasukan kotor. Belum dipotong biaya lain-lain seperti perawatan, pengembangan BUMDes, dan lainnya,” beber Slamet.
Ditanya sumber air kolam renang tersebut, Slamet mengaku dari dua buah sumur dalam. Meskipun debit airnya kurang melimpah, namun mencukupi untuk kebutuhan tiga kolam di sana.
“Konsepnya seperti air mancur yang tidak pernah kering selama musim kemarau. Airnya mengalir dari pancuran di dekat kolam,” urai Slamet.
Meski nyaris tanpa pesaing, namun butuh usaha lebih keras agar kolam renang ini mampu menarik minat masyarakat.
Mengingat BUMDes setempat belum memiliki akun media sosial (medsos) untuk promosi. Beruntung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen membuat undian hadiah Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di wilayah utara Bengawan. Alhasil secara tidak langsung ikut mengenalkan potensi BUMDes Dukuh.
Slamet juga memaparkan, terkait air bersih mereka sudah mendapatkan jaringan dari PDAM yang siap untuk lakukan dropping air bersih. (din/fer/nda)