Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Bentuk Akulturasi Budaya Tionghoa dalam Semangkuk Sup Timlo Solo

Nindia Aprilia • Selasa, 2 Januari 2024 | 17:10 WIB
Timlo yang disajikan dalam 2 wadah, sepiring nasi dan semangkuk sup timlo.
Timlo yang disajikan dalam 2 wadah, sepiring nasi dan semangkuk sup timlo.

SOLOBALAPAN.COM - Kota solo merupakan salah satu kota yang memiliki beragam etnik, budaya, hingga nilai norma kehidupan. Maka dari itu, Solo memiliki wisata dan kuliner yang sudah ada sebagai peninggalan terdahulu.

Semakin berkembangnya wisata dan kuliner di kota Solo banyak bermunculan kuliner baru yang memiliki cita rasa khas dari setiap racikannya.

Salah satunya adalah sup timlo solo. Timlo solo merupakan kuliner berkuah yang memiliki ciri khas isiannya yaitu sosis solo, telur pindang, dan irisan rempelo ati ayam.

Dalam buku Timlo dan Tionghoa Solo karya Puja Sukmawati dituliskan bahwa sup timlo ini terinspirasi dari makanan Tionghoa yang bernama sup kimlo.

Timlo sendiri merupakan hidangan berkuah yang berasal dari Cina. Hidangan ini dapat masuk ke Indonesia karena dibawa oleh para saudagar saat itu.

Kemudian Timlo populer di kalangan Tionghoa Solo dan kerap dikonsumsi oleh mereka.

Menurut sejarah, seorang wisatawan asal Belanda mengungkapkan pengalaman kulinernya di Pulau Jawa pada tahun 1800-an. Ketika plesiran, ia tak sengaja menemukan seorang penjual makanan keliling yang menjual makanan berkuah dengan menggunakan pikulan.

Makanan tersebut didalamnya berisikan daging babi, soun, jamur kuping, dan kentang. Namun karena mayoritas masyarakat solo merupakan orang muslim, makanya daging babi itu diganti dengan irisan rempelo ati ayam dan ditambahi dengan irisan sosis yang begitu melekat di masyarakat Solo.

Pada awal abad ke-16 orang Tionghoa mulai berdatangan masuk ke Indonesia untuk berdagang. Mereka bermukim di kota-kota besar terutama Batavia yang sekarang bernama Jakarta.

Kemudian pada tahun 1740-an mereka berseteru dengan VOC dan kalah, seketika mereka dipukul mundur dan akhirnya orang Tionghoa pindah ke berbagai kota salah satunya di Solo.

Di akhir masa Kerajaan pajang, orang Tionghoa sudah ada namun saat itu mereka masih menjadi tentara bayaran.

Ketika masa Keraton Surakarta pakubuwono II dan Patih notokusumo memberikan apresiasi kepada masyarakat tionghoa karena berhasil menata Kartasura pada saat itu Dan kemudian mereka juga ikut pindah ketika Keraton pindah.

Ketika munculnya Belanda dan terjadi politik sekresi yang mana mereka dipindahkan ke kampung sudiroprajan yang letaknya tak jauh dari benteng vastenburg hingga saat ini.

Orang Tionghoa merupakan partner dagang Belanda. Namun, apabila urusan dapur mereka tetap mempertahankan kuliner yang mereka bawa dari Cina. Maka dari itu terciptalah kuliner yang saat ini merupakan hasil dari akulturasi budaya Tionghoa dan Solo.

Adanya akulturasi dari makanan ini berhasil menciptakan rasa baru bagi lidah Tionghoa. Karena mereka tidak mengenal masakan dengan berbagai bumbu rempah-rempah mereka hanya mengenal bawang putih, cabai, dan merica yang biasa mereka sebut dengan rempah-rempah dan dipakai untuk campuran memasak.

Saat ini, telah banyak warung makan yang menjual timlo dan mudah didapatkan di kota Solo. Kurang afdol rasanya jika berkunjung ke kota Solo namun tidak mencicipi kuliner satu ini. Jika berkunjung ke kota Solo jangan lupa singgah di warung sup timlo terdekat. (Mg6/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#khas #timlo #makanan #solo