SOLOBALAPAN.COM - Ada wisata edukasi bertema pertanian dan peternakan Desa Keposong, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali yang menyajikan pengalaman unik dan menarik.
Wisata tersebut diketahui dikelola para penyandang disabilitas dalam komunitas bernama Pandawa Patra.
Saat Jawa Pos Radar Solo menyambangi lokasi tersebut, anggota Pandawa Patra penyandang disabilitas daksa, Suyadi, 57, tampak sibuk.
Dia mengenakan baju hijau dengan logo Pandawa Patra dan tengah sibuk menerima kunjungan anak-anak SDN 2 Keposong.
Belasan anak itu diajak masuk ke green house yang berisi tanaman kangkung dan sawi. Senyumnya mengembang melihat antusias anak-anak.
Sejak setahun terakhir, area lahan yang awalnya hanya menjadi tempat pembibitan menjadi tambah ramai.
Setelah dari green house hidroponik, mereka dibawa ke peternakan lebah tlanceng yang berada di samping rumah.
Berlanjut ke peternakan dan penetasan ayam joper alias jawa super di sisi belakang hingga sampailah di kandang sapi dan kambing yang memanjang.
Mereka berusaha menggapai anakan kambing yang mungil. Beradu riuh meski cuaca cukup terik.
Setelah lelah berkeliling, anak-anak diberikan jus mangga.
"Senang, bisa main sama kambing," celetuk siswi kelas 2 SDN 2 Keposong, Silvi.
"Ini sudah kali ketiga saya ajak anak-anak ke sini (Pandawa Patra, Red)."
"Jadi anak-anak mendapat pendampingan dan melihat langsung cara menanam hidroponik bagaimana.
"Ini kan selaras dengan program pendidikan Pancasila," ujar guru SDN 2 Keposong Sudarsini di sela mendampingi muridnya.
Ya, lahan seluas 1.400 meter persegi ini menjadi ladang nafkah bagi anggota Pandawa Patra.
Di halaman sisi barat, berdiri green house untuk sayuran hidroponik.
Di sekelilingnya, tanaman dalam pot seperti sayur terong, brokoli, seledri dan lainnya tumbuh subur.
Sedangkan di sisi timur, area pembibitan tanaman tumbuh memanjang hingga belakang.
Ada juga gazebo untuk tempat mengaso. Di pojok depan rumah, terdapat dapur biogas.
Soal pupuk, tim Pandawa Patra tak lagi risau. Mereka mengolah pupuk kandang dari sapi dan kambing.
Hasilnya, tanaman tumbuh subur. Ini sudah kali kedua mereka memanen sayuran hidroponik.
Mereka kemas lebih menarik dan siap mengantar ke rumah pelanggan. Mereka bisa mendapat Rp 5 ribu per bungkus.
"Awalnya, kami (teman disabilitas, Red) mendapatkan motivasi dari ketua kami, Haryono untuk membuat kelompok dan kegiatan."
"Awalnya membuat bibit untuk menyediakan kebutuhan petani lokal. Seperti cabai, terong, dan papaya."
"Untuk tanaman kerasnya seperti alpukat, duren, jambu. Bibit-bibit itu disetek. Pelanggan baru orang-orang sekitar sini," ungkap teman disabilitas, Suyadi.
Penyandang disabilitas Kecamatan Tamansari anggotanya ada puluhan orang.
Mereka diberdayakan dan membuat kelompok tani Tunggak Semi.
Ada 25 anggota poktan ini, dan banyak juga difabel yang tidak terdata meski ikut membantu mereka.
Selama setahun berjalan, poktan itu menggunakan halaman dan pekarangan rumah ketua poktan Haryono. Poktan ini fokus pada penyediaan bibit dan tanaman buah.
Pihaknya mendapatkan bantuan tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) dari BUMN di Kota Susu.
Bantuan diwujudkan dalam bentuk pembangunan rumah hidroponik dan biogas, lalu diresmikan pada 2022.
Nama poktan beralih, dari Tunggak Semi menjadi Pandawa Patra.
Selain didukung dan pendampingan pengembangan poktan, mereka juga mendapat pelatihan di BPDAS Solo terkait pembibitan tanaman. Seperti cara menyetek dan okulasi.
Penjualan bibit buah termasuk menjadi favorit, terutama tanaman alpukatnya.
Sebulan, di musim kemarau ini, bisa terjual hingga puluhan batang.
Harganya berkisar Rp 45 ribu - Rp 50 ribu. Setelah berhasil dalam pertanian, Pandawa Patra kerap menerima kunjungan.
Tiap ada kunjungan, anggota yang piket juga digilir. Mereka ikut menjadi pendamping dan ikut menyirami tanaman. (rgl/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro