Tembiluk, Kuliner Unik Kalimantan yang Mirip Cacing tetapi Ternyata Kerabat Kerang

tim solobalapan • Dipublikasikan Sabtu, 7 November 2026 | 13:49 WIB
Tembiluk, kerang mirip cacing yang dikonsumsi masyarakat Kalimantan(Instagram @clayedukasi).
Tembiluk, kerang mirip cacing yang dikonsumsi masyarakat Kalimantan (Instagram @clayedukasi).

SOLOBALAPAN.COM-Sekilas, bentuknya mungkin membuat sebagian orang merasa geli. Tubuhnya panjang, berwarna putih pucat, dan memiliki tekstur berlendir menyerupai cacing. Namun, siapa sangka hewan yang dikenal dengan nama tembiluk ini justru menjadi salah satu kuliner tradisional masyarakat di Kalimantan Utara.

Tembiluk merupakan bahan pangan unik yang berasal dari kawasan perairan dan hutan mangrove. Meski sering disebut cacing kayu, hewan ini sebenarnya bukan termasuk kelompok cacing, melainkan moluska yang masih berkerabat dengan kerang. Keunikan bentuk, habitat, hingga cara mengonsumsinya menjadikan tembiluk sebagai salah satu kekayaan kuliner Nusantara yang menarik untuk dikenal.

Tembiluk dikenal sebagai hewan penggerek kayu atau shipworm. Salah satu jenis yang ditemukan di Indonesia memiliki nama ilmiah Bactronophorus thoracites dan termasuk dalam kelompok moluska bivalvia dari keluarga Teredinidae.

Baca Juga: Sate Lalat dari Daging Lalat? Kuliner Khas Madura yang Bikin Penasaran karena Namanya

Berbeda dengan kerang pada umumnya yang memiliki cangkang keras dan tubuh membulat, tembiluk mempunyai tubuh memanjang, lunak, serta berwarna putih pucat. Cangkangnya yang berukuran kecil berada di bagian depan tubuh dan digunakan untuk membantu menggerek kayu.

Hewan ini hidup di dalam batang kayu yang terendam air, terutama kayu lapuk di kawasan mangrove dan perairan payau. Tembiluk membuat lubang atau terowongan di dalam kayu sebagai tempat berlindung sekaligus memperoleh sumber makanan.

Menariknya, tembiluk memiliki kemampuan memanfaatkan selulosa dari kayu dengan bantuan mikroorganisme yang hidup di dalam tubuhnya. Kemampuan inilah yang membuatnya berbeda dari kebanyakan hewan laut lainnya.

Baca Juga: Namanya Bikin Penasaran! Kue Kentut, Jajanan Tradisional Khas Bangka dengan Rasa Manis dan Gurih

Menjadi Kuliner Tradisional Masyarakat Kalimantan Utara

Tembiluk telah dikenal sebagai bahan pangan tradisional masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Utara, khususnya masyarakat Tidung dan Dayak Bulusu. Di kawasan Sembakung dan Kabupaten Tana Tidung, hewan ini menjadi salah satu kuliner lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi masyarakat setempat, tembiluk bukan sekadar makanan dengan bentuk yang tidak biasa. Keberadaannya juga berkaitan erat dengan lingkungan sungai dan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan hasil alam di sekitarnya.

Baca Juga: Selain Carang Gesing, Ini 5 Kue Tradisional Bungkus Daun Pisang yang Gurih Manis!

Salah satu daerah yang dikenal dengan kuliner tembiluk adalah Desa Seputuk, Kabupaten Tana Tidung. Bahkan, tembiluk diperkenalkan sebagai salah satu daya tarik kuliner di desa wisata tersebut.

Tradisi Mencari Tembiluk di Dalam Batang Kayu

Salah satu hal menarik dari tembiluk adalah cara mendapatkannya. Hewan ini tidak ditangkap menggunakan jaring seperti ikan pada umumnya, melainkan dicari dengan membelah batang kayu yang telah lama terendam di dalam air.

Masyarakat biasanya mencari kayu yang diperkirakan menjadi tempat hidup tembiluk. Kayu tersebut kemudian diangkat dari sungai dan dibelah menggunakan kapak atau alat pemotong kayu hingga bagian dalamnya terlihat.

Baca Juga: Kenapa Disebut Kue Cum-Cum? Jajanan Manis Berbentuk Kerucut yang Diisi Vla

Tradisi mencari tembiluk juga memiliki nilai kebersamaan. Masyarakat Suku Tidung, misalnya, mengenal kegiatan mencari tembiluk secara beramai-ramai ketika musim kemarau tiba. Saat permukaan air sungai mulai surut, warga lebih mudah menemukan dan mengangkat kayu yang menjadi tempat hidup hewan tersebut.

Bagaimana Rasa Tembiluk dan Cara Menyantapnya?

Bagi orang yang belum pernah mencobanya, penampilan tembiluk mungkin menjadi tantangan tersendiri. Namun, bagi masyarakat yang sudah terbiasa, hewan ini merupakan bahan pangan yang memiliki cita rasa khas.

Baca Juga: Jarang Diketahui, Ini Manfaat dan Berbagai Macam Olahan Kuliner Berbahan Dasar Jantung Pisang

Tembiluk dikenal memiliki tekstur lunak, licin, dan sedikit kenyal. Beberapa orang menggambarkan rasanya menyerupai tiram atau kerang dengan aroma khas perairan dan kayu tempat hidupnya.

Dalam penyajiannya, tembiluk dapat dikonsumsi secara langsung oleh masyarakat setempat atau diolah menjadi hidangan. Salah satu cara penyajian yang dikenal adalah menambahkan perasan jeruk nipis, cabai rawit, dan sedikit garam atau penyedap rasa.

Baca Juga: Hawug-Hawug, Jajanan Jadul yang Kenyal dan Manis yang Jarang Dijumpai Saat Ini

Kandungan Nutrisi Tembiluk

Selain keunikannya sebagai bahan pangan, tembiluk juga menarik perhatian karena kandungan nutrisinya. Sejumlah publikasi menyebutkan bahwa hewan ini mengandung protein, karbohidrat, lemak, serta mineral.

Namun, kandungan gizinya dapat berbeda bergantung pada jenis tembiluk, habitat, dan metode pengujian. Oleh karena itu, tembiluk sebaiknya dipandang sebagai salah satu sumber pangan lokal, bukan sebagai makanan yang terbukti dapat menyembuhkan penyakit.

Meskipun terdapat masyarakat yang terbiasa mengonsumsi tembiluk secara mentah, kebiasaan tersebut tidak berarti selalu aman untuk semua orang. Tembiluk berasal dari lingkungan perairan dan kayu yang terendam.

Baca Juga: Nopia, Kue Unik Khas Banyumas yang Dipanggang Menempel di Dinding Tungku Tanah Liat

Kondisi habitat yang tidak bersih berpotensi menyebabkan kontaminasi mikroorganisme maupun zat pencemar. Untuk mengurangi risiko, tembiluk sebaiknya diperoleh dari sumber perairan yang diketahui bersih dan tidak tercemar, dibersihkan dengan benar, serta dimasak hingga matang. (Carrieolis Ratu Lathiifu)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Jadesta Kementerian Pariwisata
carrieolis ratu Kuliner Unik Kalimantan Utara Tembiluk warisan turun temurun