Mirip Bolu Kukus, Ini Fakta Kue Moho Khas Solo yang Simpan Filosofi Keberuntungan

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:02 WIB
Kue moho, jajanan tradisional dengan bentuk merekah dan makna keberuntungan.
Kue moho, jajanan tradisional berbentuk merekah dan mempunyai makna keberuntungan.

SOLOBALAPAN.COM - Kalau dilihat sekilas, kue moho memang mirip bolu kukus. Bagian atasnya merekah dengan warna yang cukup mencolok, seperti merah muda atau putih.

Namun, jajanan tradisional ini punya cerita yang lebih menarik dari sekadar bentuk dan rasanya. Kue moho juga menjadi bagian dari pertemuan budaya Tionghoa dan Jawa yang sudah lama berkembang di Solo.

Baca Juga: Karhutla Masih Membara, Keputusan Indonesia Pulangkan Pasukan Bantuan Jepang Tuai Polemik!

Kue moho dikenal sebagai jajanan tradisional di beberapa daerah Jawa Tengah, termasuk Solo, Semarang, dan Pati. Teksturnya cenderung lebih padat dibandingkan dengan bolu kukus, dengan rasa manis dan aroma khas dari adonannya.

Bahan yang digunakan antara lain tepung terigu, gula pasir, tape, dan air. Seiring perkembangannya, kue moho juga dibuat dalam beberapa pilihan warna, seperti merah muda, hijau, dan cokelat. Meski begitu, warna merah atau merah muda dan putih masih sering dikaitkan dengan tampilan kue moho tradisional.

Kue moho memiliki hubungan dengan huat kueh, yaitu kue kukus dalam tradisi Tionghoa yang biasa disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek. Di Solo, jajanan ini berkembang di tengah masyarakat Tionghoa, termasuk kelompok Hokkian yang telah lama menetap di kota tersebut.

Baca Juga: Rumah SpongeBob Berbentuk Nanas di Dasar Laut, Bisakah Tanaman Nanas Bertahan Hidup di Laut?

Kawasan Sudiroprajan atau Balong, yang dikenal sebagai salah satu kawasan Pecinan di Solo, menjadi tempat berkembangnya pembuatan kue moho secara turun-temurun. Pada 1960-an, kawasan ini disebut sebagai salah satu pemasok kue moho untuk pedagang jajanan di pasar tradisional Solo.

Seiring waktu, kue moho tidak hanya dikenal di lingkungan masyarakat Tionghoa. Jajanan ini juga mulai dinikmati oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Perkembangan usaha para pembuatnya ikut menjaga keberadaan kue moho hingga menjadi bagian dari kuliner tradisional Solo.

Baca Juga: Jangan Disepelekan, Ini 5 Kebiasaan Anak Kos yang Bisa Bikin Tagihan Listrik Membengkak

Makna Filosofi Kue Moho

Salah satu ciri khas kue moho adalah bagian atasnya yang merekah setelah dikukus. Bentuk tersebut sering dimaknai sebagai lambang rezeki yang melimpah dan harapan agar kehidupan terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Warna merah atau merah muda juga memiliki arti tersendiri. Dalam tradisi Tionghoa, warna merah kerap dikaitkan dengan kebahagiaan, keberuntungan, dan kemakmuran. Karena itu, kue moho dengan warna tersebut sering dikaitkan dengan harapan baik, terutama ketika disajikan dalam perayaan tertentu.

Meski sekarang tersedia dalam berbagai warna, tampilan merah atau merah muda dan putih masih menjadi salah satu ciri yang melekat pada kue moho tradisional.

Baca Juga: Ratusan Warga Tawangmangu-Matesih Tolak Saluran Baru PUDAM Tirta Lawu, Irigasi Jadi Sorotan

Keberadaan kue moho juga memperlihatkan bagaimana makanan bisa menjadi bagian dari pertemuan budaya. Jajanan yang berakar dari tradisi kuliner Tionghoa ini berkembang di Solo dan kemudian dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.

Kebiasaan membuat kue moho dari generasi ke generasi turut menjaga keberadaannya sampai sekarang. Karena itu, kue moho tidak hanya dikenal sebagai jajanan jadul, tetapi juga kerap dikaitkan dengan kerukunan masyarakat Tionghoa dan Jawa melalui tradisi kuliner yang dinikmati bersama. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com
hanifatuz zahra jajanan tadisional kue moho kuliner Solo jajanan tradisional