Candi Gedong Songo: Wisata Alam dan Sejarah Jejak Peradaban Hindu Jawa Kuno di Lereng Gunung Ungaran

Adi Pras • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 18:06 WIB
Wisata Alam dan Sejarah Candi Gedong Songo(instagram @visit.candigedongsongo)
Wisata Alam dan Sejarah Candi Gedong Songo. (IG @visit.candigedongsongo)

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah udara sejuk lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berdiri kompleks percandian yang menyimpan jejak panjang peradaban Jawa Kuno.

Candi Gedong Songo tidak hanya menawarkan pemandangan pegunungan, tetapi juga menjadi salah satu peninggalan penting yang memperlihatkan perkembangan kebudayaan Hindu di Jawa Tengah.

Kompleks candi ini berada di wilayah Desa Candi, Kecamatan Bandungan. Letaknya sekitar 30 kilometer dari Kota Semarang dan berada di kawasan pegunungan dengan suasana yang sejuk.

Peninggalan dari Masa Jawa Kuno

Candi Gedong Songo diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-9 Masehi dan dikaitkan dengan peninggalan Dinasti Sanjaya. Kompleks ini pertama kali dicatat atau ditemukan kembali oleh Thomas Stamford Raffles pada 1804.

Baca Juga: Rawa Pening, Surga Wisata di Semarang yang Terus Bersolek

Keberadaan candi di kawasan pegunungan menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan. Pada masa Jawa Kuno, gunung memiliki kedudukan penting dalam kehidupan keagamaan. Gunung kerap dipandang sebagai ruang sakral yang berkaitan dengan dunia para dewa.

Karena itu, pembangunan bangunan suci di lereng Gunung Ungaran dapat dilihat dalam konteks hubungan antara kepercayaan, alam, dan kehidupan spiritual masyarakat Jawa Kuno.

Dari Mana Nama Gedong Songo Berasal?

Nama Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa. Kata gedong berarti bangunan atau rumah, sedangkan songo berarti sembilan. Secara harfiah, nama tersebut dapat dimaknai sebagai sembilan bangunan.

Baca Juga: Potensi Panas Bumi 55 MW Diincar di Gunung Ungaran, PLN Jadwalkan Eksplorasi 2028–2029

Namun, kondisi kompleks yang dapat dilihat sekarang tidak menunjukkan sembilan bangunan candi yang masih utuh. Candi-candi tersebut tersebar di beberapa lokasi di lereng Gunung Ungaran.

Jarak antarkelompok candi juga cukup berjauhan sehingga perjalanan dari satu kelompok ke kelompok lainnya menjadi bagian dari pengalaman mengunjungi kawasan tersebut.

Hal tersebut membuat Gedong Songo memiliki karakter yang berbeda dari kompleks percandian yang berada di dataran rendah. Untuk menyusuri kawasan ini, pengunjung harus melewati jalur yang menanjak mengikuti kontur lereng.

Baca Juga: Menjelajah Museum Kereta Api Ambarawa, Menikmati Nostalgia Kereta Api Era Kolonial

Candi Gedong Songo memperlihatkan karakter arsitektur Hindu Jawa Kuno. Keberadaan sejumlah arca di kawasan ini juga memperkuat identitas keagamaannya.

Beberapa arca yang dikenal dari kompleks Gedong Songo antara lain Siwa Mahakala, Siwa Mahaguru, dan Ganesha.

Arca-arca tersebut memberikan gambaran mengenai kepercayaan masyarakat yang membangun dan menggunakan kompleks percandian ini pada masa lalu.

Kehadiran unsur-unsur tersebut membuat Candi Gedong Songo bukan sekadar bangunan batu yang berdiri di atas gunung. Setiap bagian dari kompleksnya berkaitan dengan kehidupan keagamaan masyarakat pada zamannya.

Candi dan Lanskap Gunung Ungaran

Salah satu keunikan utama Gedong Songo adalah hubungan yang sangat kuat antara bangunan candi dengan lingkungan alam di sekitarnya.

Baca Juga: Tari Gado-Gado Semarangan: Nama yang Unik Cerminan Pergaulan dan Warna Budaya Kota Semarang

Candi-candi tersebut berada di lereng Gunung Ungaran dengan pepohonan dan hamparan perbukitan sebagai latar. Udara pegunungan yang sejuk membuat perjalanan menyusuri kompleks candi terasa berbeda dari kunjungan ke situs sejarah yang berada di tengah kota.

Lanskap tersebut juga membuat Gedong Songo menjadi perpaduan antara wisata sejarah dan wisata alam.

Selain mengunjungi candi, wisatawan dapat menikmati pemandangan pegunungan, kawasan perkemahan, pemandian air panas, serta layanan wisata berkuda yang tersedia di kawasan tersebut.

Perjalanan Menuju Candi Menjadi Bagian dari Pengalaman

Mengunjungi Gedong Songo bukan hanya tentang mencapai bangunan candi. Perjalanan dari satu kelompok candi menuju kelompok lainnya membuat pengunjung dapat merasakan karakter khas kawasan pegunungan.

Baca Juga: Dawet Lelica, Inovasi Unik Warga Semarang Ubah Ikan Lele Jadi Minuman Manis

Jalur yang menanjak membuat pengunjung membutuhkan stamina. Bagi wisatawan yang tidak ingin berjalan sepanjang jalur, tersedia pula jasa kuda wisata.

Dengan kondisi tersebut, perjalanan menuju candi dapat dipandang sebagai bagian dari pengalaman wisata sejarah.

Pengunjung tidak langsung berhadapan dengan seluruh kompleks dalam satu tempat, tetapi harus menyusuri lereng dan menemukan kelompok-kelompok candi secara bertahap.

Penemuan kembali Gedong Songo pada awal abad ke-19 menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah penelitian peninggalan Jawa Kuno.

Setelah dicatat oleh Raffles pada 1804, kompleks ini kemudian menjadi bagian dari perhatian para peneliti dan pelestari peninggalan purbakala.

Baca Juga: Tari Prajuritan Kabupaten Semarang: Jejak Semangat Prajurit dalam Gerak Tari Tradisional

Keberadaan situs tersebut membantu memperlihatkan bahwa perkembangan kebudayaan Hindu di Jawa Tengah tidak hanya terpusat pada kawasan seperti Prambanan.

Lereng Gunung Ungaran juga menyimpan peninggalan yang memperlihatkan perkembangan arsitektur dan kehidupan keagamaan masyarakat Jawa pada masa lampau.

Saat ini Candi Gedong Songo dikenal luas sebagai destinasi wisata sejarah dan alam. Namun, nilai pentingnya tidak berhenti pada fungsi pariwisata.

Baca Juga: Keunikan Batik Identitas Budaya Khas Kota Semarang, Warak Ngendog sebagai Ikon Utama

Bangunan-bangunan candi menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa pada masa lalu telah memiliki kemampuan dalam membangun kompleks keagamaan di lingkungan pegunungan.

Arca dan unsur arsitekturnya juga menjadi sumber penting untuk memahami kehidupan keagamaan dan kebudayaan pada masa Jawa Kuno.

Karena itu, berkunjung ke Gedong Songo seharusnya tidak hanya dipahami sebagai kegiatan menikmati pemandangan.

Di balik batu-batu candi yang terlihat sederhana, tersimpan cerita mengenai kepercayaan, teknologi, seni, dan kehidupan masyarakat Jawa berabad-abad lalu. (carrieolis ratu lathiifu)

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
candi gedongsongo kabupaten semarang gunung ungaran carrieolis ratu hindu jawa kuno