SOLOBALAPAN.COM - Tempe yang sudah terlalu matang biasanya dianggap kurang menarik untuk dimakan. Namun, di Malang, Jawa Timur, tempe seperti ini justru bisa diolah menjadi mendol. Makanan berbentuk lonjong tersebut dikenal dengan rasa gurih dan aroma rempah yang khas.
Mendol menggunakan tempe semangit, yaitu tempe yang mengalami fermentasi lebih lanjut sehingga aroma dan rasanya menjadi lebih kuat. Tempe kemudian dihancurkan, dicampur dengan bumbu, dibentuk, lalu digoreng hingga bagian luarnya kecokelatan.
Baca Juga: “Bercerai Kita Kawin Lagi”, Kontras Respons Pejabat Indonesia dan Tokoh Asing soal Karhutla
Ada cerita tutur yang menghubungkan mendol dengan masa kolonial Belanda. Dalam cerita tersebut, masyarakat disebut harus memanfaatkan bahan pangan yang terbatas, termasuk mengolah kembali tempe yang sudah terlalu matang agar tidak terbuang. Meski belum bisa dipastikan sebagai catatan sejarah, kisah ini menggambarkan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan bahan makanan yang tersedia.
Bumbu yang digunakan untuk membuat mendol cukup beragam, mulai dari bawang putih, ketumbar, kencur, hingga daun jeruk. Kencur memberikan aroma rempah yang kuat, sedangkan daun jeruk menambah kesegaran. Perpaduan tersebut membuat rasa tempe menjadi lebih kaya.
Baca Juga: Dari Kelereng hingga Gasing, Ini 5 Permainan di Upin & Ipin yang Bisa Dicoba Saat Hari Minggu
Setelah dicampur dengan bumbu, adonan tempe dikepal menggunakan tangan hingga menyatu dan berbentuk lonjong. Adonan kemudian digoreng sampai matang. Proses ini menjadi salah satu ciri mendol karena tempe yang awalnya berupa butiran terpisah dibentuk menjadi satu kesatuan.
Mendol biasanya disajikan sebagai lauk pendamping nasi atau berbagai hidangan khas Jawa Timur. Bahan dasarnya memang sederhana, tetapi cara pengolahan dan perpaduan bumbunya membuat mendol memiliki cita rasa yang berbeda dari olahan tempe lainnya.
Di balik proses pembuatannya, mendol juga menunjukkan kebiasaan mengolah bahan pangan agar tidak terbuang. Hal ini sejalan dengan prinsip mengurangi sampah makanan atau food waste. Bahan yang masih layak dikonsumsi bisa diolah kembali menjadi hidangan lain, sehingga pemanfaatannya lebih maksimal.
Namun, tempe semangit tetap harus dibedakan dari tempe yang sudah rusak. Fermentasi lanjutan memang dapat mengubah aroma dan rasa, tetapi tempe yang berlendir, berbau busuk tidak wajar, atau menunjukkan tanda kerusakan sebaiknya tidak digunakan.
Baca Juga: Bukan Cuma untuk Bermain, Board Game Bisa Jadi Peluang Bisnis Kreatif Anak Muda
Kebiasaan tersebut juga bisa menjadi pengingat akan ungkapan Jawa urip iku urup yang mengajarkan bahwa hidup hendaknya memberi manfaat bagi sesama. Ungkapan ini bukan berarti menjadi asal-usul mendol, tetapi bisa digunakan untuk melihat nilai di balik kebiasaan menghargai bahan pangan.
Mendol bukan sekadar tempe yang dicampur bumbu lalu digoreng. Olahan khas Malang ini menunjukkan bagaimana tempe semangit bisa diolah kembali menjadi lauk dengan rasa yang khas.
Cara mengolah mendol juga menunjukkan bahwa tempe yang sudah terlalu matang masih bisa dimanfaatkan menjadi hidangan lain selama kondisinya layak dikonsumsi. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber