Sebelum Gerobaknya Terlihat, Bunyi Uap Kue Putu Sudah Terdengar, Ternyata Ini Keunikannya

tim solobalapan • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:20 WIB
Kue putu yang dimasak menggunakan cetakan bambu dengan isian gula merah dan taburan kelapa parut.
Kue putu yang dimasak menggunakan cetakan bambu dengan isian gula merah dan taburan kelapa parut.

SOLOBALAPAN.COM - Suara siulan dari penjual kue putu mungkin masih diingat oleh sebagian orang. Sebelum gerobaknya terlihat, bunyi dari alat kukusnya terkadang sudah terdengar lebih dulu.

Suara khas ini bukan hanya menjadi penanda bagi pembeli, tetapi juga bagian yang melekat pada jajanan tradisional tersebut.

Kue putu biasanya dibuat dari tepung beras yang diisi gula merah, lalu dimasak menggunakan cetakan bambu. Setelah matang, kue dikeluarkan dan disajikan dengan taburan kelapa parut. Perpaduan rasa manis dan gurih membuat jajanan ini memiliki ciri khas tersendiri.

Baca Juga: Sebelum Jadi Kuliner Khas Bali, Ayam Betutu Ternyata Punya Kaitannya dengan Tradisi Adat

Penjual kue putu biasanya berkeliling menggunakan sepeda atau gerobak yang membawa peralatan untuk memasak. Saat kue dikukus, uap yang keluar menghasilkan suara siulan khas yang kerap menjadi tanda kedatangan penjual di sekitar rumah warga.

Di balik cara memasaknya yang sederhana, kue putu juga memiliki jejak sejarah. Nama puthu tercatat dalam naskah sastra Jawa Serat Centhini yang ditulis pada 1814. Dalam naskah tersebut, puthu disebut sebagai salah satu hidangan. Catatan ini menunjukkan bahwa puthu telah dikenal dalam tradisi kuliner Jawa sejak lama.

Baca Juga: Yusril Ihza Mahendra Enggan Komentari Putusan MK Ijazah Gibran: Pak Wakil Presiden Itu Atasan Saya!

Ada cerita yang menyebut kue putu memiliki kaitan dengan kudapan dari Tiongkok pada masa Dinasti Ming (1368–1644). Kudapan yang disebut Xian Roe Xiao Long itu dikabarkan berbahan tepung beras dengan isian kacang hijau. 

Selain itu, beredar cerita bahwa kata putu merupakan singkatan dari “Pencari Uang Tenaga Uap”. Meski cukup populer, belum ada bukti kuat yang memastikan bahwa nama kue ini berasal dari singkatan tersebut.

Bagi sebagian orang, suara siulan kue putu mungkin membawa ingatan pada masa kecil, ketika penjualnya berkeliling dari satu rumah ke rumah lain. Bunyi khas itu menjadi salah satu kenangan sederhana tentang jajanan tradisional yang masih melekat hingga sekarang. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : sastra jawa
hanifatuz zahra jajanan jadul jajanan tadisional nostalgia Kue Putu Bambu