SOLOBALAPAN.COM - Sate maranggi dikenal sebagai salah satu kuliner khas Purwakarta, Jawa Barat. Sate ini dibuat dari potongan daging yang dibumbui rempah, kemudian ditusuk dan dibakar di atas bara api hingga matang.
Di balik rasanya, ada cerita tentang bagaimana sate maranggi mulai dikenal dari Plered.
Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan, sate maranggi berawal dari kebiasaan para pekerja di peternakan domba di Kecamatan Plered. Saat mendapat potongan daging yang tersisa, mereka mencari cara agar daging tersebut tetap bisa diolah dan disantap.
Potongan daging kemudian dibuat lebih kecil dan diberi bumbu dari campuran rempah serta sedikit gula aren. Setelah dibumbui, daging ditusuk lalu dibakar di atas bara api. Cara pengolahan tersebut kemudian menjadi awal dari sajian sate yang dikenal masyarakat Plered.
Baca Juga: Buntut Putusan MK Soal Ijazah Gibran, Wakil Ketua DPRD Sukabumi Turunkan Foto Wapres!
Pada awalnya, sate tersebut belum memiliki nama khusus. Nama “Maranggi” kemudian dikaitkan dengan Mak Anggi, seorang penjual sate domba yang disebut berjualan di kawasan Plered.
Dari sebutan “sate Mak Anggi”, nama tersebut kemudian berkembang hingga dikenal sebagai sate maranggi. Cerita ini menjadi salah satu versi yang berkembang mengenai asal nama kuliner tersebut.
Seiring waktu, sate maranggi semakin dikenal dan tidak hanya dijual di Plered. Kuliner ini kemudian menyebar ke sejumlah wilayah Jawa Barat, seperti Cianjur, Sukabumi dan Subang. Perkembangannya membuat sate maranggi kini lebih mudah ditemukan di luar daerah asalnya.
Meski sama-sama dikenal sebagai sate maranggi, penyajian dan racikan bumbunya bisa berbeda di setiap daerah. Namun, proses membumbui daging sebelum dibakar tetap menjadi bagian yang lekat dengan kuliner ini.
Di Purwakarta, Plered masih menjadi salah satu kawasan yang erat dengan keberadaan sate maranggi. Kuliner ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Purwakarta.
Dari olahan daging yang awalnya dibuat untuk memanfaatkan potongan yang tersisa, sate maranggi kemudian berkembang menjadi kuliner yang dikenal luas. Cerita dari Plered pun ikut menjadi bagian dari perjalanan sate maranggi hingga melekat dengan nama Purwakarta.(Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber