Sering ada di soto dan bakmi, ternyata taoge berasal dari tradisi kuliner Tionghoa

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 17:44 WIB
Taoge menjadi pelengkap dalam berbagai makanan Indonesia.(HonestDocs)
Taoge menjadi pelengkap dalam berbagai makanan Indonesia. (HonestDocs)

SOLOBALAPAN.COM - Taoge menjadi salah satu bahan yang cukup sering ditemui dalam makanan sehari-hari. Kecambah kacang hijau ini bisa ditemukan dalam soto, bakso, bakmi, mi ayam, hingga beberapa makanan khas daerah. Karena sudah begitu familiar, asal-usulnya mungkin jarang menjadi perhatian.

Padahal, taoge memiliki hubungan dengan tradisi makanan Tionghoa. Hal tersebut salah satunya terlihat dari nama yang digunakan. Kata taoge atau tauge berkaitan dengan istilah Hokkien tāu-gê, yang digunakan untuk menyebut kecambah kacang.

Baca Juga: Nasib Putra Jokowi Ditentukan Malam Ini! MK Gelar Sidang Putusan Sengketa Syarat Keabsahan Pendidikan Gibran

Kecambah sendiri sudah dikenal masyarakat China sejak zaman kuno. Kacang-kacangan seperti kedelai dan kacang hijau telah lama dikonsumsi, termasuk dengan cara dikecambahkan untuk menghasilkan bahan makanan dengan bentuk dan tekstur yang berbeda.

Kacang hijau juga menjadi salah satu bahan yang sudah lama digunakan dalam makanan masyarakat China. Proses perkecambahan membuat kacang tersebut berubah menjadi kecambah yang kemudian bisa digunakan dalam berbagai hidangan.

Hubungan masyarakat Tionghoa dengan Nusantara yang sudah berlangsung sejak lama ikut membawa berbagai bahan makanan dan kebiasaan memasak. Perdagangan serta perpindahan masyarakat membuat bahan pangan dari China kemudian bertemu dengan makanan dan selera yang berkembang di Indonesia.

Baca Juga: Dua Juara MasterChef Indonesia Akhirnya Menikah, Ini Perjalanan Cinta Stefani Horison dan Jerry Andrean

Dalam proses tersebut, bahan makanan yang dibawa tidak selalu digunakan dengan cara yang sama seperti di tempat asalnya. Masyarakat lokal ikut mengolah dan menyesuaikannya dengan makanan yang sudah dikenal. Taoge kemudian digunakan dalam berbagai hidangan yang sampai sekarang mudah ditemukan.

Soto menjadi salah satu contohnya. Taoge biasanya ditambahkan sebagai pelengkap bersama kuah, daging, mi, atau bahan lainnya. Teksturnya yang renyah juga membuatnya sering digunakan untuk menambah variasi dalam makanan.

Penggunaan taoge juga bisa ditemukan dalam bakmi dan mi ayam. Kecambah biasanya disajikan bersama mi dan berbagai bahan pelengkap lainnya. Sementara dalam bakso, taoge kerap dipadukan dengan mi atau bihun.

Baca Juga: Bukan Mau Mengubah Tradisi, Kenapa Makanan Tradisional Kini Dikemas Lebih Modern?

Contoh lainnya bisa dilihat pada toge goreng khas Bogor. Taoge menjadi bahan utama yang dimasak bersama tahu, mi, lontong, dan kuah berbumbu. Makanan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana bahan dan kebiasaan makan dari budaya yang berbeda dapat berkembang menjadi hidangan khas daerah.

Perjalanan taoge menunjukkan bahwa bahan makanan yang terlihat sederhana ternyata bisa memiliki cerita yang panjang. Dari tradisi pangan China, taoge kemudian digunakan dalam berbagai makanan yang berkembang di Indonesia.

Kini, taoge sudah begitu dekat dengan makanan sehari-hari sehingga asal-usulnya sering terlupakan. Kecambah tersebut telah melebur dengan berbagai hidangan lokal dan menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat Indonesia.

Jadi, ketika menemukan taoge dalam semangkuk soto atau sepiring bakmi, bahan sederhana itu ternyata tidak hanya menambah tekstur makanan. Di baliknya ada cerita tentang bagaimana bahan makanan dari budaya lain bisa diterima, diolah, dan menjadi bagian dari makanan yang kita kenal sekarang. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra fakta kuliner bahan makanan taoge tionghoa