SOLOBALAPAN.COM - Pernah melihat makanan tradisional yang biasanya disajikan sederhana tiba-tiba hadir dengan tampilan berbeda? Jajanan yang dulu mudah ditemukan di pasar kini bisa muncul di restoran dengan penyajian lebih rapi.
Resep lama juga mulai dipadukan dengan bahan, teknik memasak atau bentuk penyajian yang lebih kekinian.
Perubahan tersebut bukan berarti makanan tradisional mulai ditinggalkan. Justru sebaliknya, makanan dengan cerita dan identitas daerah kini semakin mendapat perhatian.
Baca Juga: Siapa Pacar Baru Sabrina Chairunnisa Sekarang? Pamer Kekasih di Boyfriend Day, Ini Sosoknya
Dalam laporan Future Menus 2026 dari Unilever Food Solutions, salah satu tren yang disoroti adalah Culinary Roots. Tren tersebut melihat adanya ketertarikan terhadap identitas lokal, warisan kuliner, bahan daerah dan teknik memasak tradisional yang kemudian diinterpretasikan kembali untuk konsumen masa kini.
Dengan kata lain, makanan tradisional tidak harus selalu tampil persis seperti bentuk aslinya agar tetap dianggap tradisional.
Ada yang mempertahankan bahan utamanya, tetapi mengubah penyajian. Ada yang menggunakan teknik memasak berbeda tanpa menghilangkan karakter rasa. Ada pula yang membawa makanan rumahan atau jajanan kaki lima ke restoran dengan tampilan yang lebih modern.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Makanan selalu mengalami perubahan mengikuti kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Benarkah Ole Romeny Dipaksakan Tampil Lawan Thailand Padahal Sedang Tidak Fit? Ini Kata John Herdman
Ketika kebiasaan makan berubah, cara makanan disajikan juga ikut menyesuaikan. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan rasa, tetapi juga pengalaman ketika menyantap makanan. Tampilan, cerita di balik hidangan, asal bahan hingga cara penyajian dapat menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Hal itu membuat makanan tradisional memiliki peluang untuk menjangkau kelompok konsumen yang lebih luas.
Generasi muda, misalnya, bisa mengenal makanan daerah melalui bentuk yang lebih dekat dengan kebiasaan mereka. Makanan yang sebelumnya hanya dikenal sebagai hidangan rumahan dapat diperkenalkan melalui restoran, festival kuliner maupun media sosial.
Namun, modernisasi makanan tradisional bukan berarti semua unsur lama harus dihilangkan.
Justru salah satu daya tariknya adalah mempertahankan sesuatu yang menjadi identitas makanan tersebut. Bahan lokal, rempah khas, teknik memasak tertentu atau cerita mengenai asal-usul hidangan tetap dapat menjadi bagian penting.
Dalam tren Culinary Roots, asal-usul makanan dan bahan bahkan menjadi bagian dari cerita yang ingin disampaikan kepada konsumen. Jadi, sebuah hidangan bukan hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari cerita mengenai tempat dan budaya yang melatarbelakanginya.
Baca Juga: Tua Itu Pasti, Kulit Kendor Bisa Dicegah: Sentuhan Rahasia Minyak Zaitun Setiap Malam
Selain Culinary Roots, Future Menus 2026 juga menyoroti Street Food Couture. Konsep ini melihat bagaimana makanan jalanan yang sudah akrab bagi masyarakat dapat dibuat lebih istimewa melalui kualitas bahan, teknik pengolahan dan penyajian, tetapi tetap mempertahankan daya tarik makanan yang mudah diterima.
Contohnya bisa dilihat dari makanan yang biasanya dianggap sederhana kemudian dibuat menjadi hidangan dengan presentasi lebih menarik. Bentuknya mungkin berubah, tetapi rasa atau unsur yang membuat makanan tersebut dikenal tetap dipertahankan.
Perubahan seperti ini juga membuka peluang bagi bahan-bahan lokal untuk kembali diperhatikan.
Bahan yang sebelumnya dianggap biasa dapat memiliki nilai baru ketika digunakan dalam kreasi kuliner modern. Dalam laporan Future Menus 2026, sejumlah bahan seperti tempe, kunyit, asam jawa dan berbagai bahan yang memiliki kaitan dengan tradisi lokal ikut disebut dalam pembahasan Culinary Roots.(lut)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber