Mirip Ketupat tapi Bentuknya Segitiga, Sompil Klaten Punya Cerita sebagai Bekal Perjalanan

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 20:11 WIB
Sompil, makanan khas Klaten yang dulu dikenal sebagai bekal perjalanan.(Klaten)
Sompil, makanan khas Klaten yang dulu dikenal sebagai bekal perjalanan. (Klaten)

SOLOBALAPAN.COM - Kalau dilihat sekilas, sompil memang mirip lontong atau ketupat. Bedanya, makanan khas Jogonalan, Klaten, ini punya bentuk segitiga dan dibungkus dengan daun bambu. Salah satu tempat yang masih menjualnya sampai sekarang adalah Sompil Bu Sri Koco di Gondangan, Jogonalan.

Sompil dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam daun bambu apus. Setelah dibungkus, beras tersebut direbus sampai matang dengan menghasilkan bentuk yang padat dan kenyal. Daun bambu yang digunakan sebagai pembungkus juga membuat sompil punya aroma yang khas.

Baca Juga: Prabowo Gaet Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Idrus Marham Yakin Daya Kritis Tak Akan Luntur!

Rasanya pun berbeda dari lontong atau ketupat yang biasanya cenderung tawar. Sompil terasa lebih gurih dan cukup mengenyangkan. Makanan ini biasanya disajikan bersama lauk dan sayur sehingga rasanya semakin lengkap.

Satu porsi sompil bisa dinikmati dengan opor, sambal goreng krecek, serta telur atau ayam. Di atasnya kemudian ditambahkan ducang, yaitu campuran kedelai dan kelapa parut yang disangrai. Tambahan tersebut membuat rasa gurihnya semakin terasa.

Ketika semuanya dicampur, rasa yang muncul cukup beragam. Ada gurih dari sompil dan ducang, rasa manis dari opor, serta sedikit pedas dari sambal goreng krecek. Tekstur sompil yang kenyal juga membuat makanan ini berbeda dari nasi biasa.

Baca Juga: Dianggap Bunga Kematian di Eropa, Krisan Justru Punya Makna Berbeda di Asia

Bukan hanya soal rasa, sompil juga punya cerita yang membuatnya menarik. Pada masa lalu, makanan ini disebut pernah digunakan sebagai bekal untuk perjalanan jauh, termasuk dalam cerita tentang perbekalan perang.

Sompil dianggap lebih praktis untuk dibawa karena bentuknya padat dan tidak seperti nasi yang baru matang. Beras yang dimasak dalam bungkus daun bambu juga bisa bertahan lebih lama sehingga cocok dijadikan bekal.

Makanan ini juga memiliki kaitan dengan tradisi masyarakat Klaten. Sompil dikenal sebagai salah satu makanan yang biasa disajikan ketika bulan Syawal. Karena tidak selalu dibuat setiap hari, makanan ini dulu lebih sering dicari pada waktu tertentu.

Sompil Bu Sri Koco kemudian menjadi salah satu tempat yang membuat makanan tersebut bisa dinikmati sepanjang tahun. Warung di Gondangan itu mulai menjual sompil sejak 2008 dan masih mempertahankannya sampai sekarang.

Baca Juga: Dagingnya Menghitam Saat Matang, Kenapa Black Sapote Dijuluki Buah Puding Cokelat?

Pembelinya juga tidak hanya berasal dari sekitar Jogonalan. Ada pelanggan yang datang dari beberapa daerah di sekitar Klaten, termasuk Solo, Yogyakarta, Karanganyar dan Boyolali.

Keberadaan Sompil Bu Sri Koco membuat makanan yang sederhana ini tetap dikenal. Apalagi, sompil bukan sekadar beras yang dibungkus dengan daun bambu. Ada cara membuat, cara menyajikan, dan cerita masa lalu yang ikut melekat di dalamnya.

Bentuk segitiganya mungkin menjadi hal pertama yang membuat sompil berbeda dari lontong atau ketupat. Namun, ketika sudah disajikan bersama ducang, opor dan sambal goreng krecek, rasa gurih dan kenyalnya menjadi ciri yang membuat sompil khas Klaten ini masih dicari. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com
hanifatuz zahra sompil klaten kuliner klaten sompil makanan tradisional