SOLOBALAPAN.COM - Mendengar nama Ndas Borok mungkin membuat orang langsung membayangkan sesuatu yang menyeramkan. Padahal, jajanan khas Temanggung ini justru terbuat dari bahan yang sederhana, yakni singkong, kelapa parut dan gula aren. Rasanya manis dan gurih dengan tekstur yang lembut.
Nama Ndas Borok sendiri berasal dari bahasa Jawa. “Ndas” berarti kepala, sedangkan “borok” berarti luka atau koreng. Nama tersebut muncul karena bentuk makanannya dianggap mirip dengan borok di kepala, terutama pada bagian atas yang meleleh dari gula aren.
Baca Juga: Dagingnya Menghitam Saat Matang, Kenapa Black Sapote Dijuluki Buah Puding Cokelat?
Cara membuatnya juga tidak rumit. Singkong diparut lalu dicampur dengan kelapa parut. Setelah itu, adonan diberi gula aren dan dikukus sampai matang. Dari bahan yang sederhana tersebut, Ndas Borok menghasilkan rasa manis dari gula aren dan gurih dari kelapa.
Teksturnya yang lembut membuat jajanan ini cukup mudah disantap. Singkong juga membuatnya terasa mengenyangkan. Ndas Borok biasa dinikmati sebagai camilan dan dapat menjadi teman minum kopi atau teh.
Di balik namanya yang unik, Ndas Borok juga punya cerita yang berkaitan dengan Gunung Sumbing. Ada cerita yang berkembang di masyarakat bahwa dahulu orang yang hendak mendaki Gunung Sumbing memiliki pantangan untuk membawa nasi sebagai bekal.
Baca Juga: Chanathip Akhirnya Kembali Hadapi Indonesia, Ada yang Berubah dari Skuad Garuda?
Sebagai gantinya, singkong, kelapa dan gula dibawa sebagai bahan makanan. Ketiganya kemudian diolah menjadi makanan yang lebih praktis untuk bekal. Cerita tersebut kemudian ikut dikaitkan dengan Ndas Borok yang dikenal masyarakat Temanggung.
Cerita mengenai pantangan membawa nasi tersebut merupakan kisah yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, cerita ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pengetahuan dan kepercayaan masyarakat, bukan sebagai kepastian mengenai asal-usul Ndas Borok.
Bagi sebagian masyarakat Temanggung, Ndas Borok juga bukan sekadar jajanan. Makanan ini sudah dikenal sejak kecil dan lekat dengan kenangan sederhana, seperti menjadi bekal atau teman minum kopi di rumah.
Baca Juga: Dianggap Bunga Kematian di Eropa, Krisan Justru Punya Makna Berbeda di Asia
Kenangan tersebut membuat Ndas Borok tetap dibuat sampai sekarang. Ada pembuat yang kembali mengolah jajanan ini karena teringat dengan makanan yang pernah mereka nikmati ketika masih kecil.
Hal tersebut membuat Ndas Borok menarik, bukan hanya namanya. Di balik singkong, kelapa dan gula aren, ada cerita tentang kebiasaan masyarakat serta kenangan yang ikut membuat makanan ini bertahan.
Namanya memang terdengar seperti sesuatu yang tidak ingin ditemukan di makanan. Namun, Ndas Borok justru menjadi contoh bagaimana jajanan sederhana bisa memiliki cerita yang cukup panjang di baliknya.(Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber