Saat Cuaca Tak Menentu, Kenapa Pir Justru Dibuat Sup Hangat?

tim solobalapan • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 17:30 WIB
Sup pir hangat dengan tambahan jahe yang biasa disajikan dalam tradisi kuliner Asia Timur.(AsianInspirations)
Sup pir hangat dengan tambahan jahe yang biasa disajikan dalam tradisi kuliner Asia Timur. (AsianInspirations)

SOLOBALAPAN.COM - Buah pir biasanya identik dengan rasa manis dan segar yang lebih enak dimakan langsung. Namun, ketika cuaca mulai berubah dan tenggorokan terasa kurang nyaman, buah ini dalam sejumlah tradisi Asia Timur justru diolah menjadi hidangan hangat.

Pir bisa dikukus atau direbus bersama bahan lain seperti jahe, madu, hingga kurma merah. Cara mengolahnya memang sederhana, tetapi kebiasaan tersebut sudah lama dikenal dalam tradisi pengobatan pangan di China dan Korea.

Baca Juga: SUGBK Siap Merah Membara! 55 Ribu Lebih Tiket Final Timnas Indonesia vs Thailand Ludes Terjual

Dalam pengobatan tradisional China, pir dikenal sebagai salah satu bahan pangan yang digunakan ketika tubuh mengalami kondisi yang berkaitan dengan kekeringan. Pir kemudian diolah menjadi sajian hangat, bukan sekadar dimakan dalam keadaan segar.

Kebiasaan tersebut juga berkaitan dengan kandungan air pada pir yang cukup tinggi, sekitar 80–84 persen. Buah ini juga mengandung serat, vitamin C, vitamin K, serta sejumlah senyawa antioksidan.

Salah satu olahan yang menarik berasal dari Korea, yakni baesuk. Hidangan ini menggunakan pir yang dikukus bersama bahan tambahan tertentu. Dalam versi tradisional, pir dapat dipadukan dengan madu dan jahe sehingga menghasilkan sajian manis, hangat, dan memiliki aroma rempah.

Baca Juga: Kenapa Minum Air Hangat Mendadak Jadi Tren Chinamaxxing di TikTok?

Di Indonesia, konsep pir hangat mungkin belum sepopuler wedang jahe atau minuman herbal lainnya. Namun, cara mengolah buah menjadi makanan atau minuman hangat sebenarnya bukan hal yang asing. Buah dan rempah sering dipadukan ketika tubuh terasa kurang nyaman, terutama saat cuaca berubah.

Pir kukus juga sempat banyak dibicarakan karena dianggap dapat membantu meredakan batuk. Resep yang beredar biasanya menggunakan pir dan jahe, kemudian dikukus hingga buah menjadi lunak.

Meski begitu, pir kukus lebih tepat dipandang sebagai makanan pendamping daripada pengganti obat. Klaim bahwa hidangan ini dapat menyembuhkan batuk belum bisa disamakan dengan pengobatan medis. Jika batuk berlangsung lama, semakin berat, atau disertai gejala lain, penyebabnya tetap perlu diperiksa.

Baca Juga: Kebaya Encim, Jejak Akulturasi Budaya dalam Busana Perempuan Betawi

Perpaduan pir dengan jahe menghasilkan rasa manis dan hangat yang cocok disantap saat cuaca terasa kurang bersahabat. Beberapa resep juga menambahkan madu atau kurma merah untuk memperkaya rasa.

Sup pir pun menjadi salah satu contoh bagaimana buah yang biasa dimakan segar dapat diolah menjadi hidangan hangat dengan cita rasa yang berbeda.(Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra sup pir makanan tradisional asia buah pir