Kue Tradisional Ini Mulai Jarang Ditemui, Pernah Coba 4 Kue Ini?

tim solobalapan • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 14:40 WIB
Kue tradisional dengan bentuk dan cara pengolahan yang khas.(Pegadaian)
Kue tradisional dengan bentuk dan cara pengolahan yang khas.

SOLOBALAPAN.COM - Indonesia punya banyak jajanan tradisional dengan bentuk dan cara pembuatan yang beragam. Sayangnya, beberapa kue kini mulai jarang ditemukan. Salah satu penyebabnya adalah proses pembuatan yang cukup panjang dan membutuhkan keterampilan tertentu.

Keunikan cara membuatnya justru menjadi bagian yang menarik dari kue-kue tersebut. Ada yang harus dimasak di atas bara, ada yang membutuhkan pembungkus dari janur, hingga kue yang menggunakan daun tertentu sebelum dimasak.

Berikut 4 kue tradisional yang punya proses pembuatan cukup khas:

Baca Juga: 12 Drakor Terbaru Oktober 2026, Ada Comeback Ji Chang Wook hingga Kim Soo Hyun

1.Kue Rangi

Kue rangi dibuat menggunakan cetakan khusus. Adonan kemudian dimasak langsung di atas arang atau kayu bakar sampai matang.

Setelah matang, kue ini biasanya disajikan dengan kinca, berupa saus gula merah yang dibuat kental. Rasa gurih dari kue berpadu dengan rasa manis dari kinca yang menjadi salah satu ciri khasnya.

Penggunaan cetakan dan proses memasak di atas bara membuat kue rangi memiliki aroma serta karakter yang berbeda. Cara tersebut juga menjadi bagian dari keunikan jajanan tradisional yang kini mulai lebih jarang ditemui.

Baca Juga: Berawal dari Tugas Kuliah, Andanu Prasetyo Bikin Kopi Tuku hingga Populerkan Kopi Susu Gula Aren

2.Clorot

Clorot memiliki bentuk yang langsung mudah dikenali. Kue ini menggunakan daun kelapa muda atau janur yang dililit hingga membentuk wadah seperti kerucut.

Adonannya dibuat dari tepung beras atau tepung sagu yang dicampur dengan gula merah. Setelah dimasukkan ke dalam janur, adonan kemudian dikukus sampai matang.

Bagian yang cukup sulit dari pembuatan clorot terdapat pada pembungkusnya. Janur harus dibentuk dengan teknik tertentu agar bisa menahan adonan selama proses pengukusan. Karena itu, clorot tidak hanya membutuhkan bahan, tetapi juga keterampilan.

Hasilnya berupa kue bertekstur kenyal dengan rasa manis. Bentuk janurnya juga menjadi ciri khas yang membuat clorot berbeda dari jajanan pasar lainnya.

Baca Juga: Dari Klaten untuk Pendengar, O.M Kacau Balau Dobrak Batas Musik Orkes Lewat Humor dan Sentuhan Rock

3.Talam Sagu Bakar

Berbeda dari talam yang umumnya dimasak dengan cara dikukus, talam sagu bakar melalui proses pembakaran. Bahan utamanya berupa sagu yang dicampur dengan parutan kelapa dan gula merah.

Proses pembakaran dapat memakan waktu sekitar 30 hingga 60 menit. Kue ini juga dimasak menggunakan tempurung kelapa sehingga menghasilkan aroma yang khas.

Cara memasak tersebut berpengaruh pada hasil akhirnya. Talam sagu bakar memiliki tekstur yang lebih padat dan berminyak. Proses pembuatannya yang cukup lama dan spesifik membuat kue ini tidak mudah dibuat seperti jajanan yang cukup dikukus.

Baca Juga: Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Arak Bali Mulai Sejajar dengan Sake dan Whisky

4.Lompong Sagu

Lompong sagu dibuat dari adonan sagu dan pisang. Adonan tersebut kemudian dibungkus menggunakan daun lompong atau daun talas sebelum dimasak.

Daun yang digunakan bukan sekadar pembungkus. Penggunaannya memberikan aroma earthy yang menjadi salah satu karakter dari lompong sagu.

Kue ini juga tidak mudah ditemukan di luar daerah asalnya. Penggunaan daun lompong yang cukup spesifik serta cara pengolahannya membuat lompong sagu masih berkaitan erat dengan bahan dan kebiasaan memasak masyarakat setempat.

Baca Juga: Bukan Sekadar Tren Busana, Fashion Week Thailand Tampilkan Identitas Budaya Lokal

Keempat kue tersebut memiliki ciri khas dalam proses pembuatannya. Kue rangi dimasak menggunakan cetakan dan bara, clorot dibuat dengan membentuk janur sebagai pembungkus, talam sagu bakar membutuhkan waktu pemanggangan cukup lama, sedangkan lompong sagu menggunakan daun khusus dalam proses pengolahannya.

Artinya, keunikan jajanan tradisional tidak hanya bisa dilihat dari rasa atau bentuknya. Cara membuatnya juga menjadi bagian dari pengetahuan kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah banyaknya jajanan modern, kue-kue seperti ini menarik untuk dikenalkan kembali. Sebab, semakin jarang dibuat, semakin sedikit pula orang yang mengenal teknik dan proses di balik pembuatannya.

Pernah mencoba salah satunya?  (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
jajanan pasar hanifatuz zahra jajanan jadul kue tradisonal warisan kuliner