SOLOBALAPAN.COM - Arak Bali dulu lebih dikenal sebagai minuman tradisional yang peredarannya terbatas. Sekarang, minuman ini mulai punya tempat yang berbeda. Arak Bali dikembangkan menjadi produk khas daerah yang sudah masuk ke hotel dan restoran, bahkan mulai dipasarkan ke luar negeri.
Arak Bali dibuat dari nira yang difermentasi dan kemudian melalui proses destilasi. Bahan yang digunakan bisa berasal dari kelapa, enau, maupun lontar. Proses pembuatannya sendiri sudah dikenal masyarakat Bali sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: K-Beauty Mulai Berubah, Kenapa Produk Korea Kini Dituntut Lebih Ramah untuk Semua Warna Kulit?
Namun, arak Bali sempat sulit berkembang. Peredarannya yang dibatasi membuat minuman tradisional ini tidak mudah dikembangkan menjadi produk dengan pasar yang lebih luas.
Perubahan mulai terjadi pada 2020. Pemerintah Provinsi Bali menerbitkan Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Aturan ini menjadi dasar bagi pengelolaan arak dan minuman khas Bali lainnya, termasuk soal produksi dan peredarannya.
Sejak saat itu, arak Bali mulai dikembangkan dengan cara yang lebih terarah. Para produsen tidak hanya mempertahankan proses tradisional, tetapi juga mulai memperhatikan kualitas, kemasan, serta perizinan agar produknya bisa masuk ke pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Kebon Coffe: Oase Hijau Tersembunyi di Jebres, Tempat Sempurna Memperlambat Waktu di Tengah Kota
Pengakuan dari sisi budaya kemudian menyusul. Pada 1 Oktober 2022, arak Bali ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Status tersebut menjadi pengakuan terhadap tradisi dan pengetahuan masyarakat Bali dalam membuat arak.
Perubahan tersebut juga terlihat dari cara arak Bali dipasarkan. Sejumlah produk mulai hadir dengan kemasan yang lebih modern dan masuk ke hotel maupun restoran. Produk yang beredar juga diarahkan untuk memenuhi berbagai ketentuan yang berlaku.
Arak Bali pun mulai dikenalkan sebagai spirit khas Bali. Pemerintah daerah mendorongnya agar tidak hanya dikenal di pasar lokal, tetapi juga bisa berada dalam satu pembicaraan dengan minuman tradisional dari negara lain, seperti sake Jepang, soju Korea Selatan, dan whisky Eropa.
Baca Juga: AI Mulai Geser Aktor di China, Industri Drama Pendek yang Dulu Banjir Pekerjaan Kini Berubah
Yang menarik, perkembangan arak juga ikut menggerakkan masyarakat di balik produksinya. Pemerintah Provinsi Bali mencatat ada sekitar 1.472 perajin arak yang tersebar di Bali. Mereka juga terhubung dengan petani tuak yang memasok bahan baku untuk produksi.
Artinya, ketika arak Bali berkembang, yang bergerak bukan hanya produknya. Ada petani dan perajin yang ikut mendapat ruang dalam rantai ekonomi tersebut.
Kini, arak Bali tak lagi hanya dikenal sebagai minuman tradisional. Peredarannya semakin luas dan mulai dikembangkan sebagai produk khas Bali. Meski tampilannya dibuat lebih modern, cara pembuatannya tetap membawa tradisi yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber