SOLOBALAPAN.COM - Matcha dan teh hijau sama-sama berasal dari tanaman Camellia sinensis. Meski begitu, keduanya tidak dibuat dengan cara yang sama. Perbedaan proses tersebut membuat matcha dan teh hijau memiliki rasa, tekstur, serta kandungan kafein yang berbeda.
Perbedaan sudah dimulai sejak tanaman masih berada di kebun. Daun yang akan digunakan untuk membuat matcha biasanya ditanam dalam kondisi teduh selama beberapa minggu sebelum dipanen. Perlakuan ini memengaruhi sejumlah kandungan dalam daun, termasuk kafein dan theanine.
Baca Juga: Masha Selalu Penasaran, 5 Kebiasaan Ini Bisa Bikin Anak Lebih Berani Mencoba Hal Baru
Sementara itu, teh hijau umumnya tumbuh tanpa proses peneduhan khusus seperti yang dilakukan pada tanaman untuk matcha. Setelah dipanen, daun kemudian diproses untuk menghentikan oksidasi sebelum digunakan sebagai bahan minuman.
Perbedaan berikutnya terlihat dari bentuk akhirnya. Daun yang digunakan untuk matcha digiling hingga menjadi bubuk halus. Bubuk tersebut kemudian langsung dicampurkan ke dalam air sehingga seluruh bagian daun ikut diminum.
Pada teh hijau biasa, daun tetap dalam bentuk lembaran atau potongan. Daun cukup direndam dalam air panas, kemudian diangkat sebelum minuman dikonsumsi. Jadi, yang diminum adalah air hasil ekstraksi dari daun teh.
Baca Juga: Bukan Cuma Antioksidan Biasa, Brokoli Jadi 'Senjata' Utama Perlindungan DNA
Cara menyajikannya juga berbeda. Bubuk matcha biasanya diayak terlebih dahulu agar tidak menggumpal. Setelah diberi air panas, bubuk kemudian dikocok hingga tercampur rata dan menghasilkan busa tipis.
Teh hijau lebih sederhana. Daunnya cukup diseduh menggunakan air panas. Suhu air tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi rasa dan senyawa yang keluar dari daun. Kisaran 70–80 derajat Celsius dapat digunakan sebagai acuan umum, meski kebutuhan suhu bisa berbeda berdasarkan jenis tehnya.
Perbedaan pengolahan tersebut kemudian terasa saat diminum. Matcha memiliki rasa yang lebih pekat dengan karakter umami, sedangkan teh hijau seduh cenderung terasa lebih ringan. Hal ini juga berkaitan dengan cara keduanya dikonsumsi.
Baca Juga: Berawal dari Sindiran Barista Italia, Americano Justru Jadi Minuman Mendunia
Dari kandungan kafein, matcha umumnya berada di atas teh hijau biasa. Harvard Health mencatat satu cangkir matcha dapat mengandung sekitar 38–89 miligram kafein, sedangkan teh hijau sekitar 23–49 miligram. Jumlah tersebut tetap bergantung pada jenis produk dan cara penyajiannya.
Kandungan kafein yang relatif tinggi membuat matcha sering dipilih sebagai minuman pengganti kopi. Namun, jumlah kafein tetap perlu diperhatikan karena setiap orang memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda.
Lalu, mana yang lebih baik? Tidak bisa ditentukan hanya dari jenis minumannya. Matcha bisa menjadi pilihan bagi orang yang menyukai rasa lebih pekat dan membutuhkan minuman dengan kafein relatif lebih tinggi. Sementara teh hijau lebih cocok bagi yang menyukai rasa ringan dan cara penyajian yang praktis.
Baca Juga: Gecok Tlogo , Kuliner Kambing Berempah dengan Cita Rasa Pedas
Keduanya juga mengandung senyawa alami dari daun teh, seperti katekin dan theanine. Namun, kadarnya dapat berbeda tergantung pada jenis daun, proses pengolahan, kualitas produk, serta cara penyeduhan. Karena itu, tidak tepat jika matcha langsung dianggap selalu lebih sehat daripada teh hijau.
Jadi, matcha sebenarnya masih termasuk teh hijau. Yang membedakan adalah proses budidaya, pengolahan, dan cara mengonsumsinya. Dari satu tanaman yang sama, proses tersebut menghasilkan dua minuman dengan karakter yang cukup berbeda. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber