Kuliner Tradisional : Dari Mana Asal Nasi Liwet? Ini Sejarah Versi Solo dan Sunda

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 19:16 WIB
Nasi liwet
Nasi liwet Solo biasanya dimasak menggunakan santan sehingga menghasilakn cita rasa gurih. (Dok Jawa Pos)

SOLOBALAPAN.COM - Nasi liwet dikenal sebagai salah satu kuliner khas Solo. Namun, hidangan dengan nama serupa juga berkembang di Jawa Barat dengan sebutan nasi liwet Sunda. Meski sama-sama menggunakan istilah liwet, keduanya memiliki sejarah, bahan, serta cara penyajian yang berbeda.

Nasi liwet Solo berasal dari Desa Menuran, Sukoharjo. Berdasarkan catatan sejarah kuliner, masyarakat di desa tersebut mulai menjual nasi liwet ke wilayah Solo sekitar 1934. Makanan yang berkembang dari lingkungan masyarakat desa itu kemudian semakin dikenal dan menjadi bagian dari kuliner Surakarta.

Baca Juga: Cidro Asmoro Tayang Oktober, Campursari Jadi Bagian Penting dalam Ceritanya

Nasi liwet Solo umumnya menggunakan nasi yang dimasak dengan santan sehingga menghasilkan rasa gurih. Nasi tersebut kemudian disajikan bersama sayur labu siam, suwiran ayam, telur, dan areh. Dalam penyajian tradisional, nasi liwet diletakkan di atas pincuk daun pisang.

Perkembangan nasi liwet Solo tidak hanya berkaitan dengan aktivitas makan sehari-hari. Hidangan ini juga digunakan dalam sejumlah kegiatan masyarakat Jawa. Nasi liwet dapat disajikan dalam acara adat dan tradisi tertentu, termasuk midodareni serta sejumlah rangkaian kegiatan Sekaten di Solo.

Sementara itu, nasi liwet Sunda memiliki latar belakang yang berbeda. Hidangan tersebut berkembang di kalangan masyarakat perkebunan yang harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju tempat kerja.

Baca Juga: Anime Jepang Mendunia tapi Kena Sensor! Antara Kebebasan Karya, Hukum Negara, Budaya, dan Norma Agama

Untuk mempermudah membawa bekal, nasi dan lauk dimasak sekaligus dalam ketel atau kastrol. Wadah tersebut kemudian dibawa ke tempat kerja sehingga makanan tetap berada dalam satu wadah dan dapat disantap dalam kondisi hangat.

Kebiasaan memasak dan makan bersama itu dikenal dengan istilah ngaliwet. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu kebiasaan kuliner masyarakat Sunda.

Dari bahan dan cara memasaknya, nasi liwet Sunda juga memiliki ciri tersendiri. Nasi dapat dimasak bersama bumbu, ikan teri, atau ikan asin. Sajian tersebut biasanya dilengkapi sambal, lalapan, serta lauk pendamping lainnya.

Perbedaan cara memasak membuat tampilan kedua nasi liwet juga tidak sama. Nasi liwet Solo disajikan bersama berbagai lauk dan sayur sebagai pelengkap, sedangkan nasi liwet Sunda lebih identik dengan nasi berbumbu yang dimasak bersama lauk dalam kastrol.

Baca Juga: Basral Grito Hutomo Menduduki Peringkat Keempat di Final Skateboard Street Asian Game 2026

Istilah liwet sendiri berkaitan dengan teknik memasak nasi. Cara tersebut dilakukan dengan memasak beras menggunakan air dalam wadah hingga nasi matang. Teknik ini telah dikenal dalam tradisi kuliner Jawa sejak masa lalu dan tercatat dalam sejumlah naskah sastra Jawa.

Karena berkembang di lingkungan masyarakat yang berbeda, nasi liwet kemudian memiliki fungsi dan bentuk penyajian masing-masing. Di Solo, makanan ini berkembang menjadi kuliner khas yang juga hadir dalam sejumlah tradisi. Di tanah Sunda, nasi liwet berkembang dari kebiasaan membawa bekal dan makan bersama.

Dengan demikian, nasi liwet Solo dan nasi liwet Sunda memang memiliki nama yang sama, tetapi bukan sajian yang sepenuhnya sama. Sejarah dan kebiasaan masyarakat di masing-masing daerah membentuk karakter nasi liwet yang dikenal hingga sekarang. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com
hanifatuz zahra nasi liwet solo nasi liwet sunda kuliner masakan