Sering Jadi Teman Makan Mi, Kimchi Tak Cuma Hidangan Pendamping, Ini yang Terjadi Saat Sayuran Difermentasi

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 06:18 WIB
Kimchi sering dianggap hanya sebagai hidangan pendamping saat menikmati mi atau makanan Korea. Padahal, sayuran fermentasi ini melibatkan bakteri asam laktat dan memiliki sejumlah potensi manfaat yang masih terus diteliti. (Pinterest)
Kimchi sering dianggap hanya sebagai hidangan pendamping saat menikmati mi atau makanan Korea. Padahal, sayuran fermentasi ini melibatkan bakteri asam laktat dan memiliki sejumlah potensi manfaat yang masih terus diteliti. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Buat pencinta makanan Korea, rasanya kurang lengkap kalau makan mi, ramyeon, atau Korean BBQ tanpa kimchi di sampingnya. Sayuran berwarna merah dengan rasa asam, pedas, dan sedikit segar ini memang sering hadir sebagai hidangan pendamping.

Namun, kimchi sebenarnya bukan sekadar pelengkap untuk membuat makanan terasa lebih nikmat.

Ada proses panjang di balik rasa asam dan aromanya yang khas. Kimchi dibuat melalui fermentasi sayuran, umumnya sawi putih atau lobak, bersama berbagai bahan seperti bawang putih, jahe, cabai, dan garam. Selama proses tersebut, mikroorganisme tertentu mengubah komponen dalam sayuran dan menghasilkan karakteristik khas kimchi.

Baca Juga: Kok Bisa Wajah Orang Dibuat Seolah-olah Ada di Foto Lain? Begini Cara AI Deepfake Bekerja

Jadi, apakah kimchi sengaja dibuat sampai “busuk”?

Jawabannya tidak.

Fermentasi berbeda dengan pembusukan. Pada fermentasi kimchi, bakteri asam laktat atau lactic acid bacteria (LAB) menjadi kelompok mikroorganisme yang dominan. Beberapa genus yang terlibat antara lain Leuconostoc, Weissella, dan Lactobacillus. Bakteri tersebut memanfaatkan komponen dalam bahan makanan dan menghasilkan berbagai senyawa, termasuk asam organik yang membuat kimchi memiliki rasa asam.

Proses inilah yang membuat kimchi memiliki karakter berbeda dibandingkan sayuran segar.

Fermentasi juga dapat menghasilkan berbagai senyawa bioaktif dan mengubah komposisi sejumlah komponen dalam bahan makanan.

Baca Juga: Tak Hanya Tahu dan Tempe, Ternyata Kedelai Bisa Diolah Jadi Banyak Makanan

Review mengenai sayuran yang difermentasi dengan bakteri asam laktat menemukan adanya mikroorganisme hidup dan berbagai hasil metabolisme fermentasi yang berpotensi memberikan efek biologis.

Lalu, apa manfaat kimchi?

Salah satu hal yang paling banyak diteliti adalah kaitannya dengan sistem pencernaan dan mikrobiota usus.

Kimchi mengandung bakteri asam laktat yang memiliki potensi probiotik. Probiotik sendiri merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan dalam kondisi dan jumlah tertentu. Karena itu, para peneliti tertarik melihat apakah mikroorganisme dalam makanan fermentasi seperti kimchi dapat berinteraksi dengan lingkungan mikrobiota di dalam tubuh.

Artinya, kimchi berpotensi menjadi salah satu bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan saluran pencernaan. Namun, bukan berarti makan kimchi otomatis membuat kondisi usus menjadi sehat atau dapat menggantikan pengobatan medis.

Baca Juga: Pria Ini Habiskan Puluhan Tahun Ubah Bekas Tempat Sampah Jadi Hutan

Selain itu, kimchi juga dibuat dari sayuran dan bahan lain yang secara alami mengandung berbagai zat gizi. Sawi atau sayuran cruciferous yang menjadi bahan utama dapat menyumbang serat, vitamin, dan mineral. Bawang putih, jahe, serta cabai juga mengandung berbagai senyawa bioaktif.

Penelitian pada manusia juga mulai melihat hubungan antara konsumsi kimchi dan kesehatan metabolik.

Sebuah systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan pada 2025 menganalisis lima studi intervensi dengan total 205 peserta serta empat studi kohort dengan 42.455 peserta.

Dalam analisis tersebut, konsumsi kimchi yang difermentasi dikaitkan dengan beberapa perubahan pada indikator metabolik, termasuk gula darah puasa. Setelah analisis tertentu, peneliti juga menemukan hubungan dengan trigliserida serta tekanan darah.

Meski terdengar menarik, hasil tersebut tetap perlu dibaca dengan hati-hati. Jumlah studi intervensi yang dianalisis masih terbatas, sehingga penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan seberapa besar manfaat konsumsi kimchi dalam jangka panjang.

Ada satu hal lain yang membuat kimchi menarik: proses fermentasinya sendiri.

Ketika bakteri asam laktat berkembang, terjadi perubahan pada gula dan komponen lain dalam bahan makanan. Terbentuknya asam organik ikut memengaruhi rasa, aroma, tekstur, serta daya simpan produk. Karena itu, kimchi yang baru dibuat dan kimchi yang sudah mengalami fermentasi lebih lama dapat memiliki rasa dan aroma yang berbeda.

Namun, bukan berarti semakin lama difermentasi maka kimchi otomatis semakin sehat.

Kimchi tetap merupakan makanan yang perlu dikonsumsi secara wajar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan garamnya karena garam digunakan dalam proses pembuatan kimchi. Bagi orang yang perlu membatasi asupan natrium, jumlah kimchi yang dikonsumsi tetap perlu diperhatikan.

Jadi, ketika semangkuk ramyeon datang dengan sepiring kecil kimchi di sampingnya, makanan berwarna merah itu sebenarnya membawa cerita yang cukup panjang.

Di balik rasa asam dan pedasnya terdapat proses fermentasi yang melibatkan berbagai mikroorganisme. Proses tersebut mengubah karakter sayuran sekaligus menghasilkan berbagai senyawa yang menarik untuk diteliti.

Kimchi memang tetap bisa menjadi teman makan mi yang enak. Tetapi lebih dari sekadar pelengkap, makanan fermentasi khas Korea ini juga menjadi contoh bagaimana mikroorganisme dapat mengubah bahan makanan dan membuatnya memiliki karakter serta potensi manfaat yang berbeda. (lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
kimchi korea makanan Fermentasi