Lengket, Berlendir, dan Baunya Kuat, Natto Justru Punya Banyak Manfaat

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 07:30 WIB
Natto dikenal dengan teksturnya yang lengket dan berlendir serta aroma yang kuat. Meski terlihat unik, makanan fermentasi khas Jepang ini memiliki sejumlah zat gizi dan senyawa bioaktif yang menarik untuk diteliti. (Pinterest)
Natto dikenal dengan teksturnya yang lengket dan berlendir serta aroma yang kuat. Meski terlihat unik, makanan fermentasi khas Jepang ini memiliki sejumlah zat gizi dan senyawa bioaktif yang menarik untuk diteliti. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Kalau baru pertama kali melihat natto, makanan khas Jepang ini mungkin tidak langsung terlihat menggugah selera. Kedelai yang sudah difermentasi tersebut memiliki tekstur berlendir dan lengket, bahkan bisa membentuk benang panjang ketika diaduk. Aromanya pun cukup kuat dan khas.

Namun, penampilan natto yang mungkin membuat sebagian orang ragu justru berasal dari proses fermentasi yang membuat makanan ini memiliki sejumlah senyawa menarik.

Baca Juga: Petuah Dapur agar Air Rebusan Tak Meluap, Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya

Natto merupakan makanan berbahan dasar kedelai yang difermentasi menggunakan bakteri Bacillus subtilis. Kedelai yang telah dimasak kemudian diinokulasi dengan bakteri tersebut dan dibiarkan mengalami fermentasi. Proses inilah yang menghasilkan karakteristik natto, termasuk teksturnya yang lengket dan berlendir.

Lendir pada natto bukan berarti makanan tersebut basi. Salah satu senyawa yang dihasilkan selama fermentasi adalah polimer bernama poli-γ-glutamat atau γ-PGA. Senyawa tersebut ikut berperan dalam karakteristik natto yang sangat lengket dan dapat membentuk benang ketika makanan diaduk.

Di balik teksturnya yang unik, natto juga mengandung sejumlah zat gizi dan senyawa bioaktif. Salah satu yang paling banyak mendapat perhatian adalah vitamin K2, khususnya menaquinone-7 atau MK-7.

Vitamin K berperan dalam proses pembekuan darah dan juga terlibat dalam metabolisme tulang. Natto dikenal sebagai salah satu sumber alami MK-7 yang sangat kaya.

Bahkan, penelitian terbaru yang merangkum sejumlah studi pada populasi Jepang menemukan bahwa konsumsi natto secara rutin berkaitan dengan kadar MK-7 dalam darah yang lebih tinggi serta beberapa penanda metabolisme tulang yang lebih baik.

Baca Juga: 5 Pejabat Utama Lapas Cibinong Resmi Dinonaktifkan Kemenimipas Buntut Sidak Ombudsman

Namun, peneliti juga menekankan bahwa tingkat kepastian bukti mengenai dampaknya terhadap kepadatan tulang masih rendah hingga sangat rendah karena banyak penelitian yang tersedia bersifat observasional.

Selain vitamin K2, kedelai dalam natto juga mengandung isoflavon. Senyawa ini merupakan kelompok senyawa bioaktif yang secara alami terdapat pada kedelai dan banyak diteliti karena potensinya terhadap berbagai aspek kesehatan.

Ada pula nattokinase, yaitu enzim yang dihasilkan selama fermentasi natto oleh bakteri yang digunakan dalam proses pembuatannya. Senyawa ini menarik perhatian peneliti karena aktivitasnya yang berkaitan dengan sistem fibrinolisis, yaitu proses tubuh dalam memecah fibrin yang berperan dalam pembentukan bekuan darah.

Sejumlah penelitian pada manusia bahkan telah menguji nattokinase dalam bentuk suplemen. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis uji terkontrol secara acak menemukan bahwa suplementasi nattokinase berkaitan dengan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik dalam studi yang dianalisis.

Baca Juga: SUGBK Bergetar! 56 Ribu Tiket Indonesia vs Malaysia Ludes, Suporter Merahkan Senayan Malam Ini

Meski demikian, penelitian tersebut juga mencatat bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami dosis dan efek jangka panjangnya.

Artinya, bukan berarti makan natto otomatis dapat mencegah penyakit jantung atau menggantikan pengobatan. Klaim seperti itu terlalu jauh jika hanya didasarkan pada keberadaan nattokinase atau vitamin K2.

Penelitian mengenai manfaat kesehatan natto masih terus berkembang dan sebagian hasilnya belum cukup kuat untuk dijadikan kesimpulan klinis.

Yang menarik, justru proses fermentasinya yang membuat natto berbeda dari kedelai biasa. Aktivitas Bacillus subtilis selama fermentasi menghasilkan berbagai senyawa bioaktif, termasuk MK-7, nattokinase, dan senyawa lainnya. Karena itu, natto tidak hanya menarik dari sisi rasa dan teksturnya, tetapi juga menjadi salah satu contoh bagaimana proses fermentasi dapat mengubah karakteristik sebuah bahan pangan.

Bagi orang yang belum terbiasa, natto mungkin terlihat seperti kedelai yang terlalu lengket atau bahkan “aneh”. Tetapi bagi masyarakat Jepang, makanan ini sudah lama menjadi bagian dari pola makan dan memiliki tempat tersendiri dalam budaya kuliner mereka.

Jadi, kalau suatu saat melihat natto dengan lendir yang membentuk benang panjang saat diaduk, tidak perlu langsung menganggapnya sebagai tanda makanan rusak. Justru lendir dan aroma khas tersebut merupakan bagian dari proses fermentasi yang membuat natto berbeda dari olahan kedelai lainnya.

Penampilannya memang bisa membuat orang berpikir dua kali untuk mencicipinya. Tetapi di balik teksturnya yang unik, natto menyimpan kombinasi zat gizi dan senyawa hasil fermentasi yang membuatnya menarik untuk diteliti dari sisi pangan dan kesehatan.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
natto kedelai jepang