Jaringan Hotel Termahal di Dunia, Ternyata Pendirinya Orang Indonesia

tim solobalapan • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 17:30 WIB
Aman, jaringan hotel mewah yang didirikan Adrian Zecha, pria kelahiran Sukabumi, Indonesia.(Instagram)
Aman, jaringan hotel mewah yang didirikan Adrian Zecha, pria kelahiran Sukabumi, Indonesia.

SOLOBALAPAN.COM - Nama Aman dikenal sebagai salah satu merek perhotelan mewah dengan konsep yang berbeda dari hotel pada umumnya. Alih-alih mengandalkan bangunan besar dan kapasitas kamar dalam jumlah banyak, Aman sejak awal justru memilih skala yang lebih terbatas dengan mengutamakan privasi serta ketenangan tamu.

Konsep tersebut pertama kali diperkenalkan melalui Amanpuri di Phuket, Thailand, yang dibuka pada 1988. Resor itu menjadi properti pertama Aman dan hanya memiliki 40 pavilion. Dari tempat inilah konsep Aman mulai berkembang dan kemudian dibawa ke berbagai destinasi di dunia.

Baca Juga: Sensasi "Kaget Sehat" Ice Facial: Terapi Air Es Sederhana untuk Kulit Kencang dan Awet Muda

Jumlah unit yang terbatas menjadi salah satu karakter yang melekat pada Aman. Properti-propertinya dirancang dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, sehingga bangunan tidak selalu tampil sebagai pusat perhatian. Pendekatan tersebut membuat setiap properti memiliki bentuk dan suasana yang berbeda sesuai dengan lokasi masing-masing.

Nama Aman sendiri diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti damai. Makna tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas perusahaan, terutama melalui konsep yang menempatkan privasi, ketenangan, dan suasana yang lebih personal sebagai bagian dari pengalaman menginap.

tidakp itu berangkat dari gagasan Adrian Zecha. Pria kelahiran Sukabumi pada 1933 tersebut sebelumnya bukan berasal dari industri perhotelan. Ia lebih dulu bekerja sebagai jurnalis dan pernah menjadi bagian dari majalah Time sebelum kemudian beralih ke bisnis.

Baca Juga: Bentuknya Unik, Ternyata Setiap Bagian Tongkat Hoki Punya Fungsi

Perpindahan bidang tersebut membawa Zecha ke industri perhotelan. Setelah terlibat dalam pengembangan sejumlah bisnis hotel, ia kemudian mendirikan Amanpuri bersama rekan-rekannya pada akhir dekade 1980-an.

Amanpuri menjadi titik awal perjalanan Aman sebagai merek yang menawarkan bentuk kemewahan yang berbeda. Pengalaman yang ditawarkan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga dengan bagaimana tamu mendapatkan ruang pribadi dan suasana yang lebih tenang selama berada di dalam properti.

Cara tersebut kemudian menjadi salah satu pembeda Aman ketika memperluas bisnisnya. Properti yang dibangun tidak dibuat dengan satu bentuk yang sama. Lokasi, arsitektur, hingga hubungan bangunan dengan lingkungan sekitar menjadi bagian dari kdip masing-masing properti.

Baca Juga: Disebut ‘Cucu Krakatau’, Sebenarnya Gunung Apa yang Viral di Selat Sunda?

Reputasi Aman juga berkembang melalui para tamunya. Pengalaman menginap dari satu properti kemudian menjadi cerita yang dibawa ke properti lain. Dari kalangan pelanggan yang gemar mengunjungi berbagai lokasi Aman, bahkan muncul istilah “Aman junkies”, sebutan tidak resmi bagi tamu yang memiliki ketertarikan untuk menginap di banyak properti Aman.

Konsep tersebut akhirnya masuk ke Indonesia dan berkembang di sejumlah destinasi. Amanjiwo berada di kawasan Borobudur, Magelang, dengan pemandangan yang mengarah ke kawasan candi. Ada pula Amandari di Ubud dan Amankila di Karangasem, Bali.

Di Bali, Aman juga memiliki Amanusa yang berada di kawasan Nusa Dua. Sementara di Nusa Tenggara Barat terdapat Amanwana di Pulau Moyo. Selain properti darat, Aman mengoperasikan Amandira, kapal pinisi yang digunakan untuk perjalanan menjelajahi kepulauan Indonesia.

Baca Juga: Fakta Baru Kasus Pengintip Kamar Mandi GOR Sritex Arena: HP Pelaku Ternyata Simpan Video Korban Lain!

Keberadaan properti tersebut menunjukkan bagaimana Aman menerapkan konsep yang sama melalui karakter lokasi yang berbeda. Amanjiwo misalnya, dibangun dengan konteks budaya dan lanskap Jawa, sedangkan properti di Bali dan Pulau Moyo membawa karakter lingkungan yang berbeda.

Dari satu resor di Phuket, Aman kemudian berkembang menjadi perusahaan dengan portofolio internasional. Saat ini, Aman menyebut memiliki 36 hotel, resor, dan pengembangan residensial yang tersebar di 21 negara.

Pertumbuhan tersebut berlangsung setelah adanya perubahan kepemilikan. Pada 2014, Aman diakuisisi oleh Vladislav Doronin, pengusaha asal Rusia yang kemudian menjabat sebagai chairman sekaligus CEO Aman.

Baca Juga: Ranking FIFA Timnas Indonesia Naik ke 116 usai Gilas Singapura, Kini Turun ke 119, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Sementara itu, Zecha tetap melanjutkan aktivitasnya di industri perhotelan. Setelah perjalanan panjang bersama Aman, ia mengembangkan Azerai, merek yang menyasar segmen kemewahan dengan pendekatan berbeda.

Perjalanan Aman menunjukkan bagaimana sebuah merek hotel dapat membangun identitas bukan semata-mata dari jumlah kamar atau kemegahan bangunan. Sejak Amanpuri dibuka, konsep yang dibawa justru bertumpu pada skala yang lebih intim, privasi, dan keterkaitan antara properti dengan lingkungan tempatnya berada.

Di balik merek yang kini berkembang di berbagai negara itu terdapat sosok Adrian Zecha, pria kelahiran Sukabumi yang memulai karier sebagai jurnalis sebelum namanya dikenal dalam industri perhotelan internasional. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra AdrianZecha hotel mewah Indoensia Aman