Roti Kompya, Burger Jawa yang Masih Eksis Sampai Sekarang

tim solobalapan • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 20:02 WIB
Makanan Tradisional Kompya (Kumala Triswandaru)
Makanan Tradisional Kompya (Kumala Triswandaru)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah menjamurnya makanan modern, roti tradisional masih bertahan di Kota Surakarta. Salah satunya roti Kompya, yang kerap dijuluki sebagai “burger Jawa”.

Roti berbentuk bulat tersebut masih diproduksi secara manual oleh usaha milik Haryono di Jalan Sungai Tungkal, Gandekan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta.

Haryono merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha roti Kompya yang telah berdiri sejak sekitar 1960-an. Puluhan tahun berlalu, proses produksinya masih mempertahankan cara tradisional, termasuk penggunaan oven berbahan bakar kayu.

Baca Juga: Mango Sticky Rice, Sajian Ketan dan Mangga yang Melekat dengan Kuliner Thailand

Dipanggang dengan Oven Kayu Buatan Bayat

Salah satu ciri khas roti Kompya terletak pada proses pemanggangannya. Berbeda dengan roti modern yang umumnya menggunakan oven listrik atau gas, roti Kompya dipanggang menggunakan oven tradisional berbahan bakar kayu.

Oven tersebut dibuat secara khusus oleh pengrajin dari Bayat, Klaten.

Prosesnya pun cukup unik. Kayu terlebih dahulu dibakar di dalam oven hingga berubah menjadi bara. Setelah api dan kayu yang terbakar dikeluarkan, adonan roti ditempelkan pada dinding bagian dalam oven.

Bara kemudian diletakkan kembali di bagian tengah oven. Selama proses pemanggangan, roti terus dikipasi hingga matang.

Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Setelah matang, roti diangkat dan siap disajikan.

Baca Juga: Resep Kreatif Warisan Leluhur, Mengolah Nasi Sisa Menjadi Karak Renyah Kaya Bumbu

Dibuat Tanpa Telur

Bahan dasar roti Kompya cukup sederhana, yakni tepung terigu, air, gula dan ragi. Dalam prosesnya juga digunakan soda kue serta bawang. Roti tersebut tidak menggunakan telur sehingga teksturnya cenderung lebih keras dibandingkan roti pada umumnya.

Adonan terlebih dahulu dicampur dan diuleni hingga merata. Setelah itu, adonan dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil.

Bagian atas adonan kemudian diberi taburan wijen sebelum dipanggang menggunakan oven tradisional.

Roti Kompya umumnya disantap bersama pia-pia, sehingga menghasilkan perpaduan makanan tradisional yang masih dikenal sebagian masyarakat Solo.

Produksi Dimulai Tengah Malam

Proses produksi biasanya dimulai sejak tengah malam. Waktu tersebut menyesuaikan dengan pola penjualan roti Kompya yang sebagian besar dilakukan pada pagi hari.

Dalam sehari, usaha milik Haryono membutuhkan sekitar 45 kilogram tepung terigu untuk menghasilkan kurang lebih 1.000 buah roti Kompya.

Baca Juga: Asmara Gen Z Penuh Plot Twist, Ternyata Opera Sabun Juga Punya Cerita

Saat ini, proses produksi dibantu tiga orang karyawan. Salah seorang karyawan bahkan meneruskan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan ayahnya. Karyawan tersebut telah bekerja selama sekitar 32 tahun.

Sebagian besar konsumen berasal dari wilayah Solo. Para pedagang yang membeli roti untuk kemudian dijual kembali menjadi salah satu pelanggan utama.

Produksi Bergantung Kondisi Cuaca

Penggunaan oven tradisional berbahan bakar kayu membuat proses produksi turut dipengaruhi kondisi cuaca.

Kayu yang basah, misalnya, dapat menyulitkan proses pembakaran sehingga berdampak terhadap produksi.

Oven tradisional yang digunakan juga tidak dapat dipakai selamanya. Biasanya, oven tersebut harus diganti setiap empat hingga lima tahun.

Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan usaha.

Haryono mengatakan, penjualan roti Kompya dalam setahun terakhir mengalami penurunan seiring meningkatnya harga bahan baku.

Dulu Ramai Saat Imlek

Permintaan roti Kompya juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Haryono menyebut, penjualan pada masa lalu cenderung meningkat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.

Roti Kompya kala itu kerap digunakan sebagai salah satu persembahan dalam perayaan tersebut.

“Dulu penjualannya meningkat saat Hari Raya Imlek. Roti Kompya sering digunakan sebagai persembahan umat Konghucu saat Hari Raya Imlek, tetapi sekarang sudah berkurang karena umat Konghucu sudah berkurang,” ujar Haryono.

Baca Juga: “Helikopter Turun ke Padang” Viral di TikTok, Ternyata Bukan Lagu Baru dan Punya Cerita Ini

Kini, roti Kompya dijual dengan harga sekitar Rp2.000 per buah.

Di tengah perubahan selera konsumen dan meningkatnya biaya produksi, Haryono masih mempertahankan cara pembuatan yang diwariskan lintas generasi tersebut.

Bagi usaha roti Kompya di Gandekan, penggunaan tangan, bara kayu dan oven tradisional bukan sekadar metode produksi. Cara tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah kuliner tradisional Solo yang masih bertahan hingga kini. (Kumala Triswandaru)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
kumala triswandaru burger jawa makanan tradisional kompyang surakarta