SOLOBALAPAN.COM- Di Provinsi Sumatera Utara terdapat berbagai suku yang hidup berdampingan secara harmonis, seperti Suku Nias, Suku Melayu, Suku Jawa, dan Suku Batak. Setiap kelompok etnis memiliki warisan budaya, adat istiadat, serta pengetahuan lokal yang khas, yang menjadi elemen penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Sumatera Utara.
Tradisi yang sering dilakukan tidak hanya mencerminkan nilai-nilai budaya, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman dalam menjalin hubungan sosial, menjaga keharmonisan, serta memperkuat identitas suatu kelompok masyarakat.
Baca Juga: Sejajar dengan Three Houses, Fire Emblem: Fortune’s Weave Debut Kuat dengan Skor 89
Suku Batak Simalungun menjadi salah satu kelompok etnis yang memiliki kekayaan budaya khas di Provinsi Sumatera Utara. Simalungun merupakan salah satu suku besar yang memiliki kekayaan budaya beragam, termasuk dalam bidang kuliner.
Dayok Binatur adalah makanan khas Batak Simalungun yang hidup di Sumatera Utara. Hidangan ini tidak hanya dimakan sebagai santapan tetapi juga sangat penting dalam setiap upacara adat Simalungun.
Baca Juga: Mighty Orbots: Kartun Robot yang Pernah Tayang di TV Indonesia, tapi Cuma Bertahan 13 Episode
Dayok Binatur berasal dari kata “Dayok” yang berarti ayam, dan “Binatur” atau “Nabinatur” berarti ayam yang disusun atau yang diatur secara teratur. Dayok Binatur adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan hidangan ayam yang dipotong dan disusun kembali sesuai dengan bentuk aslinya di atas piring atau talam.
Bumbu rempah khas yang digunakan pada Dayok Binatur berbeda dengan olahan ayam pada umumnya.Pada Dayok Binatur menggunakan bumbu rempah khas seperti andaliman dan perasan air kulit pohon sikkam yang menjadi bumbu paling utama.
Baca Juga: Sebelum Pinterest, Ada Majalah GADIS. Begini Cara Anak Muda Cari Inspirasi Dulu
Ayam menjadi hidangan utama dalam tradisi Dayok Binatur ini karena menurut masyarakat Suku Batak Simalungun ayam dianggap sebagai simbol ketekunan dan kedisiplinan. Ayam dikenal sebagai hewan yang gigih dalam mencari makanan serta kebiasaan ayam berkokok setiap pagi sebagai penanda matahari sudah terbit.
Sifat-sifat tersebut mencerminkan nilai kerja keras, tanggung jawab,dan keteraturan yang diharapkan dapat diteladani oleh manusia, terutama untuk penerima Dayok Binatur. Penyajian Dayok Binatur bukan hanya sekedar disajikan sebagai hidangan adat, tetapi memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Simalungun maupun bagi siapapun yang menikmatinya.
Baca Juga: Tencent Siapkan ECS Untuk Amankan 11 Nomor Esports Asian Games 2026
Terdapat aturan dan syarat tertentu yang harus dipenuhi dalam proses penyajianya, salah satunya adalah ayam yang digunakan untuk tradisi ini harus ayam yang memiliki jengger berwarna sebagai lamban keberanian, semangat, dan kehidupan. Selain itu, ketika disajikan posisi kepala ayam harus menghadap ke arah penerima sebagai simbol penghormatan, doa restu, dan harapan agar penerima memperoleh keberkahan serta kehidupan yang harmonis.
Dayok Binatur itu biasanya oleh masyarakat Simalungun dihidangkan dalam berbagai upacara adat, seperti upacara perkawinan, selain itu pada momen-momen penting dalam kehidupan seseorang seperti mendapat pekerjaan baru, naik pangkat, naik kelas atau momen membahagiakan lainnya.
Teknik pengolahan khusus Dayok Binatur menekankan sifat khas Dayok Binatur yang disusun secara teratur dan disajikan dengan penuh ketelitian. Setiap potongan ayam ditempatkan diatas nampan atau piring besar dengan susunan menyerupai bentuk utuh ayam.
Baca Juga: Lamalera Punya Tradisi Berburu Paus, tapi Ada Satu Jenis yang Tak Boleh Diburu
Setiap bagian dari Dayok Binatur memiliki makna Simbolik yang menggambarkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Batak Simalungun.Seperti kepala ayam yang melambangkan kepemimpinan dan kebijaksanaan, sayap melambangkan semangat dan kerja keras, sementara kaki melambangkan kekuatan dan keteguhan dalam melangkah. Hati dan jantung ayam dianggap sebagai lambang ketulusan dan kejujuran dalam bertindak
Penyusunan setiap bagian tubuh ayam pada Dayok Binatur memiliki nasihat dan doa dari pemberi kepada penerima. (adhima aulia)
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber