Semur Ternyata Berasal dari Istilah Belanda, Ini Asal Nama dan Cara Masaknya

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 13:00 WIB
Semur dengan kuah cokelat dan cita rasa manis gurih menjadi salah satu masakan rumahan.
Semur dengan kuah cokelat dan cita rasa manis gurih menjadi salah satu masakan rumahan.

SOLOBALAPAN.COM - Semur menjadi salah satu hidangan yang cukup lekat dengan masakan rumah. Kuahnya berwarna cokelat dengan cita rasa manis dan gurih.

Daging sapi menjadi salah satu bahan yang paling sering digunakan. Namun, semur juga bisa diisi dengan ayam, telur, tahu, tempe, kentang, bahkan jengkol.

Di balik masakan ini, ternyata ada pengaruh dari cara memasak Belanda. Pengaruh tersebut salah satunya terlihat dari nama semur yang berkaitan dengan istilah smoor atau smoren.

Baca Juga: Di Tengah Gelombang El Nino, BMKG Rilis Peringatan Hujan di Deretan Kota Besar Hari Ini!

Dalam bahasa Belanda, smoren merujuk pada cara memasak bahan secara perlahan menggunakan api kecil. Teknik tersebut membuat bahan dimasak secara bertahap hingga matang dan empuk.

Cara memasak ini kemudian dikenal di wilayah Hindia Belanda. Saat masuk ke dapur masyarakat Nusantara, pengolahannya berkembang mengikuti bahan dan bumbu yang sudah biasa digunakan dalam masakan setempat.

Rempah-rempah Nusantara memberikan ciri khas pada masakan tersebut. Begitu pula dengan kecap manis yang membuat kuah semur berwarna lebih gelap dan rasa yang manis.

Dari perpaduan itu, semur berkembang menjadi masakan dengan rasa yang berbeda dari smoor dalam tradisi Eropa. Bumbu lokal membuat cita rasanya lebih dekat dengan selera masyarakat Nusantara.

Baca Juga: Deretan Fakta Panas OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara: Ditangkap di Jakarta Hingga Dugaan Suap Proyek Jalan

Smoor juga tercatat dalam buku masak Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek yang diterbitkan pada 1902. Buku tersebut memuat sejumlah resep smoor, termasuk olahan dengan bahan ayam.

Catatan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa istilah dan hidangan smoor sudah dikenal di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Setelah berkembang di Nusantara, hidangan ini kemudian mengalami berbagai penyesuaian.

Salah satunya terlihat dari bahan yang digunakan. Semur tidak hanya diolah menggunakan daging, tetapi juga memakai bahan-bahan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Geger OTT KPK Bolaang Mongondow Utara! Uang Ratusan Juta Disita dari Tangan Bupati Sirajudin Lasena

Karena bahan yang digunakan berbeda-beda, semur pun memiliki banyak versi. Di beberapa daerah, semur bahkan dibuat dengan bahan yang cukup khas, seperti jengkol.

Meski variasinya beragam, kuah berwarna cokelat dengan rasa manis gurih tetap menjadi karakter yang banyak ditemukan pada semur Indonesia.

Dari sini terlihat bahwa makanan juga bisa berubah mengikuti tempat dan kebiasaan masyarakat yang mengolahnya. Semur yang dikenal sekarang tidak lagi sama persis dengan hidangan smoor dalam tradisi awalnya.

Baca Juga: Sebelum Berburu Paus, Warga Lamalera Ternyata Punya Ritual untuk Memanggilnya

Ada teknik memasak yang berasal dari Belanda, tetapi bahan dan bumbu yang digunakan berkembang di dapur Nusantara. Proses tersebut kemudian membentuk semur sebagai salah satu masakan di Indonesia.

Jadi, kalau selama ini semur hanya dikenal sebagai menu rumahan dengan kuah kecap, ternyata ada cerita panjang di balik namanya. Dari smoor hingga semur, masakan ini ikut berubah sesuai selera dan kebiasaan makan masyarakat Indonesia. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra sejarah kuliner kuliner nusantara asal usul semur daging