Makna Jenang Abang Putih dalam Tradisi Jawa terkait Hari Kelahiran

tim solobalapan • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi Jenang Abang Putih (gpt AI)
Ilustrasi Jenang Abang Putih.

SOLOBALAPAN.COM-  Selametan merupakan salah satu budaya Jawa yang diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Selametan biasanya dilakukan dengan mengundang keluarga, tetangga, maupun masyarakat sekitar untuk berkumpul dan berdoa bersama. Budaya selametan telah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha dan hingga saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama di daerah pedesaan. Pelaksanaan selametan juga dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan, seperti kelahiran, pemberian nama, pernikahan, hingga kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

Dalam pelaksanaan selametan, terdapat berbagai makanan tradisional yang disajikan dan memiliki makna tersendiri. Salah satu makanan yang selalu hadir dalam berbagai kegiatan selametan adalah jenang. Jenang merupakan makanan yang terbuat dari beras atau tepung beras dan memiliki berbagai macam bentuk, warna, serta nama. Keberadaan jenang dalam selametan tidak hanya sebagai hidangan untuk dinikmati bersama, tetapi juga memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Baca Juga: Bukan dari Kedelai, Tempe Besengek Khas Kulon Progo Ini Dibuat dari Koro Benguk

Menurut cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, masyarakat Jawa telah mengenal jenang sejak masa kejayaan kerajaan Hindu. Jenang selalu hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat, salah satunya dalam acara selametan. Keberadaan jenang dalam selametan dipercaya memiliki hubungan dengan simbol kehidupan. Namun selametan yang diselenggarakan untuk yang sudah meninggal tidak terdapat jenang, karena jenang berkaitan dengan kehidupan manusia. 

Jenang merepresentasikan doa, pengharapan, rasa persatuan, serta semangat hidup masyarakat Jawa. Hal tersebut menunjukkan bahwa makanan dalam budaya Jawa tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang dikonsumsi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari simbol dan doa yang disampaikan oleh masyarakat.

Baca Juga: Kenapa Tape Goreng Disebut Rondo Royal? Namanya Bikin Salah Fokus

Jenang juga memiliki banyak variasi, baik dari segi warna, bahan, maupun nama. Nama-nama jenang yang digunakan oleh masyarakat Jawa juga memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan, kebudayaan, serta keagamaan masyarakat. Salah satu jenis jenang yang sering ditemukan dalam tradisi masyarakat Jawa adalah Jenang Abang Putih. Jenang ini memiliki perpaduan warna merah dan putih yang membuat tampilannya mudah dikenali serta memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Jenang Abang Putih terbuat dari tepung beras yang kemudian memiliki warna putih tulang sumsum dan dipadukan dengan jenang abang atau jenang merah. Warna merah pada jenang abang biasanya berasal dari gula merah atau gula Jawa yang digunakan dalam proses pembuatannya. Perpaduan warna merah dan putih tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam penyajian Jenang Abang Putih karena memiliki makna yang berkaitan dengan keberadaan manusia di dunia.

Baca Juga: Mengungkap Makna Tari Loro Blonyo: Dari Simbol Patung Jawa hingga Ritual Methik Padi

Jenang Abang Putih dipercaya menjadi simbol keberadaan manusia yang lahir dari perpaduan laki-laki dan perempuan. Dalam pemaknaannya, jenang abang melambangkan laki-laki, sedangkan jenang putih melambangkan perempuan. Kedua warna tersebut kemudian disatukan dalam satu wadah sebagai gambaran adanya hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan manusia.

Dalam penyajiannya, Jenang Abang Putih memiliki aturan tersendiri. Jika sudah ditata ke dalam piring, proporsi jenang abang biasanya lebih banyak dibandingkan dengan jenang putih. Jenang abang dituangkan terlebih dahulu, kemudian jenang putih dituangkan di bagian tengah jenang abang. Penyajian tersebut tidak hanya membuat kedua warna jenang terlihat berdampingan, tetapi juga menjadi bagian dari simbol yang terdapat dalam Jenang Abang Putih.

Baca Juga: Sering Curhat ke AI Saat Pikiran Lagi Penuh? Coba Ganti dengan 5 Aktivitas Ini

Jenang Abang Putih memiliki hubungan yang erat dengan kelahiran seorang anak. Hal tersebut dapat dilihat dari keberadaannya dalam upacara pemberian nama bayi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Dalam tradisi tersebut, Jenang Abang Putih disajikan sebagai bagian dari selametan yang dilakukan untuk menyambut kelahiran dan memberikan nama kepada seorang anak. Kehadirannya menjadi salah satu bentuk doa dan harapan orang tua terhadap kehidupan anak yang baru lahir.

Upacara selametan pemberian nama tersebut juga memperlihatkan adanya perpaduan antara budaya Jawa dan ajaran Islam. Pelaksanaannya dilakukan dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan Al-Barzanji, sementara dalam tradisi Jawa disajikan Jenang Abang Putih sebagai bagian dari selametan. Perpaduan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menjalankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dengan tetap memasukkan unsur keagamaan di dalamnya.

Penyajian Jenang Abang Putih dalam pemberian nama bayi juga menjadi simbol benih cinta kasih orang tua kepada anaknya. Kelahiran seorang anak tidak hanya menjadi kebahagiaan bagi keluarga, tetapi juga menjadi awal dari tanggung jawab orang tua dalam mendampingi kehidupan anak. Melalui Jenang Abang Putih, terdapat doa dan harapan agar anak dapat tumbuh dengan baik serta memiliki kehidupan yang baik di masa mendatang.

Selain menjadi simbol cinta kasih, Jenang Abang Putih juga dapat menjadi pengingat mengenai peran kedua orang tua dalam kehidupan seorang anak. Baik dan buruknya perilaku seorang anak tidak terlepas dari lingkungan tempat ia tumbuh dan bagaimana orang tua memberikan perhatian serta mendidiknya. Oleh karena itu, keberadaan Jenang Abang Putih dalam selametan pemberian nama tidak hanya berkaitan dengan kelahiran, tetapi juga menjadi pengingat mengenai tanggung jawab dan harapan orang tua terhadap kehidupan anak.

Dengan demikian, Jenang Abang Putih menjadi salah satu bagian dari budaya Jawa yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia, khususnya mengenai kelahiran dan hubungan antara orang tua dengan anak. Tradisi penyajiannya juga menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menyampaikan doa, rasa syukur, serta harapan melalui makanan yang disajikan dalam sebuah upacara. Keberadaan tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk kekayaan budaya yang masih dapat ditemui dan dilestarikan hingga saat ini. (Adhima Aulia)

Editor : Kabun Triyatno
adhima aulia jenang abang putih kelahiran Jenang Kehidupan