SOLOBALAPAN.COM - Umumnya, aliran sungai akan lebih deras saat musim hujan dan mengering saat musim kemarau. Namun, pola tersebut justru berbeda di Kali Odo, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.
Kali Odo memiliki pola yang berlawanan. Air sungai ini justru mengalir saat musim kemarau, sedangkan saat musim hujan alirannya dapat berkurang hingga mengering.
Keadaan itu bukan hal baru bagi masyarakat sekitar. Warga telah mengenal pola aliran Kali Odo secara turun-temurun, termasuk keberadaan air yang tetap muncul ketika sumber air lain mulai berkurang saat kemarau.
Air tersebut dikenal oleh masyarakat dengan sebutan "air tolongan". Istilah ini merujuk pada air yang dianggap membantu warga saat kemarau dan kebutuhan akan sumber air meningkat.
Pola aliran Kali Odo kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai dari mana air tersebut berasal dan mengapa kemunculannya justru terjadi saat kemarau.
Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Ir. Ign Sriyana, menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan proses pergerakan air di bawah permukaan tanah.
Air hujan yang masuk ke dalam tanah tidak selalu langsung keluar kembali ke permukaan. Air dapat meresap lebih dahulu, kemudian bergerak melalui lapisan tanah dan batuan sebelum akhirnya muncul melalui mata air.
Baca Juga: Mengenal Tari Gaya Surakarta: Keindahan Gerak, Karakter, dan Filosofi Tari Klana Topeng
Perjalanan air tersebut membutuhkan waktu. Artinya, hujan yang turun pada satu waktu tidak selalu langsung menghasilkan aliran di permukaan pada waktu yang sama.
Air hujan yang meresap ke dalam tanah dapat tersimpan di bawah permukaan sebelum perlahan mengalir keluar. Proses tersebut membuat aliran air tetap muncul setelah jeda waktu tertentu, termasuk saat musim kemarau.
Kondisi batuan di bawah tanah juga ikut memengaruhi perjalanan air. Rekahan, rongga, maupun saluran alami pada batuan dapat menjadi jalur pergerakan air sebelum akhirnya kembali muncul ke permukaan.
Kondisi seperti itu menjadi salah satu kemungkinan yang menjelaskan pola Kali Odo. Menurut Sriyana, pola tersebut termasuk anomali hidrologi karena aliran airnya tidak mengikuti kondisi sungai pada umumnya.
Keunikan tersebut bukan hanya menarik dari sisi kondisi alam. Ketika kemarau membuat sejumlah sungai mengalami penyusutan, Kali Odo justru masih memiliki aliran air.
Baca Juga: Bikin Geram Netizen! Pria Arogan Tiba-Tiba Tendang Wanita Hingga Tersungkur di Mal Senayan City
Kondisi itu kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari aktivitas wisata di kawasan Gedangan. Pengunjung dapat menikmati aliran Kali Odo dengan bermain air maupun berenang ketika musim kemarau.
Bagi masyarakat setempat, fungsi Kali Odo sendiri telah lebih dulu dikenal sebelum kawasan tersebut berkembang sebagai tujuan wisata. Keberadaan air tolongan menjadi bagian dari kehidupan warga ketika musim kemarau datang.
Kali Odo akhirnya memiliki pola yang cukup berbeda dari sungai pada umumnya. Saat hujan turun, alirannya dapat menghilang. Namun, ketika kemarau tiba, air justru kembali mengalir dan menjadi sumber air sekaligus daya tarik wisata bagi kawasan tersebut. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber