Mengulik Kuliner Masa Lalu, Ini Makanan Tradisional Jawa yang Kini Mulai Jarang Ditemui

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 14:40 WIB
Beragam makanan tradisional Jawa yang masih bertahan hingga kini, meski beberapa di antaranya mulai jarang ditemui dan hanya tersedia di daerah atau waktu tertentu. (Pinterest)
Beragam makanan tradisional Jawa yang masih bertahan hingga kini, meski beberapa di antaranya mulai jarang ditemui dan hanya tersedia di daerah atau waktu tertentu. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Dulu, makanan tradisional begitu mudah ditemukan di sekitar rumah, pasar, atau warung sederhana. Jajanan dibuat dengan bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan resepnya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, seiring munculnya berbagai makanan kekinian, beberapa kuliner tradisional mulai semakin jarang terlihat.

Bukan berarti makanan-makanan tersebut benar-benar hilang. Beberapa masih dibuat dan dijual hingga sekarang, tetapi keberadaannya tidak lagi semudah dulu untuk ditemukan. Bahkan, ada yang hanya muncul pada waktu atau tradisi tertentu.

Baca Juga: Dulu Sering Kesal Lihat Tingkah Entong, Kenapa Bocah Ini Justru Bikin Kita Kangen?

Salah satunya adalah Serabi Kalibeluk dari Batang, Jawa Tengah. Berbeda dari serabi yang banyak dikenal saat ini, makanan tradisional ini memiliki ukuran cukup besar dengan diameter sekitar 10 sentimeter. Teksturnya berongga dan biasanya tersedia dalam rasa gurih dengan santan atau rasa manis dengan tambahan gula merah.

Yang membuat Serabi Kalibeluk semakin menarik adalah cara pembuatannya yang masih mempertahankan teknik tradisional.

Tepung beras dibuat dari beras yang ditumbuk, kemudian dicampur dengan kelapa parut dan air. Adonan tersebut dimasak menggunakan tungku kayu dan dicetak memakai cobek dari tanah liat.

Serabi ini dapat ditemukan di Desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem, Batang. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat bahwa jumlah pedagang yang menjualnya semakin sedikit sehingga makanan tersebut mulai tergolong langka.

Untuk menarik minat generasi muda, Serabi Kalibeluk juga mulai disajikan dengan berbagai tambahan seperti keju dan meses. 

Kuliner lainnya adalah wedang tahu yang menjadi salah satu makanan khas Semarang. Namanya mungkin terdengar unik karena menggunakan kata “tahu”, tetapi makanan ini sebenarnya berupa kembang tahu yang disajikan bersama kuah jahe dan rempah-rempah.

Baca Juga: Dramatis! 129 Passenger Virgo Transport 8 Masih Hilang, Basarnas Terjunkan BSG dan Kopaska ke Bawah Laut

Kembang tahunya memiliki tekstur lembut seperti agar-agar, sementara kuahnya memberikan rasa manis sekaligus hangat. Wedang tahu diperkirakan sudah ada di Semarang sejak abad ke-19 dan disebut dibawa oleh masyarakat Tionghoa.

Seiring waktu, rasanya disesuaikan dengan selera masyarakat Semarang dengan tambahan rempah yang membuatnya lebih hangat.

Sayangnya, kuliner ini kini tidak lagi mudah ditemukan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut hanya beberapa penjual yang masih bertahan. Beberapa di antaranya berada di kawasan Pecinan Semarang, sementara salah satu penjual lainnya adalah Wedang Tahu Pak Adi yang sudah dijalankan hingga generasi ketiga. 

Ada pula leye dari Wonosobo. Bagi sebagian orang, nama ini mungkin terdengar asing. Padahal, leye dulunya merupakan salah satu makanan pokok masyarakat setempat yang berbahan dasar singkong.

Leye menjadi bagian dari kehidupan masyarakat karena singkong lebih mudah didapat dan harganya lebih terjangkau dibandingkan beras. Proses pembuatannya memang membutuhkan waktu cukup panjang, tetapi makanan ini pernah menjadi pilihan penting bagi masyarakat.

Kini, leye mulai sulit ditemukan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Pusat Informasi Inovasi Daerah mencatat bahwa produksi leye di pedesaan sudah tidak sebanyak dahulu.

Baca Juga: Bongkar Biang Kerok Kekalahan dari Persela Lamongan! Pelatih Persis Solo Ricky Nelson Minta Maaf ke Suporter

Kondisi tersebut membuat upaya mengenalkan kembali makanan tradisional ini menjadi penting agar keberadaannya tidak semakin tenggelam. 

Sementara itu, ada intip ketan dari Kudus yang memiliki cerita berbeda. Makanan berbahan beras ketan dan kelapa ini justru hanya mudah ditemukan pada waktu tertentu, terutama menjelang Ramadan ketika tradisi Dandangan berlangsung di sekitar Menara Kudus.

Intip ketan dibuat dengan memasak campuran ketan dan kelapa di atas cobek tanah menggunakan tungku. Adonan kemudian dibuat pipih dan diberi taburan gula. Setelah matang, bagian permukaannya berwarna kecokelatan dan bagian bawahnya lebih gelap, menyerupai kerak nasi atau “intip” dalam bahasa Jawa.

Karena hanya dibuat dan dijual pada waktu tertentu, masyarakat yang ingin mencicipinya harus menunggu datangnya Dandangan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bahkan menyebut intip ketan hanya dapat dijumpai satu tahun sekali dalam momen tersebut. 

Keberadaan makanan-makanan tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional Jawa bukan sekadar soal rasa. Di balik satu makanan, ada cara memasak, bahan lokal, kebiasaan masyarakat, hingga tradisi yang ikut membentuk identitas suatu daerah.

Mungkin generasi sekarang lebih mudah menemukan makanan dengan tampilan kekinian di berbagai tempat. Namun, kuliner seperti Serabi Kalibeluk, wedang tahu, leye, dan intip ketan punya cerita yang tidak bisa begitu saja digantikan.

Justru karena mulai jarang ditemui, makanan-makanan tersebut menarik untuk kembali dikenalkan. Sebab, bisa jadi suatu hari nanti makanan yang dahulu dianggap biasa malah menjadi sesuatu yang dicari karena menyimpan rasa dan cerita dari masa lalu.(Luthfiana Sekar)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
zaman dulu makanan tradisional kuliner