Konon Lahir dari “Gagal Total”, Begini Cerita di Balik Gatot Khas Gunungkidul

tim solobalapan • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 18:40 WIB
Gatot, jajanan tradisional khas Gunungkidul berbahan gaplek.(Radar Malioboro)
Gatot, jajanan tradisional khas Gunungkidul berbahan gaplek. 

SOLOBALAPAN.COM - Nama Gatot mungkin terdengar seperti nama seseorang. Namun, di Gunungkidul, nama tersebut justru melekat pada jajanan tradisional berbahan singkong yang memiliki cerita unik di balik proses pembuatannya.

Gatot dibuat dari gaplek, yakni singkong yang dikeringkan. Bagi masyarakat Gunungkidul, singkong dan berbagai olahannya dahulu menjadi salah satu sumber pangan penting, terutama ketika beras sulit diperoleh.

Baca Juga: Komunitas Saleho dan 4 Kelompok Kesenian di Dalamnya

Proses pembuatan gaplek ternyata tidak selalu berjalan sesuai rencana. Singkong yang sudah dibelah dan dijemur membutuhkan cuaca yang mendukung. Ketika hujan turun saat proses pengeringan, singkong dapat mengalami perubahan dan warnanya menjadi lebih gelap.

Bahan yang tidak menghasilkan gaplek seperti yang diharapkan, tidak selalu dibuang. Singkong tersebut masih bisa diolah melalui beberapa tahap sebelum dimasak menjadi gatot.

Gaplek yang telah berubah warna direndam dan dibersihkan terlebih dahulu. Setelah itu, bahan dipotong lalu dikukus hingga matang. Hasil akhirnya menghasilkan warna gelap dan tekstur kenyal yang menjadi ciri khas Gatot.

Baca Juga: Kenapa Juicy Luicy Viral Batal Manggung di Batam? Ini Duduk Perkara Polemik Over Bagasi vs Tagihan Hotel

Gatot biasanya disantap bersama parutan kelapa. Rasa gurih dari kelapa berpadu dengan tekstur Gatot yang kenyal, sehingga menghasilkan sajian sederhana dengan cita rasa khas.

Dari proses tersebut pula muncul salah satu cerita asal mula nama Gatot. Konon, istilah tersebut berkaitan dengan ungkapan “gagal total”. Singkong yang semula diharapkan menjadi gaplek justru mengalami perubahan karena proses pengeringan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, bahan yang dianggap gagal tersebut ternyata masih dapat dimanfaatkan. Masyarakat mengolahnya kembali hingga menjadi makanan yang kemudian dikenal sebagai Gatot.

Cerita tentang “gagal total” tersebut merupakan salah satu versi yang berkembang mengenai asal-usul nama Gatot. Terlepas dari cerita penamaannya, makanan ini memperlihatkan cara masyarakat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia agar tidak terbuang.

Baca Juga: Awal September Terasa Panas Banget, Kenapa Ya? Ini Penjelasan BMKG

Kini, Gatot menjadi salah satu jajanan tradisional yang lekat dengan Gunungkidul. Warna gelap, tekstur kenyal, dan kelapa parut membuatnya mudah dibedakan dari olahan singkong lainnya.

Dari bahan yang semula dianggap gagal, lahir makanan yang justru bertahan sebagai bagian dari kuliner tradisional Gunungkidul. (hanifatuz zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
gatot goreng gunung kidul pangan lokal jajanan tradisional kuliner khas