SOLOBALAPAN.COM - Ada satu detail sederhana yang mudah diperhatikan saat nasi gandul khas Pati disajikan. Seporsi nasi berkuah ini biasanya ditempatkan di atas piring yang terlebih dahulu diberi alas daun pisang.
Penggunaan daun pisang tersebut bukan tanpa alasan. Dalam tradisi menyantap nasi gandul, daun pisang juga berkaitan dengan cara makan yang menjadi salah satu ciri khas hidangan tersebut.
Baca Juga: Miyu Ananthamaya Pranoto, Penari Muda Indonesia yang Koleksi Gelar dari Jepang hingga Polandia
Nasi gandul sendiri dikenal sebagai salah satu kuliner khas Pati, Jawa Tengah. Hidangan ini berupa nasi putih yang disiram dengan kuah berbumbu dan dilengkapi dengan potongan daging sapi. Lauk tambahan seperti tempe, telur, dan gorengan juga dapat disajikan sebagai pelengkap.
Namun, keunikan nasi gandul tidak hanya terletak pada kuah dan lauknya. Cara menyantapnya juga memiliki cerita tersendiri.
Masyarakat mengenal alat makan tradisional bernama suru. Bentuknya sederhana karena dibuat dari bagian daun pisang yang dilipat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk mengambil nasi dan kuah.
Karena itu, daun pisang yang digunakan sebagai alas memiliki kaitan dengan kebiasaan tersebut. Bagian daun dapat dimanfaatkan sebagai alat makan sederhana, sehingga penyajian nasi gandul tidak hanya berkaitan dengan tampilan hidangan.
Baca Juga: Ternyata Potong Tumpeng Ada Filosofinya, Kenapa Potongan Pertama Diberikan kepada Orang Tertentu?
Kebiasaan tersebut menjadi salah satu unsur yang membuat nasi gandul berbeda dari sajian nasi berkuah lainnya. Di tengah penggunaan sendok dan alat makan modern, suru memperlihatkan cara makan yang masih dikenali dalam kuliner tradisional Pati.
Selain cara penyajiannya, nasi gandul mempunyai karakter rasa yang cukup kuat. Kuahnya berwarna kecokelatan dengan perpaduan rasa gurih, manis, dan rempah-rempah. Daging sapi yang empuk kemudian menjadi pelengkap nasi dan kuah tersebut.
Nasi gandul juga memiliki cerita mengenai asal-usul namanya. Salah satu versi menghubungkan kata “gandul” dengan cara pedagang dahulu membawa dagangan menggunakan pikulan. Wadah berisi perlengkapan berjualan berada dalam posisi menggantung dan bergerak mengikuti langkah pedagang ketika berkeliling.
Seiring perubahan zaman, nasi gandul kini lebih mudah ditemukan di warung-warung makan dibandingkan dengan pedagang yang berkeliling dengan pikulan. Meski begitu, sejumlah unsur dalam penyajiannya tetap dipertahankan.
Baca Juga: Kok Bisa Keracunan Makanan Bikin Hilang Ingatan? Waspadai Saat Kuman dan Toksin Ganggu Otak
Daun pisang dan suru menjadi contoh bagaimana makanan tradisional tidak hanya menyimpan cerita dalam cita rasa, tetapi juga kebiasaan masyarakat dalam menikmatinya.
Jadi, ketika melihat nasi gandul disajikan dengan daun pisang, bagian tersebut bukan sekadar penghias piring. Di balik penyajian sederhana itu terdapat cara makan tradisional yang turut menjadi identitas nasi gandul sebagai kuliner khas Pati. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber