Bukan Sapi, Mengapa Kuliner Kudus Banyak Menggunakan Daging Kerbau?

tim solobalapan • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 16:04 WIB
Soto Kudus (Disbudpar Kudus)
Soto Kudus (Disbudpar Kudus)

SOLOBALAPAN.COM -  Berbeda dari banyak daerah di Jawa, kuliner tradisional Kudus justru lebih lekat dengan daging kerbau daripada sapi. Bahan tersebut dapat ditemukan dalam sejumlah makanan khas, mulai dari soto kerbau, sate kerbau hingga nasi pindang. Ciri ini bukan sekadar soal pilihan bahan makanan, tetapi juga berkaitan dengan cerita sejarah yang berkembang sejak masa dakwah Sunan Kudus.

Tradisi tersebut berawal dari kondisi masyarakat Kudus pada masa penyebaran Islam. Kala itu, pengaruh budaya dan kepercayaan Hindu masih cukup kuat di tengah masyarakat. Sapi memiliki kedudukan khusus dalam tradisi Hindu, sehingga penyembelihannya dapat menyentuh hal yang sensitif bagi sebagian masyarakat.

Baca Juga: Bukan Cuma Gantungan Tas, Bag Charm Kini Jadi Cara Gen Z Tunjukkan Kepribadian

Dalam situasi seperti itu, pendekatan dakwah dilakukan dengan mempertimbangkan kebiasaan yang sudah hidup di tengah masyarakat. Sunan Kudus dikenal menggunakan cara-cara yang tidak serta-merta menghilangkan tradisi setempat, termasuk yang berkaitan dengan sapi.

Salah satu cerita yang berkembang menyebutkan bahwa Sunan Kudus tidak menggunakan sapi dalam berbagai jamuan. Sebagai gantinya, kerbau dipilih untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kebiasaan itu kemudian perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kudus.

Ada pula kisah lain yang menghubungkan tradisi tersebut dengan peristiwa ketika Sunan Kudus mendapat susu dari seekor sapi yang diberikan oleh seorang pendeta Hindu. Cerita ini kemudian berkembang sebagai salah satu penjelasan mengenai sikap Sunan Kudus yang memilih untuk menghormati masyarakat yang menganggap sapi sebagai hewan yang dimuliakan.

Baca Juga: Viral Michael Octavian Eks Manusia Silver Tak Akui Istri dan Anak, Dituding Hanya Beri Nafkah Rp200 Ribu

Meski memiliki beberapa versi, cerita-cerita tersebut memperlihatkan satu hal yang sama, yakni adanya upaya menjaga hubungan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda. Kerbau kemudian menjadi pilihan yang dianggap lebih dapat diterima dibandingkan dengan sapi.

Dari sinilah kebiasaan tersebut kemudian memiliki jejak yang lebih panjang. Kerbau tidak hanya digunakan dalam kegiatan tertentu, tetapi juga masuk ke dalam tradisi makan masyarakat Kudus.

Soto menjadi salah satu kuliner utamanya. Daging kerbau digunakan sebagai isian, berpadu dengan kuah bening dan pelengkapnya. Selain soto, daging kerbau juga diolah menjadi sate khas Kudus serta nasi pindang.

Nasi pindang sendiri memiliki kuah berwarna gelap yang berasal dari penggunaan kluwek. Hidangan ini juga menggunakan perpaduan rempah dan santan, dengan potongan daging kerbau sebagai bahan utamanya. Penggunaan kerbau membuat makanan tersebut semakin lekat dengan ciri khas kuliner Kudus.

Baca Juga: Dominator dan Mahadewa Tampil Sempurna, Kagendra Ikut Curi Perhatian di IKL Fall 2026

Seiring perubahan zaman, kebiasaan tersebut tentu tidak lagi berlaku secara mutlak. Sebagian masyarakat Kudus kini juga mengonsumsi daging sapi. Namun, penggunaan kerbau dalam makanan tradisional masih bertahan dan menjadi salah satu pembeda kuliner Kudus dari daerah lain.

Pada akhirnya, pilihan terhadap daging kerbau tidak hanya meninggalkan cerita tentang makanan. Di baliknya terdapat jejak cara dakwah yang berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat pada masanya.

Karena itu, ketika menyantap soto kerbau atau nasi pindang di Kudus, yang hadir bukan hanya cita rasa dari sebuah masakan. Ada pula jejak tradisi yang telah diwariskan selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari identitas kuliner daerah tersebut. (hanifatuz zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
kuliner kudus daging kerbau kudus sejarah Tradisi Jawa