Salah Satu Tradisi Unik di India, Peserta Saling Bertumpuk untuk Pecahkan Pot Gantung

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 10:15 WIB
Tradisi Dahi Handi kembali digelar di India pada 5 September 2026. Para Govinda membentuk piramida manusia untuk memecahkan pot yang digantung tinggi sebagai bagian dari perayaan kelahiran Krishna. (Pinterest)
Tradisi Dahi Handi kembali digelar di India pada 5 September 2026. Para Govinda membentuk piramida manusia untuk memecahkan pot yang digantung tinggi sebagai bagian dari perayaan kelahiran Krishna. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Dahi Handi kembali digelar di sejumlah wilayah India pada 5 September 2026. Dalam tradisi ini, peserta membentuk piramida manusia untuk mencapai dan memecahkan sebuah pot yang digantung di tempat tinggi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan Janmashtami atau hari kelahiran Krishna.

Dahi Handi banyak digelar di Maharashtra, termasuk Mumbai, Thane, dan Pune.

Perayaannya melibatkan kelompok peserta yang disebut Govinda dan biasanya berlangsung dalam suasana yang ramai, dengan kompetisi antarkelompok serta hadiah bagi peserta yang berhasil memecahkan pot.

Baca Juga: Pickle Lagi Menguasai Internet, Kenapa Makanan Rasa Asam Ini Mendadak Jadi Tren?

Nama Dahi Handi berasal dari kata dahi yang berarti dadih atau yoghurt dan handi yang merujuk pada pot tanah.

Pot tersebut biasanya diisi yoghurt, mentega, susu, atau makanan berbahan dasar susu lainnya, kemudian digantung cukup tinggi.

Para peserta harus menyusun tubuh mereka hingga membentuk piramida agar salah satu anggota dapat mencapai pot tersebut.

Tradisi ini berkaitan dengan kisah masa kecil Krishna yang dikenal dalam tradisi Hindu. Krishna diceritakan menyukai mentega dan dadih sehingga sering mengambilnya dari rumah-rumah warga.

Untuk menyimpan makanan tersebut agar tidak mudah dijangkau, warga menggantung pot di tempat tinggi.

Krishna kemudian dikisahkan menggunakan bantuan teman-temannya untuk mencapai pot tersebut. Mereka saling bertumpu dan membentuk susunan seperti piramida hingga Krishna bisa mengambil mentega dan dadih.

Kisah inilah yang kemudian menjadi dasar dari pelaksanaan Dahi Handi. Pemerintah Maharashtra juga menjelaskan tradisi tersebut sebagai perayaan yang menonjolkan kerja sama, ketekunan, dan semangat kebersamaan.

Dalam pelaksanaannya sekarang, Dahi Handi tidak sekadar dilakukan untuk memeriahkan perayaan keagamaan. Tradisi ini berkembang menjadi kompetisi antarkelompok.

Baca Juga: Siapa Penemu Kereta Api Uap? Mengenal Tokoh di Balik Lahirnya Lokomotif Modern

Para Govinda biasanya berlatih sebelum hari pelaksanaan untuk membentuk piramida yang stabil dan mencapai pot yang digantung.

Setiap anggota memiliki peran berbeda. Peserta di bagian bawah bertugas menopang anggota lainnya, sedangkan peserta yang lebih ringan biasanya ditempatkan di bagian atas. Orang yang berada di posisi paling tinggi kemudian berusaha memecahkan pot menggunakan tangan atau alat yang telah disiapkan.

Tantangannya tidak berhenti pada ketinggian pot. Dalam beberapa pelaksanaan, peserta juga harus menghadapi air yang disiramkan oleh orang-orang di sekitar piramida.

Hal tersebut membuat permukaan tubuh dan pakaian menjadi lebih licin sehingga menjaga keseimbangan menjadi semakin sulit.

Maharashtra menjadi salah satu wilayah yang paling dikenal dengan perayaan Dahi Handi. Mumbai, Thane, dan Pune biasanya menjadi lokasi berbagai acara besar.

Pada 5 September 2026, sejumlah wilayah kembali menggelar perayaan tersebut dengan melibatkan banyak kelompok Govinda.

Di Thane, misalnya, polisi memberikan izin untuk ratusan acara Dahi Handi di berbagai wilayah. Salah satu rangkaian perayaan bahkan menawarkan total hadiah hingga ₹71 lakh atau sekitar 7,1 juta rupee.

Besarnya acara membuat pengaturan lalu lintas dan keamanan menjadi bagian penting dari pelaksanaan tahun ini.

Di Pune, kepolisian juga menyiapkan pengalihan lalu lintas dan penutupan sejumlah ruas jalan pada 5 September karena perayaan diperkirakan menarik banyak peserta dan penonton.

Besarnya jumlah peserta sekaligus aktivitas membentuk piramida membuat keselamatan menjadi perhatian tersendiri.

Peserta dapat mengalami cedera jika kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari susunan piramida. Karena itu, penyelenggara dan pemerintah daerah di sejumlah wilayah memberikan perhatian lebih terhadap perlindungan peserta.

Baca Juga: Inilah Stasiun yang Jadi Salah Satu Pusat Transportasi di Brisbane

Pada 2026, misalnya, sekitar 8.000 peserta dari 118 kelompok Govinda di wilayah Vasai-Virar terdaftar dalam program perlindungan asuransi untuk kegiatan Dahi Handi.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa aspek keselamatan semakin menjadi bagian dari penyelenggaraan tradisi ini.

Meski telah berkembang menjadi acara besar dengan kompetisi dan hadiah, Dahi Handi tetap mempertahankan unsur utamanya, yaitu kerja sama.

Satu orang tidak mungkin mencapai pot tanpa bantuan anggota lain yang menopang dan menjaga keseimbangan piramida.

Dahi Handi juga memperlihatkan bagaimana tradisi yang berasal dari kisah keagamaan dapat terus berkembang dalam kehidupan masyarakat modern.

Setiap tahun, masyarakat tetap mempertahankan ritual tersebut, sekaligus menyesuaikannya dengan aturan keselamatan, pengelolaan kerumunan, dan bentuk kompetisi yang semakin besar.

Pada 2026, Dahi Handi kembali menjadi salah satu perayaan yang menarik perhatian di India pada 5 September.

Bagi masyarakat yang merayakannya, kegiatan tersebut bukan hanya tentang memecahkan pot, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merayakan kisah Krishna sekaligus menunjukkan kekuatan kerja sama dalam sebuah kelompok. (Luthfiana Sekar)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
Dahi Handi Krishna india tradisi