Dari Mana Asal Nama “Stasiun”, “Depo”, dan “Peron”? Ternyata Berasal dari Bahasa Asing

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 16:59 WIB
Pernah kepikiran dari mana asal kata stasiun, depo, dan peron? Ternyata ketiganya punya perjalanan bahasa yang panjang sebelum akrab di dunia perkeretaapian Indonesia. (Pinterest)
Pernah kepikiran dari mana asal kata stasiun, depo, dan peron? Ternyata ketiganya punya perjalanan bahasa yang panjang sebelum akrab di dunia perkeretaapian Indonesia. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Setiap hari kita mungkin mendengar kata stasiun, depo, dan peron tanpa pernah mempertanyakan dari mana sebenarnya istilah tersebut berasal. Ketiganya sudah begitu akrab dalam dunia perkeretaapian Indonesia, bahkan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Namun, jika ditelusuri, ketiga kata tersebut ternyata merupakan kata serapan yang memiliki perjalanan panjang dari berbagai bahasa Eropa sebelum akhirnya digunakan dalam bahasa Indonesia.

Kata pertama adalah “stasiun”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stasiun merupakan tempat menunggu calon penumpang atau tempat perhentian kereta api.

Baca Juga: Kenapa Kereta Api Tidak Bisa Berhenti Mendadak seperti Mobil? Ini Alasannya

Dalam konteks perkeretaapian, stasiun menjadi tempat kereta berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, selain memiliki berbagai fungsi operasional lainnya.

Secara etimologis, “stasiun” masuk ke bahasa Indonesia melalui bahasa Belanda, yaitu station. Kata tersebut kemudian berakar lebih jauh dari bahasa Prancis station, bahasa Prancis Kuno estation, dan bahasa Latin statio atau stationem.

Dalam bahasa Latin, kata tersebut berkaitan dengan gagasan tentang berdiri, tempat berdiri, posisi, atau tempat seseorang berada. Perjalanan katanya kemudian membuat istilah tersebut digunakan untuk menyebut tempat pemberhentian atau tempat tertentu dalam suatu perjalanan.

Masuknya istilah tersebut ke Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perkembangan perkeretaapian pada masa Hindia Belanda.

Banyak istilah teknis perkeretaapian yang digunakan di Indonesia pada masa itu berasal dari bahasa Belanda, sehingga sejumlah kosakata kemudian ikut terserap ke dalam bahasa Indonesia.

Baca Juga: Mencekam! Gadis Asal Solo Disekap, Diancam Senjata Api, dan Dicabuli Barista di Sragen

Menariknya, kata “station” juga berkembang menjadi istilah untuk berbagai tempat yang memiliki fungsi tertentu, sehingga sekarang kita tidak hanya mengenal stasiun kereta api, tetapi juga stasiun radio, stasiun televisi, stasiun meteorologi, hingga stasiun bumi.

Berikutnya ada kata “depo”. Dalam dunia kereta api, depo biasanya merujuk pada fasilitas tempat lokomotif atau sarana kereta disimpan, dirawat, diperiksa, dan dipersiapkan sebelum kembali beroperasi. Istilah “depo” berasal dari bahasa Belanda depot.

Kata Belanda tersebut berhubungan dengan bahasa Prancis dépôt, yang pada akhirnya berakar dari bahasa Latin depositus, berkaitan dengan sesuatu yang diletakkan atau disimpan.

Makna tersebut sebenarnya masih terasa sampai sekarang. Dalam penggunaan yang lebih umum, depot berarti tempat penyimpanan atau fasilitas penyimpanan.

Baca Juga: Shopee 9.9 Segera Tiba, Ini Tips Belanja Biar Nggak Kalap dan Tetap Hemat

Dalam perkembangan dunia transportasi, maknanya kemudian digunakan untuk tempat kendaraan atau sarana transportasi ditempatkan dan dirawat. Karena itu, dalam perkeretaapian istilah depo sangat berkaitan dengan kegiatan perawatan dan penyimpanan sarana.

Menariknya, bentuk “depo” bukan satu-satunya bentuk yang dikenal dalam bahasa Indonesia. Ada pula bentuk “depot”, sementara dalam bahasa Melayu dikenal bentuk “depoh”.

Namun, dalam konteks perkeretaapian Indonesia, istilah “depo” sangat umum digunakan, misalnya depo lokomotif atau depo kereta.

Kemudian ada “peron”, bagian stasiun yang paling sering digunakan penumpang. KBBI mendefinisikan peron sebagai pelataran di stasiun kereta api yang digunakan penumpang untuk menunggu maupun naik dan turun dari kereta.

Jika ditelusuri, kata “peron” juga memiliki perjalanan yang cukup panjang. Bahasa Indonesia menyerapnya dari bahasa Belanda perron, yang berasal dari bahasa Jerman Perron dan kemudian dari bahasa Prancis perron. Kata Prancis tersebut berkaitan dengan pierre, yang berarti batu.

Pada awalnya, perron dalam bahasa Prancis merujuk pada struktur atau tangga batu yang berada di depan bangunan. Maknanya kemudian berkembang hingga digunakan untuk menyebut pelataran atau platform, termasuk platform tempat penumpang menunggu kereta.

Perjalanan kata “peron” menjadi contoh menarik bagaimana sebuah kata bisa mengalami perubahan makna ketika berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain.

Dari sesuatu yang berkaitan dengan batu dan tangga di depan bangunan, istilah tersebut akhirnya dikenal di Indonesia sebagai bagian dari stasiun tempat penumpang menunggu kereta.

Ketiga istilah tersebut menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan dalam dunia perkeretaapian Indonesia tidak muncul begitu saja. Perkembangan kereta api pada masa kolonial turut membawa berbagai istilah teknis dari Eropa, terutama Belanda, yang kemudian diserap dan disesuaikan dengan bahasa Indonesia.

Jadi, ketika berdiri di sebuah stasiun dan menunggu kereta di peron, sebenarnya kita sedang menggunakan kosakata yang memiliki perjalanan sejarah cukup panjang.

“Stasiun” berakar dari bahasa Latin melalui Prancis dan Belanda, “depo” berkaitan dengan bahasa Latin melalui Prancis dan Belanda, sementara “peron” memiliki jejak dari bahasa Prancis yang kemudian masuk melalui bahasa Eropa lainnya sebelum digunakan dalam bahasa Indonesia.

Istilah-istilah tersebut akhirnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan perkeretaapian Indonesia.

Meski asal katanya berasal dari bahasa asing, penggunaannya kini sudah begitu melekat dalam bahasa Indonesia sehingga terasa seperti kosakata sehari-hari yang biasa kita gunakan tanpa banyak dipertanyakan. (Luthfiana Sekar)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
depo stasiun kereta