SOLOBALAPAN.COM - Swiss memang terkenal dengan pemandangan pegunungannya yang luar biasa. Ada danau, lembah, desa-desa kecil, sampai jalur kereta yang melintas di antara Pegunungan Alpen. Namun, di tengah perkembangan kereta modern, masih ada satu jalur di Swiss yang menawarkan pengalaman seperti kembali ke masa lalu.
Di jalur ini, kereta masih ditarik oleh lokomotif uap.
Baca Juga: Fakta Baru Kerusuhan Pejompongan! Wali Kota Jakpus Ungkap Massa Ternyata Bukan Warga Jakarta
Namanya Furka Cogwheel Steam Railway atau Dampfbahn Furka-Bergstrecke. Kereta ini melintasi jalur pegunungan antara Realp di Kanton Uri dan Oberwald di Kanton Valais, dengan panjang sekitar 18 kilometer. Perjalanannya membawa penumpang melewati lereng curam, ngarai, hingga kawasan Alpen yang berada lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.
Yang bikin perjalanan ini berbeda dari kereta biasa adalah cara kereta tersebut menaklukkan jalurnya. Beberapa bagian Furka memiliki tanjakan yang terlalu curam untuk dilalui hanya dengan mengandalkan roda kereta biasa. Karena itu, jalur ini menggunakan sistem cogwheel atau rel bergigi.
Di tengah rel terdapat batang bergigi yang akan dikaitkan dengan roda gigi pada lokomotif. Sistem ini membantu kereta tetap punya daya dorong saat mendaki maupun menjaga pergerakannya ketika melewati jalur curam.
Baca Juga: MotoGP Aragon 2026: Trek Favorit Marc Marquez, Saatnya Bangkit Kejar Podium
Jadi, ini bukan sekadar kereta uap yang melintas di pegunungan. Lokomotifnya benar-benar harus bekerja keras untuk membawa rangkaian naik menuju salah satu titik tertinggi di jalur tersebut, yaitu Stasiun Furka yang berada di ketinggian sekitar 2.160 meter.
Perjalanan Furka sendiri punya sejarah yang cukup panjang. Jalur pegunungan ini awalnya merupakan bagian dari jaringan Furka-Oberalp Railway yang dibangun pada awal abad ke-20. Pada masa itu, jalur ini menjadi salah satu penghubung penting di kawasan Alpen Swiss.
Namun, mengoperasikan kereta di pegunungan bukan pekerjaan mudah. Jalur lama Furka hanya bisa digunakan selama musim tertentu karena kondisi cuaca ekstrem dan salju yang menutup kawasan tersebut.
Situasinya berubah ketika Furka Base Tunnel dibangun. Terowongan baru ini memungkinkan perjalanan antara Realp dan Oberwald dilakukan melalui jalur yang lebih rendah dan tidak perlu lagi melewati bagian pegunungan lama. Setelah jalur baru digunakan, kereta reguler terakhir melintasi jalur Furka lama pada 1981.
Saat itu, masa depan jalur tua tersebut sempat terlihat suram.
Baca Juga: Amanda Zahra Perkenalkan "Anak Baru" di Keluarga, Sosok Iqo Sukses Curi Perhatian Warganet
Alih-alih dibiarkan hilang begitu saja, sejumlah penggemar kereta kemudian berusaha menyelamatkannya. Mereka membentuk Verein Furka-Bergstrecke pada 1983 dan mulai menghidupkan kembali jalur pegunungan tersebut secara bertahap.
Prosesnya jelas nggak mudah.
Jalur yang sudah tidak digunakan harus diperbaiki, sejumlah infrastruktur dibangun kembali, dan yang tak kalah penting, mereka juga membutuhkan lokomotif uap yang sesuai untuk jalur bergigi Furka.
Di sinilah cerita Furka jadi semakin menarik.
Beberapa lokomotif uap yang dulunya pernah digunakan di jalur ini ternyata sudah lama berada jauh dari Swiss. Setelah jalur Furka dielektrifikasi pada 1942, sebagian lokomotif uapnya dijual ke luar negeri, termasuk ke Vietnam.
Pada 1990, para penggemar Furka melakukan sebuah operasi yang kemudian dikenal sebagai “Back to Switzerland”. Sejumlah lokomotif tua yang ditemukan di kawasan dataran tinggi Vietnam dibawa kembali ke Swiss untuk dipulihkan.
Lokomotif-lokomotif tersebut kemudian menjalani proses restorasi yang panjang sebelum akhirnya bisa kembali beroperasi di jalur Furka.
Salah satu jenis lokomotif yang kembali digunakan adalah HG 3/4, lokomotif uap bergigi yang awalnya dibuat pada 1913 dan 1914. Artinya, beberapa mesin yang sekarang masih membawa penumpang di jalur Furka sudah berusia lebih dari satu abad.
Baca Juga: Bukan Malas, Ini Alasan Tubuh Terasa Ingin Rebahan Terus
Jalur Furka kemudian dibuka kembali secara bertahap. Kereta mulai beroperasi lagi di sebagian rute pada 1992, sementara seluruh jalur dari Realp hingga Oberwald akhirnya kembali bisa dilalui pada 2010.
Sekarang, naik Furka Cogwheel Steam Railway bukan cuma soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi, perjalanannya sendiri sudah menjadi pengalaman utama.
Penumpang bisa duduk di dalam gerbong bersejarah sambil melihat lokomotif uap bekerja di depan. Kereta perlahan mendaki jalur Alpen, melewati lereng curam dan kawasan pegunungan yang sulit dijangkau melalui jalur biasa.
Di sepanjang perjalanan, pemandangannya juga berubah-ubah. Ada lembah, jembatan, ngarai, hingga area dekat Rhone Glacier. Sesekali, asap dari lokomotif uap ikut menambah suasana seperti sedang berada di perjalanan kereta dari masa lalu.
Yang lebih menarik, keberadaan Furka sampai sekarang juga nggak lepas dari kerja para relawan.
Ratusan orang terlibat dalam perawatan jalur, lokomotif, gerbong, dan operasional kereta. Berkat kerja mereka, jalur yang sempat ditinggalkan setelah dibukanya terowongan baru kini kembali hidup sebagai salah satu perjalanan kereta bersejarah paling unik di Swiss.
Di saat banyak kereta berlomba untuk menjadi lebih cepat, Furka justru menawarkan sesuatu yang berbeda. Kereta ini nggak ngebut.
Di Furka, perjalanan justru jadi bagian paling penting. Penumpang diajak melihat bagaimana kereta uap zaman dulu benar-benar bekerja untuk menaklukkan jalur pegunungan yang curam.
Jadi, kalau kereta modern membawa kita ke masa depan, Furka Cogwheel Steam Railway justru melakukan sebaliknya.
Kereta uap berusia lebih dari 100 tahun ini masih mengepul, masih menarik gerbong, dan masih mendaki Pegunungan Alpen sampai sekarang. (Luthfiana Sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Furka Coghwheel Steam Railway