SOLOBALAPAN.COM - Bayangkan sebuah kota yang pernah menjadi pusat kekuasaan salah satu kekaisaran terbesar di Timur Dekat, menjadi tempat tinggal para raja, pusat perdagangan, sekaligus saksi persaingan panjang antara Persia dan Romawi.
Kini, sebagian besar kemegahannya sudah tidak lagi terlihat. Yang tersisa adalah reruntuhan dan satu bangunan monumental yang masih berdiri sebagai pengingat masa lalunya.
Kota itu adalah Ctesiphon, yang terletak di dekat Sungai Tigris, sekitar 30 kilometer di sebelah tenggara Baghdad, Irak.
Berabad-abad lalu, Ctesiphon merupakan salah satu kota terpenting di kawasan Mesopotamia dan kemudian menjadi pusat pemerintahan Kekaisaran Sasania. Hari ini, kawasan tersebut lebih dikenal sebagai situs arkeologi.
Ctesiphon sudah memiliki sejarah panjang sebelum Kekaisaran Sasania berdiri. Kota ini berkembang pada masa Kekaisaran Parthia dan kemudian menjadi salah satu pusat penting pemerintahan mereka.
Baca Juga: Lompatan Karier Fantastis! Dari Klub Liga 4, Yohanes Baghi Resmi Berbaju Persis Solo
Pada abad ke-3 Masehi, kekuasaan Parthia berakhir dan digantikan oleh Kekaisaran Sasania yang didirikan oleh Ardashir I pada 224 Masehi. Ctesiphon kemudian menjadi salah satu pusat utama kekuasaan dinasti tersebut.
Kekaisaran Sasania bertahan selama lebih dari empat abad, dari 224 hingga pertengahan abad ke-7 Masehi. Wilayah kekuasaannya membentang luas di kawasan yang kini meliputi sebagian Iran, Irak, dan wilayah sekitarnya.
Ctesiphon berada di lokasi yang sangat strategis karena letaknya di dekat Sungai Tigris membuat kota ini terhubung dengan jalur perdagangan dan transportasi penting di Mesopotamia.
Ctesiphon bukan hanya pusat pemerintahan. Kota ini juga berada di tengah persaingan besar antara Kekaisaran Sasania dan Kekaisaran Romawi, kemudian Kekaisaran Bizantium.
Selama berabad-abad, kedua kekuatan tersebut saling berperang untuk memperebutkan wilayah dan pengaruh di kawasan Timur Dekat.
Karena kedudukannya sebagai pusat kekuasaan Persia, Ctesiphon beberapa kali menjadi sasaran serangan. Bangsa Romawi bahkan berhasil merebut kota tersebut dalam beberapa kesempatan.
Namun, Ctesiphon kembali berada di bawah kekuasaan Persia dan tetap menjadi pusat penting hingga masa akhir Kekaisaran Sasania.
Jika ada satu bangunan yang membuat nama Ctesiphon masih dikenal hingga sekarang, salah satunya adalah Taq Kasra. Bangunan ini merupakan sebuah iwan, yaitu ruang besar dengan bukaan depan yang ditutupi lengkungan monumental.
Taq Kasra memiliki lengkungan bata yang sangat besar dan menjadi salah satu contoh paling terkenal dari arsitektur Sasania.
UNESCO menyebut Taq Kasra sebagai salah satu situs kerajaan Sasania yang paling menonjol. Lengkungannya memiliki lebar sekitar 22,5 meter dan tinggi sekitar 27 meter.
Baca Juga: Beneran Nih!!! Desta Resmi Pamit dari Vindes Corp, Tulis Pesan Haru untuk Vincent Rompies
Bayangkan bangunan sebesar itu dibuat dari batu bata lebih dari seribu tahun lalu. Tidak mengherankan jika Taq Kasra kemudian menjadi salah satu simbol utama Ctesiphon.
Taq Kasra juga penting karena arsitekturnya menunjukkan kemampuan konstruksi masyarakat Sasania. Arsitektur Sasania dikenal dengan penggunaan lengkungan dan kubah yang kemudian memberikan pengaruh terhadap perkembangan arsitektur pada periode berikutnya.
Karakter tersebut juga ikut memengaruhi perkembangan arsitektur Islam setelah berakhirnya periode Sasania.
Dengan begitu, Taq Kasra bukan sekadar sisa sebuah istana. Bangunan tersebut juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan arsitektur di kawasan Timur Tengah.
Kejatuhan Ctesiphon tidak terjadi dalam satu malam. Pada abad ke-7, Kekaisaran Sasania menghadapi tekanan besar akibat peperangan panjang dengan Bizantium.
Tidak lama kemudian, wilayah Sasania menghadapi penaklukan Arab Muslim dan Ctesiphon akhirnya jatuh sekitar 637 Masehi.
Kekaisaran Sasania kemudian berakhir pada pertengahan abad ke-7. Setelah pusat pemerintahan berpindah, Ctesiphon perlahan kehilangan kedudukannya sebagai pusat politik utama. Kota yang sebelumnya ramai dan menjadi tempat tinggal para penguasa akhirnya mengalami kemunduran.
Perubahan Ctesiphon semakin terasa selama berabad-abad setelah jatuhnya Sasania. Bangunan-bangunan kota mengalami kerusakan, sementara sebagian materialnya digunakan kembali untuk berbagai kebutuhan pada masa berikutnya.
Kini, kawasan Ctesiphon tidak lagi memperlihatkan kemegahan seperti yang mungkin terlihat pada masa kejayaannya.
Namun, jejak kota kuno tersebut masih dapat ditemukan. Reruntuhan bangunan dan terutama Taq Kasra menjadi bukti bahwa tempat ini pernah menjadi salah satu pusat kekuasaan terbesar di kawasan tersebut.
Baca Juga: Siapa Istri Abah Didi? Konten Kreator Viral Bertema 'Budak Korporat' dengan Ciri Khas Filter Tua
Ctesiphon menarik bukan hanya karena usianya yang sangat tua. Kota ini memperlihatkan bagaimana satu lokasi dapat terus menjadi pusat kekuasaan bagi berbagai kerajaan selama berabad-abad.
Dari Parthia hingga Sasania, Ctesiphon berada di tengah perubahan besar dalam sejarah Mesopotamia.
Lokasinya juga membuat kota tersebut menjadi titik pertemuan berbagai kebudayaan. Pengaruh Persia, Mesopotamia, Romawi, dan kemudian dunia Islam bertemu di wilayah yang sama. Karena itu, sejarah Ctesiphon sebenarnya jauh lebih panjang daripada masa Kekaisaran Sasania saja.
Saat membicarakan kota-kota besar pada masa kuno, nama Ctesiphon mungkin tidak sepopuler Roma atau Athena. Padahal, selama berabad-abad kota ini memainkan peran penting dalam sejarah Timur Dekat.
Ctesiphon menjadi pusat kerajaan, tempat berlangsungnya perdagangan, dan salah satu kota yang terlibat dalam persaingan antara kekuatan besar dunia kuno.
Kini, suasananya tentu sangat berbeda. Tidak ada lagi istana kerajaan yang dipenuhi aktivitas para penguasa dan tidak ada lagi pusat pemerintahan besar seperti pada masa Sasania. Yang tersisa adalah reruntuhan dan bangunan monumental yang menjadi pengingat masa lalu.
Ctesiphon menunjukkan bahwa sebuah kota yang pernah menjadi pusat kekuasaan tidak selalu bertahan selamanya.
Perubahan politik, peperangan, perpindahan pusat pemerintahan, dan perubahan jalur kehidupan masyarakat dapat membuat sebuah kota perlahan kehilangan perannya. Namun, hilangnya kejayaan tidak selalu berarti hilangnya sejarah.
Taq Kasra yang masih berdiri menjadi salah satu bukti paling kuat. Di tengah lanskap Irak modern, lengkungan bata raksasa tersebut mengingatkan bahwa lebih dari seribu tahun lalu, kawasan ini pernah menjadi pusat sebuah kekaisaran besar.
Ctesiphon mungkin tidak lagi menjadi ibu kota. Tetapi dari reruntuhannya, jejak kejayaan Kekaisaran Sasania masih bisa dibaca hingga sekarang. (Luthfiana Sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber