SOLOBALAPAN.COM - Malam biasanya menjadi waktu ketika langit mulai gelap dan Matahari menghilang di balik cakrawala. Namun, aturan tersebut tidak selalu berlaku di Svalbard.
Di kepulauan yang berada jauh di utara Norwegia ini, ada masa ketika Matahari tetap terlihat meskipun jam sudah menunjukkan tengah malam. Siang dan malam seolah kehilangan batasnya karena Matahari terus berada di atas cakrawala selama 24 jam.
Fenomena ini dikenal sebagai midnight sun atau matahari tengah malam.
Namun, kehidupan di Svalbard tidak hanya unik karena Matahari yang seolah tidak mau terbenam. Beberapa bulan kemudian, kondisi justru berubah drastis. Matahari menghilang dari langit dan wilayah ini memasuki periode panjang yang dikenal sebagai polar night.
Di satu tempat, manusia bisa mengalami dua kondisi yang benar-benar bertolak belakang: berbulan-bulan tanpa malam, lalu berbulan-bulan tanpa melihat Matahari.
Svalbard merupakan kepulauan Arktik yang terletak jauh di utara Norwegia, di antara daratan utama Norwegia dan Kutub Utara. Letaknya yang sangat dekat dengan kawasan kutub membuat wilayah ini mengalami perubahan cahaya yang jauh lebih ekstrem dibandingkan sebagian besar tempat di dunia.
Di Longyearbyen, permukiman terbesar di Svalbard, fenomena matahari tengah malam terjadi sekitar pertengahan April hingga akhir Agustus. Selama periode tersebut, Matahari tidak turun di bawah cakrawala sehingga cahaya tetap hadir selama 24 jam.
Baca Juga: Sering Melamun Saat Diperiksa, Polisi Beri Pendampingan Psikologis untuk Revaldo Fifaldi
Artinya, pukul 12 malam tidak selalu berarti langit gelap.
Orang masih bisa berjalan di luar ruangan, menikmati pemandangan pegunungan dan laut, bahkan melihat Matahari bersinar ketika di tempat lain orang-orang mungkin sudah lama tidur.
Fenomena tersebut terjadi karena posisi dan kemiringan Bumi.
Bumi berputar pada sumbu yang miring. Ketika belahan Bumi utara menghadap ke arah Matahari pada musim panas, wilayah-wilayah yang berada jauh di utara menerima sinar Matahari dalam waktu yang jauh lebih lama.
Di daerah yang berada di atas Lingkar Arktik, Matahari bahkan dapat tetap berada di atas cakrawala selama 24 jam.
Semakin dekat suatu wilayah dengan Kutub Utara, semakin lama pula periode matahari tengah malam yang dialami. Karena berada sangat jauh di utara, Svalbard menjadi salah satu wilayah di Norwegia dengan periode midnight sun terpanjang.
Bagi orang yang terbiasa hidup dengan siklus siang dan malam, kondisi tersebut tentu terasa aneh.
Bayangkan melihat jam menunjukkan pukul 23.00 atau bahkan tengah malam, tetapi langit masih terang seperti sore hari.
Pada musim panas, perbedaan antara siang dan malam di Svalbard menjadi semakin kabur. Cahaya yang terus hadir membuat manusia seolah kehilangan patokan waktu yang biasanya ditentukan oleh Matahari terbit dan terbenam.
Baca Juga: Guncang JIS! Launching Persija Jakarta Bakal Dimeriahkan Grup Musik Internasional Far East Movement
Kehidupan pun tidak langsung berhenti hanya karena seharusnya sudah malam.
Cahaya yang tetap terang memungkinkan berbagai aktivitas luar ruangan dilakukan hingga larut malam. Orang dapat berjalan-jalan, mendaki, atau menjelajahi alam ketika jam sudah menunjukkan tengah malam tanpa harus menggunakan penerangan seperti biasanya.
Musim panas juga membawa perubahan besar bagi alam Svalbard.
Setelah musim dingin yang panjang, tumbuhan mulai muncul di kawasan tundra dan berbagai hewan memasuki periode penting untuk mencari makan serta berkembang biak. Cahaya Matahari selama 24 jam menjadi bagian dari perubahan besar yang terjadi pada ekosistem Arktik setiap tahunnya.
Namun, kondisi ini tidak berlangsung selamanya.
Setelah musim panas berakhir, Svalbard perlahan bergerak menuju keadaan yang sepenuhnya berbeda.
Jika musim panas membawa Matahari yang tidak terbenam, musim dingin justru menghadirkan kebalikannya.
Svalbard memasuki periode ketika Matahari berada di bawah cakrawala sepanjang hari.
Musim gelap berlangsung sekitar akhir Oktober hingga pertengahan Februari. Sementara itu, periode yang dikenal sebagai polar night terjadi ketika Matahari benar-benar tidak muncul di atas cakrawala dalam waktu yang panjang, sekitar pertengahan November hingga akhir Januari di Longyearbyen.
Jadi, Svalbard tidak hanya memiliki hari yang terasa sangat panjang.
Wilayah ini juga mengalami masa ketika siang hari tidak menghadirkan Matahari seperti yang biasa kita kenal.
Meski begitu, polar night tidak selalu berarti Svalbard berada dalam kegelapan pekat selama 24 jam penuh.
Baca Juga: Gare Saint-Lazare, Melihat Kehidupan Paris dari Lukisan Monet
Pada bagian tertentu dari musim gelap, masih ada cahaya senja di sekitar tengah hari. Langit dapat berubah menjadi warna biru, ungu, merah muda, atau jingga meskipun Matahari tetap berada di bawah cakrawala.
Namun, ketika periode polar night berlangsung, cahaya Matahari langsung memang tidak muncul.
Kondisi tersebut juga membuat aurora borealis atau cahaya utara menjadi salah satu pemandangan yang dapat dinikmati di Svalbard selama musim dingin.
Bintang dan cahaya bulan pun menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.
Meski mengalami perubahan cahaya yang ekstrem, kehidupan di Svalbard tentu tidak berhenti.
Longyearbyen tetap menjadi pusat kehidupan masyarakat di kepulauan tersebut. Orang tetap bekerja, bersekolah, berkumpul di restoran, menghadiri acara, dan menjalani aktivitas sehari-hari meskipun kondisi di luar sangat berbeda dari kebanyakan kota di dunia.
Perubahan cahaya justru menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sana.
Pada satu periode, seseorang bisa menjalani hari dengan Matahari yang tidak pernah menghilang. Beberapa bulan kemudian, orang yang sama harus menjalani kehidupan tanpa melihat Matahari secara langsung dalam waktu yang cukup panjang.
Karena itu, perubahan musim di Svalbard tidak hanya berarti suhu yang menjadi lebih dingin atau lebih hangat.
Cahaya benar-benar mengubah karakter wilayah tersebut.
Saat musim panas, Svalbard dipenuhi cahaya selama 24 jam. Lanskap tundra, pegunungan, dan laut masih dapat terlihat jelas bahkan ketika waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Ketika musim dingin tiba, suasananya berubah drastis. Langit menjadi lebih gelap, sementara aurora dan cahaya senja menjadi bagian dari pemandangan khas kawasan Arktik ini.
Mengunjungi Svalbard pada musim panas dan musim dingin bahkan bisa terasa seperti datang ke dua tempat yang berbeda.
Padahal, keduanya adalah wilayah yang sama.
Bagi sebagian besar manusia, kehidupan sehari-hari diatur oleh pola sederhana. Matahari terbit, hari dimulai, lalu Matahari terbenam dan malam datang.
Di Svalbard, pola tersebut tidak selalu berlaku.
Ada masa ketika Matahari terus berada di langit selama berbulan-bulan. Ada pula periode ketika Matahari menghilang dan tidak muncul di atas cakrawala dalam waktu yang panjang.
Svalbard menjadi salah satu contoh paling ekstrem tentang bagaimana letak geografis dapat mengubah cara manusia mengalami waktu. Di sini, jam mungkin sudah menunjukkan pukul 12 malam, tetapi selama musim panas, Matahari bisa saja masih bersinar seperti hari belum berakhir. (Luthfiana Sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber