SOLOBALAPAN.COM - Hamparan sawah, perbukitan, jalan-jalan kecil, dan bangunan batu tua menjadi pemandangan yang bisa ditemukan di Mrauk U, sebuah kota bersejarah di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.
Sekilas, tempat ini mungkin tidak terlihat seperti bekas pusat sebuah kerajaan besar. Namun, ratusan tahun lalu, Mrauk U pernah menjadi ibu kota Kerajaan Arakan dan berkembang sebagai salah satu pusat penting di kawasan Teluk Benggala.
Baca Juga: Kereta Ini Pernah Jadi Andalan Perjalanan Jauh di Jepang, Jauh Sebelum Shinkansen
Kota ini bukan sekadar dipenuhi kuil dan stupa. Pada masa kejayaannya, Mrauk U menjadi pusat kekuasaan, perdagangan, serta pertemuan berbagai budaya dari Asia Selatan hingga Asia Tenggara. Kini, jejak kejayaannya masih dapat ditemukan dalam bentuk ratusan bangunan bersejarah yang tersebar di kawasan kota.
Mrauk U seolah menyimpan sisa-sisa sebuah ibu kota besar yang perlahan berubah menjadi kota arkeologi.
Mrauk U didirikan pada abad ke-15 dan kemudian menjadi ibu kota terakhir Kerajaan Rakhine atau Arakan.
Kota ini dibangun di lokasi yang cukup strategis karena memiliki akses ke wilayah pertanian, jalur air, serta rute perdagangan yang menghubungkan kawasan India dan Asia Tenggara.
Baca Juga: Khao Sok, Hutan Thailand yang Menyimpan Salah Satu Danau Buatan Terbesar di Asia Tenggara
Posisinya tersebut menjadi salah satu alasan Mrauk U berkembang menjadi kota penting. Kawasan ini berada di antara perbukitan dan jalur air, dengan sungai serta kanal yang membantu menghubungkannya dengan laut.
Kondisi alam di sekitarnya juga dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem pertahanan. Perbukitan, rawa, sungai, dan jalur air tidak hanya menjadi bagian dari lanskap, tetapi juga membantu melindungi kota.
Jadi, Mrauk U tidak dibangun secara sembarangan. Kondisi geografis di sekitarnya justru menjadi bagian penting dari cara kota tersebut bertahan dan berkembang.
Sulit membayangkan Mrauk U yang sekarang relatif tenang pernah menjadi pusat sebuah kerajaan yang berpengaruh di kawasan Teluk Benggala. Namun, antara abad ke-15 hingga ke-18, kota ini berkembang menjadi salah satu kekuatan penting di wilayah tersebut.
Mrauk U didirikan pada 1430 dan menjadi pusat Kerajaan Arakan selama lebih dari tiga abad. Masa kejayaannya berlangsung terutama antara abad ke-16 hingga ke-17, ketika kerajaan tersebut berkembang melalui kekuatan politik dan aktivitas perdagangan.
Letaknya yang strategis membuat Mrauk U terhubung dengan berbagai wilayah. Kota ini berada di tengah jalur yang menghubungkan Asia Selatan dan Asia Tenggara, sehingga menjadi tempat terjadinya pertemuan berbagai kelompok masyarakat dan budaya.
Pengaruh Buddha menjadi bagian penting dari kehidupan kerajaan, tetapi Mrauk U juga memiliki hubungan dengan dunia Islam dari kawasan Bengal serta komunitas yang berkaitan dengan kehadiran Portugis.
Hal tersebut membuat Mrauk U jauh lebih kompleks daripada sekadar ibu kota sebuah kerajaan Buddha.
Baca Juga: Istana Buka Suara Soal Rekening Aktivis Diblokir Jelang Demo 27 Agustus, Bank Mandiri Sampaikan Maaf
Kota ini pernah menjadi tempat bertemunya perdagangan, politik, agama, dan berbagai kebudayaan dari kawasan yang berbeda.
Salah satu hal menarik dari Mrauk U adalah cara masyarakatnya memanfaatkan alam untuk membangun kota. Perbukitan, rawa, sungai, kanal, hingga sistem pengelolaan air menjadi bagian dari struktur kawasan tersebut.
Jejak kota kuno ini tidak hanya terlihat melalui kuil dan stupa. Masih ada sisa-sisa sistem pertahanan dan pengelolaan air yang dahulu mendukung kehidupan masyarakat.
Air memiliki peran penting dalam kehidupan Mrauk U, baik untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, transportasi, maupun pertahanan. Jaringan sungai dan kanal juga membantu menghubungkan kota dengan kawasan lain hingga ke laut.
Karena itu, ketika melihat Mrauk U sekarang, yang tersisa bukan hanya bangunan keagamaan. Lanskap kota kuno ini juga menyimpan jejak bagaimana sebuah pusat kerajaan dibangun dengan memanfaatkan kondisi alam di sekitarnya.
Salah satu alasan Mrauk U begitu menarik adalah jumlah peninggalan sejarah yang masih dapat ditemukan di kawasan tersebut.
Ratusan monumen Buddha, termasuk kuil, stupa, dan biara, tersebar di berbagai bagian kota. Sebagian besar bangunan tersebut berasal dari masa ketika Mrauk U masih menjadi pusat Kerajaan Arakan.
Ada bangunan yang masih berdiri dengan struktur cukup utuh, sementara sebagian lainnya telah mengalami kerusakan akibat usia dan perubahan zaman.
Namun, justru kondisi tersebut membuat lanskap Mrauk U terasa berbeda.
Baca Juga: Ini Stasiun atau Istana ? Mengintip Megahnya Stasiun Kereta Api Milano Centrale di Italia
Kuil dan stupa tidak hanya terkumpul dalam satu kompleks wisata. Banyak di antaranya berdiri di tengah kawasan terbuka, perbukitan, dan hamparan sawah.
Pemandangannya membuat Mrauk U terlihat seperti sebuah kota kuno yang jejaknya masih menyatu dengan kehidupan masyarakat dan alam di sekitarnya.
Di antara berbagai peninggalan tersebut, Shitthaung Temple menjadi salah satu bangunan paling terkenal di Mrauk U.
Kuil ini didirikan pada 1535 oleh Raja Min Bin atau Min Bar Gyi, salah satu penguasa penting Kerajaan Mrauk U. Shitthaung kemudian menjadi salah satu contoh penting perkembangan seni dan arsitektur pada masa kejayaan kerajaan tersebut.
Bangunan ini dikenal karena strukturnya yang kompleks serta banyaknya relief dan patung Buddha di bagian dalamnya.
Dari luar, Shitthaung terlihat seperti bangunan batu besar dengan sejumlah stupa di bagian atas. Namun, bagian dalamnya memiliki lorong-lorong dan berbagai ukiran yang membuat bangunan ini berbeda dari kuil biasa.
Shitthaung menjadi salah satu bukti bahwa Mrauk U pernah memiliki perkembangan seni dan arsitektur yang cukup maju.
Arsitektur Mrauk U sendiri juga memiliki karakter yang berbeda dari banyak kompleks kuil Buddha lainnya. Beberapa bangunan di kawasan ini dibuat menggunakan struktur batu yang besar dan memiliki ruang serta lorong yang cukup kompleks.
Kondisi politik pada masa itu ikut memengaruhi bentuk bangunan. Mrauk U berkembang sebagai pusat kerajaan di kawasan yang menghadapi persaingan kekuasaan dan konflik.
Karena itu, beberapa bangunan keagamaan memiliki karakter yang tidak hanya monumental, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan pertahanan.
Perpaduan antara fungsi keagamaan dan pertahanan inilah yang menjadi salah satu karakter menarik dari peninggalan Mrauk U.
Selama lebih dari tiga abad, Mrauk U menjadi pusat Kerajaan Arakan. Namun, kejayaannya tidak berlangsung selamanya.
Pada akhir abad ke-18, Kerajaan Mrauk U ditaklukkan oleh Dinasti Konbaung dari Burma. Setelah kejatuhan kerajaan pada 1785, Mrauk U tidak lagi menjadi pusat kekuasaan seperti sebelumnya.
Peran kota ini perlahan berubah. Bangunan-bangunan yang dahulu menjadi bagian dari ibu kota kerajaan tetap bertahan, tetapi Mrauk U kehilangan posisinya sebagai pusat pemerintahan.
Seiring berjalannya waktu, kota yang pernah ramai oleh aktivitas politik dan perdagangan tersebut semakin dikenal karena peninggalan sejarah dan arkeologinya.
Mrauk U memang bukan nama yang sepopuler Bagan ketika berbicara tentang situs bersejarah di Myanmar.
Padahal, kawasan ini memiliki warisan budaya yang sangat besar. Ratusan bangunan dari masa Kerajaan Arakan masih tersebar di berbagai bagian kota dan menjadi saksi dari masa ketika Mrauk U pernah menjadi salah satu pusat penting di kawasan Teluk Benggala.
Di satu sisi, Mrauk U pernah menjadi kota yang aktif dalam jaringan perdagangan regional dan memiliki hubungan dengan berbagai wilayah. Namun di sisi lain, namanya kini masih relatif kurang dikenal dibandingkan sejumlah kota bersejarah lain di Asia.
Padahal, sisa-sisa ibu kota kuno tersebut masih dapat ditemukan dalam jumlah besar hingga sekarang.
Mrauk U memperlihatkan bagaimana sebuah kota dapat mengalami perubahan besar selama ratusan tahun.
Dahulu, tempat ini menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Arakan. Kota ini memiliki sistem pertahanan, jaringan air, bangunan keagamaan, serta hubungan perdagangan dengan berbagai wilayah.
Kini, sebagian besar cerita tersebut hanya dapat dibaca melalui bangunan-bangunan yang masih bertahan.
Kuil, stupa, dan sisa-sisa struktur kota kuno menjadi saksi dari masa ketika Mrauk U merupakan salah satu pusat kekuasaan penting di kawasan Asia.
Mrauk U mungkin tidak lagi menjadi ibu kota sebuah kerajaan. Namun, ratusan bangunan yang masih berdiri membuat kota ini tetap menyimpan jejak masa ketika tempat tersebut pernah menjadi salah satu kota penting di kawasan Teluk Benggala. (Luthfiana Sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber