SOLOBALAPAN.COM - Sepiring mi beras yang ditumis dengan telur, tauge, kacang tanah, dan perpaduan rasa manis, asam, asin, serta gurih ini sudah lama menjadi salah satu makanan yang paling identik dengan Thailand. Namanya Pad Thai.
Hidangan ini bisa ditemukan mulai dari gerobak kaki lima di Bangkok hingga restoran Thailand di berbagai negara.
Popularitasnya bahkan membuat Pad Thai sering menjadi salah satu makanan pertama yang terlintas ketika membicarakan kuliner Negeri Gajah Putih. Namun, di balik sepiring mi tumis tersebut, ternyata ada cerita sejarah yang cukup panjang.
Pad Thai tidak muncul begitu saja sebagai makanan yang langsung dianggap khas Thailand. Mi beras dan teknik menumis memiliki hubungan dengan pengaruh kuliner Tionghoa yang telah lama hadir di kawasan tersebut. Bahkan, istilah kuay teow yang digunakan untuk menyebut mi di Thailand juga memiliki hubungan dengan bahasa Teochew.
Sebelum nama Pad Thai dikenal, berbagai jenis mi sudah lebih dulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Thailand.
Baca Juga: Dua Anak Luka Bakar dalam Kebakaran Rumah Pengrajin Kursi Busa di Pajang
Mi dimasak dengan berbagai cara, mulai dari berkuah hingga ditumis menggunakan wajan. Seiring waktu, makanan tersebut kemudian berkembang mengikuti bahan dan selera lokal.
Di sinilah karakter Pad Thai mulai terbentuk. Mi yang ditumis dipadukan dengan bahan-bahan seperti asam jawa, saus ikan, gula, cabai, tauge, telur, dan kacang tanah.
Hasilnya adalah perpaduan rasa yang berbeda dari mi tumis Tionghoa pada umumnya, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebuah makanan dapat berkembang melalui pertemuan berbagai budaya.
Cerita Pad Thai semakin menarik ketika Thailand berada di bawah pemerintahan Perdana Menteri Plaek Phibunsongkhram atau Phibun pada akhir 1930-an hingga 1940-an.
Pada masa itu, pemerintah sedang mendorong pembentukan identitas nasional Thailand melalui berbagai kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Makanan pun ikut menjadi bagian dari proses tersebut.
Mi yang sudah lama dikenal masyarakat kemudian semakin dipromosikan dan dikaitkan dengan identitas Thailand. Nama Pad Thai, yang secara sederhana merujuk pada mi tumis bergaya Thailand, menjadi bagian dari perjalanan makanan tersebut untuk dikenal sebagai hidangan khas negara.
Namun, cerita bahwa Pad Thai sepenuhnya diciptakan pemerintah ternyata tidak sesederhana itu. Mi tumis sudah ada sebelum masa pemerintahan Phibun.
Karena itu, lebih tepat jika Pad Thai dianggap sebagai makanan yang berkembang dari hidangan yang telah ada sebelumnya, kemudian dipopulerkan dan diberi tempat penting dalam pembentukan identitas nasional Thailand.
Baca Juga: Akun IG Lylia Kasir Indomaret Apa? Terseret Isu Link Video Viral hingga Akun Medsos Diburu Netizen
Pada masa Perang Dunia II, konsumsi mi juga semakin didorong. Thailand saat itu menghadapi persoalan pangan, termasuk setelah banjir besar merusak sejumlah wilayah persawahan.
Pemerintah kemudian mendorong masyarakat untuk mengonsumsi mi dan bahkan mendukung penjualan makanan tersebut.
Popularitas mi pun meningkat. Dari sinilah hidangan mi tumis semakin berkembang hingga akhirnya Pad Thai menjadi makanan yang dikenal luas.
Hal yang membuat Pad Thai menarik justru terletak pada perjalanan tersebut. Makanan yang kini dianggap sebagai salah satu simbol Thailand ternyata merupakan hasil pertemuan berbagai pengaruh.
Ada jejak kuliner Tionghoa melalui mi dan teknik menumis, tetapi ada pula bahan serta perpaduan rasa yang berkembang sesuai karakter masakan Thailand.
Asam dari asam jawa, asin dan gurih dari saus ikan, manis dari gula, serta rasa pedas dari cabai menjadi bagian dari identitasnya. Semua bahan tersebut bertemu dalam satu wajan dan menghasilkan rasa yang sekarang begitu mudah dikenali.
Kini, Pad Thai sudah jauh berkembang dari cerita sejarah dan politik yang pernah ikut membentuk popularitasnya. Hidangan ini bisa ditemukan dalam berbagai versi, mulai dari Pad Thai udang, ayam, hingga tahu. Setiap penjual juga bisa memiliki racikan saus yang berbeda, sehingga rasanya tidak selalu sama.
Ada yang lebih manis. Ada yang lebih asam. Ada pula yang terasa lebih gurih atau pedas.
Meski begitu, ciri dasarnya tetap sama: mi beras yang ditumis dengan perpaduan rasa khas Thailand dan biasanya disajikan bersama kacang tanah serta bahan pelengkap lainnya.
Popularitas Pad Thai kemudian melampaui Thailand. Restoran Thailand di berbagai negara menjadikannya sebagai salah satu menu andalan, sementara wisatawan yang datang ke Thailand sering memasukkannya ke dalam daftar makanan yang wajib dicoba.
Baca Juga: Sekilas Terdengar Aneh, Sate Kere hingga Balung Kethek: Ini 5 Kuliner Solo dengan Nama Tak Biasa
Jadi, Pad Thai sebenarnya bukan sekadar mi tumis biasa. Di balik satu piring makanan ini terdapat cerita tentang perpindahan budaya, pengaruh kuliner Tionghoa, perubahan selera masyarakat, hingga upaya membangun identitas nasional Thailand.
Mungkin saat menikmati Pad Thai, yang paling terasa hanyalah perpaduan rasa manis, asam, asin, dan gurih. Tetapi perjalanan makanan ini membuktikan bahwa sebuah hidangan bisa menyimpan cerita sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat di atas piring.
Pad Thai bukan hanya makanan ikonik Thailand. Sepiring mi ini juga menunjukkan bagaimana sejarah, budaya, dan identitas sebuah negara bisa bertemu dalam satu hidangan. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber