SOLOBALAPAN.COM - Kalau cuma melihat namanya, Utrecht Centraal memang terdengar seperti stasiun kereta biasa. Tapi begitu sampai di sana, rasanya agak susah menyebut tempat ini cuma sebagai stasiun.
Utrecht Centraal adalah stasiun kereta terbesar di Belanda dan salah satu titik transportasi paling sibuk di negara tersebut.
Setiap hari, ribuan orang datang ke sini bukan cuma untuk naik atau turun kereta, tetapi juga untuk berpindah transportasi, belanja, makan, bekerja, atau sekadar melewati kawasan pusat kota.
Baca Juga: Hua Lamphong, Stasiun Tua Bangkok yang Menjadi Ikon Kota
Yang bikin menarik, stasiun ini menyatu langsung dengan pusat Kota Utrecht. Begitu keluar dari stasiun, kamu nggak perlu berjalan jauh untuk menemukan pusat keramaian.
Kawasan pertokoan, restoran, transportasi umum, dan jalan menuju pusat kota semuanya berada di sekitar kompleks stasiun.
Baca Juga: Janggal! Rekening Supriyono Rp80,9 Juta Diblokir, Begini Penjelasan Bank Mandiri
Utrecht sendiri punya posisi yang cukup penting di Belanda. Letaknya berada di tengah negara, sehingga sejak dulu kota ini menjadi salah satu titik penting dalam jaringan transportasi. Begitu juga dengan keretanya.
Stasiun pertama di Utrecht dibuka pada 1843, ketika jalur kereta Amsterdam–Utrecht mulai beroperasi. Sejak saat itu, jaringan kereta di kota ini terus berkembang dan Utrecht perlahan menjadi salah satu simpul kereta paling penting di Belanda.
Baca Juga: Komisi III DPR Pasang Target Ketok Palu RUU Perampasan Aset Akhir Tahun Ini
Masalahnya, semakin banyak orang menggunakan kereta, semakin besar pula kebutuhan ruang di stasiun. Bangunan Utrecht Centraal akhirnya beberapa kali mengalami perubahan.
Stasiun yang ada sekarang merupakan hasil pembangunan besar yang turut mengubah kawasan di sekitarnya.
Salah satu perubahan paling besar terjadi ketika kawasan stasiun dihubungkan dengan Hoog Catharijne, pusat perbelanjaan besar yang berada tepat di sebelahnya. Hasilnya cukup unik.
Orang bisa turun dari kereta, berjalan keluar dari area peron, lalu langsung masuk ke kawasan pertokoan tanpa merasa sedang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Ada toko, restoran, kafe, jalur pejalan kaki, halte bus dan trem, serta ribuan orang yang setiap hari berlalu-lalang. Karena itulah Utrecht Centraal terasa lebih seperti bagian dari pusat kota daripada sebuah stasiun yang berdiri sendiri.
Baca Juga: Di Balik “Laut Bercerita”, Dua Fotografer Senior Bantu Hidupkan Suasana 1998
Menariknya lagi, kompleks Utrecht Centraal punya desain yang cukup modern. Bagian stasiannya menggunakan atap besar dengan bentuk melengkung yang menaungi area peron.
Dari dalam, ruangannya terasa luas dan terbuka, berbeda jauh dari gambaran stasiun lama yang biasanya dipenuhi bangunan kecil dan lorong sempit.
Namun, modernnya Utrecht Centraal bukan berarti sejarahnya hilang. Di kawasan Utrecht masih ada jejak perkembangan kota sebagai salah satu pusat perkeretaapian Belanda. Salah satunya adalah Utrecht Maliebaan Station, stasiun bersejarah yang kini menjadi bagian dari Railway Museum atau Spoorwegmuseum.
Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya kereta bagi perkembangan Utrecht. Bahkan, posisi Utrecht yang berada di tengah Belanda membuat kota ini menjadi tempat yang sangat strategis untuk berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Mau ke Amsterdam? Bisa. Ke Rotterdam? Bisa. Ke Den Haag? Bisa. Ke kota-kota lain di Belanda? Pilihannya juga banyak.
Itulah kenapa Utrecht Centraal selalu ramai. Orang-orang yang datang ke sini pun nggak semuanya punya tujuan yang sama. Ada yang memang tinggal di Utrecht, ada yang sedang bekerja, ada mahasiswa, wisatawan, sampai orang yang cuma transit untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain.
Jadi, kalau kamu berdiri di tengah stasiun dan melihat orang-orang berlalu-lalang, sebenarnya kamu sedang melihat salah satu gambaran kecil kehidupan Belanda.
Ada yang buru-buru mengejar kereta, ada yang santai sambil membawa kopi, ada yang menyeret koper, ada yang baru pulang kerja, dan ada juga yang cuma lewat menuju pusat kota.
Yang menarik, semua aktivitas itu terjadi dalam satu kawasan yang saling terhubung. Inilah yang membuat Utrecht Centraal berbeda dari stasiun yang hanya berfungsi sebagai tempat naik dan turun kereta. Stasiun ini benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kota.
Bahkan, perkembangan Utrecht Centraal terus berjalan. Kawasan di sekitar stasiun juga mengalami perubahan besar untuk menampung pertumbuhan kota dan semakin banyaknya orang yang menggunakan transportasi umum.
Baca Juga: Biodata dan Rekam Jejak Ario Kiswinar: Putra Mario Teguh yang Kini Berseteru dengan Dahnil Anzar
Tujuannya bukan sekadar membuat stasiun lebih besar, tetapi juga membuat kawasan tersebut lebih nyaman untuk pejalan kaki dan lebih terhubung dengan pusat kota.
Hasilnya bisa terasa ketika berjalan keluar dari stasiun. Tidak ada batas yang terlalu jelas antara “stasiun” dan “kota”. Beberapa langkah dari peron, kamu sudah berada di kawasan pertokoan. Terus berjalan, kamu bisa sampai ke pusat Utrecht dengan kanal-kanalnya yang terkenal.
Jadi, perjalanan dengan kereta di Utrecht sebenarnya bisa terasa seperti satu perjalanan panjang yang tidak benar-benar terputus: turun dari kereta, keluar stasiun, masuk pusat perbelanjaan, lalu lanjut ke pusat kota. Semuanya terasa menyambung.
Mungkin itu juga alasan kenapa Utrecht Centraal menarik untuk dibahas. Stasiun ini menunjukkan bahwa sebuah stasiun kereta nggak harus berdiri sendiri sebagai bangunan yang hanya ramai ketika kereta datang. Ia bisa ikut menjadi bagian dari kotanya.
Bahkan, dalam kasus Utrecht, stasiun justru menjadi salah satu tempat paling sibuk di pusat kota. Jadi kalau suatu hari berkunjung ke Utrecht dan turun di Utrecht Centraal, jangan kaget kalau setelah keluar dari kereta kamu masih merasa seperti sedang berada di dalam satu kompleks besar.
Karena memang begitu adanya, di Utrecht, stasiun dan pusat kota nyaris nggak punya batas. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber