SOLOBALAPAN.COM - Sebelum Seoul menjadi ibu kota Korea Selatan, jauh di bagian tenggara Semenanjung Korea pernah berdiri sebuah kota yang menjadi pusat salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Korea. Kota itu adalah Gyeongju.
Selama hampir seribu tahun, Gyeongju menjadi ibu kota Kerajaan Silla, salah satu dari Tiga Kerajaan Korea. Berbagai peninggalan dari masa tersebut masih dapat ditemukan di kota ini, mulai dari makam kerajaan, kuil, pagoda, hingga bangunan bersejarah yang membuat Gyeongju sering dijuluki sebagai “museum tanpa dinding”.
Baca Juga: Birmingham New Street, Stasiun yang Berubah Total Menjadi Pusat Kota
Di tengah kota bersejarah tersebut pernah berdiri Gyeongju Station, sebuah stasiun yang selama puluhan tahun menjadi salah satu pintu masuk menuju kota peninggalan Kerajaan Silla. Namun, kisah stasiun ini menarik karena keberadaannya juga memperlihatkan bagaimana Gyeongju berubah dari kota bersejarah menjadi salah satu tujuan wisata budaya terpenting Korea Selatan.
Gyeongju berada di Provinsi Gyeongsangbuk-do dan menjadi pusat Kerajaan Silla sejak sekitar 57 SM hingga 935 M. Karena lamanya periode tersebut, jejak sejarah Silla begitu kuat di berbagai sudut kota. Makam-makam kuno bahkan dapat ditemukan tidak jauh dari kawasan perkotaan modern.
Kereta api datang ke Gyeongju jauh setelah masa Kerajaan Silla berakhir. Jaringan kereta di wilayah tersebut berkembang pada awal abad ke-20 dan kemudian menjadi bagian dari jaringan transportasi yang menghubungkan wilayah tenggara Semenanjung Korea.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi! Kolom Abu Membumbung Tinggi Capai 250 Meter, Status Tetap Siaga
Gyeongju Station kemudian menjadi salah satu stasiun penting di kota tersebut. Selama bertahun-tahun, stasiun ini menjadi tempat penduduk maupun wisatawan keluar-masuk Gyeongju menggunakan kereta api konvensional.
Namun, perkembangan teknologi kereta cepat akhirnya mengubah peran stasiun ini.
Pada 2010, Korea Selatan mulai mengoperasikan layanan KTX menuju Gyeongju. Untuk melayani kereta cepat tersebut, dibangun Singyeongju Station, yang secara harfiah berarti “Gyeongju Baru”. Lokasinya berada di luar pusat kota dan berbeda dengan Gyeongju Station lama.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih Warna Baju! Ini Tips Agar Selasar Dengan Kulit Wajah
Keberadaan dua stasiun ini sempat membuat nama Gyeongju Station cukup membingungkan bagi wisatawan. Gyeongju Station berada di kawasan pusat kota dan sebelumnya melayani kereta konvensional, sedangkan Singyeongju menjadi stasiun utama untuk layanan KTX.
Perubahan yang lebih besar terjadi pada 2021. Setelah jalur kereta baru di kawasan Gyeongju mulai digunakan, layanan kereta penumpang di Gyeongju Station lama dihentikan. Dengan demikian, perjalanan kereta api yang selama puluhan tahun melewati pusat kota Gyeongju akhirnya berakhir.
Bagi sebuah kota dengan sejarah lebih dari seribu tahun, perubahan tersebut menjadi bagian dari babak baru dalam sejarah modern Gyeongju. Stasiun yang dahulu menjadi salah satu gerbang kota tidak lagi menjadi tempat kereta penumpang berhenti seperti sebelumnya.
Namun, kisah Gyeongju Station tidak berhenti begitu saja.
Baca Juga: Liminal Space: Saat Kita Merasa Sedih dan Gelisah, Padahal Tidak Terjadi Apa-Apa
Keberadaannya tetap berkaitan dengan sejarah perkembangan kota. Selama puluhan tahun, stasiun tersebut menjadi penghubung antara Gyeongju dan berbagai wilayah lain di Korea. Banyak orang yang datang untuk melihat peninggalan Silla kemungkinan besar pernah melewati kawasan stasiun tersebut.
Hal ini membuat Gyeongju Station memiliki posisi yang cukup unik dalam sejarah kota. Di satu sisi, Gyeongju memiliki peninggalan Kerajaan Silla yang berusia lebih dari seribu tahun. Di sisi lain, stasiun tersebut merupakan bagian dari sejarah transportasi modern yang usianya jauh lebih muda.
Keduanya pernah hidup berdampingan di kawasan yang sama.
Tidak jauh dari pusat kota terdapat Daereungwon, kompleks makam kuno dengan gundukan makam besar dari masa Silla. Ada pula Cheomseongdae, bangunan astronomi kuno yang menjadi salah satu simbol Gyeongju. Sementara itu, Bulguksa Temple dan Seokguram Grotto menjadi bagian penting dari kawasan bersejarah Gyeongju yang masuk daftar Warisan Dunia UNESCO.
Kini, wisatawan yang datang menggunakan KTX tidak lagi turun di Gyeongju Station lama. Mereka tiba di Singyeongju Station, kemudian dapat melanjutkan perjalanan menuju pusat kota menggunakan bus, taksi, atau kendaraan lainnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana jaringan kereta api dapat ikut menyesuaikan diri dengan perkembangan sebuah kota. Stasiun modern ditempatkan di luar pusat kota untuk melayani kereta berkecepatan tinggi, sementara kawasan pusat Gyeongju tetap menjadi ruang penting bagi peninggalan sejarah dan aktivitas wisata.
Baca Juga: Part Time Atau Kantoran? Gen Z Mulai Memilih Cara Kerja Yang Lebih Fleksibel
Bagi penggemar kereta api, Gyeongju Station menarik karena kisah perubahannya. Stasiun ini pernah menjadi bagian penting dari jaringan kereta konvensional Korea, tetapi akhirnya kehilangan perannya setelah hadirnya jaringan kereta yang lebih modern.
Sementara bagi wisatawan, kisahnya memberikan perspektif berbeda tentang Gyeongju. Stasiun ini pernah menjadi salah satu pintu masuk menuju kota yang selama hampir seribu tahun menjadi pusat Kerajaan Silla.
Kini, perjalanan menuju Gyeongju dilakukan melalui stasiun yang lebih modern. Namun tujuan akhirnya masih sama: sebuah kota yang menyimpan jejak sejarah Korea dari masa yang sangat jauh.
Gyeongju Station mungkin sudah tidak lagi menjadi tempat kereta penumpang berhenti, tetapi kisahnya tetap menjadi bagian dari perjalanan kota ini—dari ibu kota Kerajaan Silla hingga menjadi salah satu kota warisan budaya paling penting di Korea Selatan. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber