SOLOBALAPAN.COM - Bagaimana rasanya naik kereta api hingga ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut? Pengalaman tersebut bisa dirasakan melalui Jungfraubahn, jalur kereta api pegunungan di Swiss yang membawa penumpang menuju kawasan Jungfraujoch di Pegunungan Alpen.
Jungfraubahn menghubungkan Kleine Scheidegg dengan Jungfraujoch. Jalur sepanjang sekitar 9,3 kilometer ini dibangun untuk menaklukkan medan Pegunungan Alpen dan melewati sebagian besar rute melalui terowongan di dalam pegunungan.
Pembangunan Jungfraubahn dimulai pada 1896. Proyek ini merupakan gagasan pengusaha Swiss, Guyer-Zeller, yang ingin membuat jalur kereta menuju kawasan Jungfraujoch.
Tantangannyaya tidak sederhana. Para pekerja harus membuat jalur di medan pegunungan yang sangat tinggi, dengan sebagian besar lintasan berada di dalam batuan Alpen.
Baca Juga: Hari Pramuka 14 Agustus, Coba Lihat Dasa Dharma di Balik Kebiasaan Sehari-hari
Setelah bertahun-tahun dikerjakan, bagian pertama jalur mulai beroperasi pada 1898. Namun, pembangunan menuju Jungfraujoch terus berlanjut hingga akhirnya jalur tersebut mencapai tujuan akhirnya pada 1912.
Salah satu bagian paling mengesankan dari perjalanan ini adalah ketika kereta memasuki Jungfrau Tunnel. Terowongan tersebut memiliki panjang sekitar 7 kilometer dan menembus langsung bagian dalam Pegunungan Alpen.
Selama perjalanan di dalam terowongan, kereta berhenti di beberapa titik yang memungkinkan penumpang melihat pemandangan pegunungan melalui jendela observasi yang dibuat di dalam batu.
Salah satu titik tersebut adalah Eismeer, tempat penumpang dapat melihat hamparan es dan gletser dari dalam gunung.
Setelah keluar dari terowongan, kereta tiba di Jungfraujoch, yang berada pada ketinggian sekitar 3.454 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini dikenal sebagai salah satu stasiun kereta api tertinggi di Eropa.
Karena ketinggiannya, perjalanan menuju Jungfraujoch tidak hanya menawarkan pemandangan. Penumpang juga dapat merasakan perubahan lingkungan ketika kereta semakin tinggi. Suhu menjadi lebih rendah dan udara semakin tipis dibandingkan daerah di bawahnya.
Jungfraubahn menggunakan sistem rack railway untuk menghadapi tanjakan yang curam. Di antara rel terdapat rel bergigi yang membantu roda kereta mencengkeram jalur.
Teknologi ini memungkinkan kereta mendaki lereng yang tidak mungkin dilewati oleh kereta konvensional.
Yang membuat Jungfraubahn semakin menarik adalah usianya. Jalur ini dibangun pada masa ketika teknologi kereta api masih berkembang pesat, tetapi para insinyur sudah berani membawa rel menuju jantung Pegunungan Alpen.
Saat ini, Jungfraubahn bukan hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga salah satu perjalanan kereta wisata paling terkenal di Swiss. Dari Jungfraujoch, pengunjung dapat menikmati panorama Pegunungan Alpen, termasuk kawasan gletser Aletsch yang luas.
Perjalanan Jungfraubahn menunjukkan bagaimana manusia mencoba menaklukkan medan ekstrem dengan teknologi.
Dari Kleine Scheidegg, kereta perlahan naik menuju dunia pegunungan tinggi, melewati batuan, terowongan, salju, dan gletser hingga akhirnya mencapai salah satu stasiun kereta tertinggi di Eropa.
Jungfraubahn bukan sekadar kereta yang membawa penumpang dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Kereta ini membawa manusia masuk ke jantung Pegunungan Alpen.(luthfiana sekar)
Editor : Kabun Triyatno