SOLOBALAPAN.COM - Kereta api biasanya digunakan untuk mengantarkan penumpang dari satu kota ke kota lain. Namun di Jepang, perjalanan dengan kereta bisa menjadi tujuan wisata itu sendiri. Salah satu contohnya adalah Seven Stars in Kyushu, kereta wisata mewah yang membawa penumpang menjelajahi Pulau Kyushu.
Kereta ini dioperasikan oleh JR Kyushu dan mulai menjalankan perjalanan pertamanya pada 15 Oktober 2013. Nama "Seven Stars" merujuk pada tujuh prefektur di Kyushu, yaitu Fukuoka, Saga, Nagasaki, Kumamoto, Oita, Miyazaki, dan Kagoshima.
Baca Juga: Jejak Surat Kabar Solo pada Masa Awal Kemerdekaan
Berbeda dari kereta penumpang biasa, Seven Stars dirancang sebagai sebuah hotel berjalan. Rangkaian keretanya hanya terdiri dari beberapa gerbong dengan jumlah penumpang yang terbatas.
Setiap perjalanan dibuat untuk memberikan pengalaman menikmati pemandangan, makanan, budaya, serta berbagai tempat wisata di Kyushu.
Rangkaian Seven Stars memiliki tujuh gerbong. Terdapat enam gerbong yang digunakan untuk akomodasi dan satu gerbong lounge. Salah satu gerbong di bagian belakang memiliki ruang observasi sehingga penumpang dapat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
Baca Juga: Novel The Professor: Awal Gagasan Besar Charlotte Bronte tentang Hidup Mandiri.
Kamar-kamarnya dibuat dengan konsep yang jauh berbeda dari kereta biasa. Interiornya menggunakan berbagai material berkualitas tinggi dan menggabungkan unsur desain tradisional Jepang dengan gaya modern.
Salah satu kamar yang paling terkenal adalah Suite A, yang berada di gerbong paling belakang. Ruangan tersebut memiliki tempat tidur, ruang duduk, kamar mandi, serta jendela besar yang memungkinkan penumpang melihat pemandangan dari perjalanan.
Baca Juga: Berburu Kebaya Encim di Pasar Klewer Solo: Seni Tawar-Menawar di Tengah Lipatan Kain Batik
Yang membuat Seven Stars semakin menarik adalah proses pembuatannya. Kereta ini tidak sekadar diproduksi secara massal seperti rangkaian kereta komuter. Sebagian besar interiornya dibuat dengan pengerjaan yang sangat detail dan melibatkan pengrajin Jepang.
Dalam perjalanannya, penumpang tidak hanya duduk di dalam kereta. Paket perjalanan Seven Stars biasanya mencakup kunjungan ke berbagai tempat di Kyushu, pertunjukan budaya, makanan khas daerah, dan pengalaman lokal yang dirancang sebagai bagian dari perjalanan.
Ada pula restoran di dalam rangkaian kereta. Makanan yang disajikan menggunakan bahan-bahan dari Kyushu dan dikembangkan bersama koki. Dengan demikian, pengalaman kuliner menjadi bagian penting dari perjalanan, bukan sekadar fasilitas tambahan.
Seven Stars juga memiliki aturan perjalanan yang berbeda dari kereta biasa. Penumpang tidak dapat begitu saja membeli tiket satu arah dan memilih tujuan sendiri. Perjalanan ditawarkan dalam bentuk paket wisata beberapa hari, dengan rute dan agenda yang sudah ditentukan.
Hal tersebut membuat Seven Stars lebih tepat disebut sebagai kereta wisata mewah daripada kereta transportasi biasa. Penumpang sebenarnya membeli sebuah pengalaman perjalanan lengkap, bukan sekadar kursi untuk berpindah tempat.
Dari luar, bentuk kereta ini juga cukup mencolok. Warna merah marun gelap dengan aksen emas membuatnya terlihat berbeda dari banyak kereta Jepang lainnya. Desainnya dibuat untuk memberikan kesan elegan sekaligus tetap mempertahankan unsur budaya Jepang.
Baca Juga: Gereja Santo Petrus Purwosari Solo Pertahankan Sentuhan Jawa di Tengah Modernisasi
Nama Seven Stars juga bukan sekadar nama komersial. Tujuh bintang tersebut melambangkan tujuh prefektur di Kyushu, sekaligus menggambarkan tujuh unsur yang ingin dihadirkan dalam perjalanan: kereta, makanan, alam, onsen, budaya, sejarah, dan keramahan masyarakat Kyushu.
Pada akhirnya, Seven Stars in Kyushu menunjukkan bahwa kereta api tidak selalu harus dinilai dari kecepatan. Ada kereta yang justru dirancang agar penumpangnya tidak terburu-buru sampai tujuan.
Perjalanan dengan Seven Stars adalah tentang menikmati perjalanan itu sendiri—melihat pemandangan dari jendela, mencicipi makanan lokal, mengunjungi tempat-tempat di Kyushu, kemudian kembali ke kereta untuk melanjutkan perjalanan.
Dengan konsep tersebut, Seven Stars in Kyushu menjadi salah satu contoh bagaimana kereta api dapat dipadukan dengan industri pariwisata dan budaya untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang berbeda.
Editor : Kabun Triyatno