RADARSOLO.COM – Jernihnya air yang keluar dari sumber mata air alami menyambut pengunjung Umbul Sungsang di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali. Dikelilingi pepohonan dan suasana pedesaan yang masih asri, tempat ini menjadi pilihan warga untuk berenang, bermain air, atau sekadar melepas penat.
Umbul Sungsang bukanlah sumber mata air baru yang tiba-tiba berubah menjadi destinasi wisata. Jauh sebelum kawasan wisata berkembang, umbul tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Nepen.
Pengelola Umbul Sungsang Joko Mulyono mengatakan, keberadaan mata air itu sudah ada sejak lama, bahkan jauh sebelum kawasan wisata di sekitarnya berkembang.
"Keberadaan Umbul Sungsang sudah lama sekali, sejak saya lahir sudah ada. Umbul Sungsangnya jadi sebelum ada panorama sudah ada Umbul Sungsang," ujar Joko.
Baca Juga: Umbul Ngabean, Pemandian Peninggalan Keraton yang Masih Jadi Ruang Ritual
Dulu Tempat Mandi dan Mencuci
Bagi masyarakat Desa Nepen pada masa lalu, Umbul Sungsang memiliki fungsi yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar tempat rekreasi. Airnya digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai mandi hingga mencuci pakaian.
"Waktu saya kecil Umbul Sungsang itu dulu buat mandi, buat nyuci baju dan lain sebagainya," kenangnya.
Seiring perubahan zaman, fungsi tersebut perlahan bergeser. Umbul Sungsang kemudian mulai dikenal sebagai lokasi yang memiliki potensi wisata karena airnya yang jernih dan segar serta lingkungan yang masih alami.
Baca Juga: Umbul Langse, Mata Air Boyolali yang Ramai Didatangi Dini Hari hingga Simpan Tradisi Memetri
Namun, cerita tentang Umbul Sungsang tidak berhenti pada fungsi sehari-hari. Sumber mata air ini juga menyimpan kisah tentang aktivitas ritual yang pernah dilakukan masyarakat.
Joko mengatakan, keberadaan tradisi tersebut berkaitan dengan sejarah dan makna nama Desa Nepen. Dalam pemahaman masyarakat setempat, Nepen memiliki arti "menepi".
"Kalau dulu berhubung bertempatan di Desa Nepen nggih, Desa Nepen itu artinya menepi. Sebelum ada panorama ada banyak orang yang ritual-ritual di Umbul Sungsang," ujarnya.
Nama Sungsang dan Pohon Ringin
Asal-usul nama Umbul Sungsang juga memiliki cerita tersendiri. Di sekitar sumber mata air tersebut pernah terdapat pohon yang dikenal masyarakat sebagai Ringin Sungsang atau Ringin Walik.
Joko mengaku tidak mengetahui secara pasti sejarah penamaan tersebut. Namun, keberadaan pohon tersebut menjadi salah satu cerita yang melekat dengan Umbul Sungsang hingga sekarang.
Baca Juga: Di Balik Jernihnya Umbul Pelem, Ada Kisah Paku Buwono X hingga Geliat Ekonomi Ratusan Warga
"Kalau story-nya saya kurang tahu, tapi yang jelas di sini ada pohon ringin namanya Ringin Sungsang. Jadi atau ya Ringin Walik namanya," katanya.
Cerita-cerita tersebut membuat Umbul Sungsang tidak hanya menarik dari sisi alam, tetapi juga memiliki lapisan sejarah lokal yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat Desa Nepen.
Mulai Dikelola sebagai Destinasi Wisata
Potensi Umbul Sungsang kemudian mulai dikembangkan secara lebih serius. Pengelolaan dilakukan melalui kerja sama dengan Pemerintah Desa Nepen yang dimulai pada 2021.
Dua tahun berselang, Umbul Sungsang resmi dibuka sebagai tempat wisata pada 2023. Hingga kini, destinasi tersebut terus dikembangkan sebagai salah satu potensi wisata lokal Desa Nepen.
"Kita kerja sama dengan pemerintah desa itu sejak tahun 2021 dan kita mulai buka 2023, jadi sampai sekarang berjalan kurang lebih tiga tahun," jelas Joko.
Kini, pengunjung dapat menikmati kesegaran air sumber sekaligus suasana alam yang masih terjaga. Pepohonan di sekitar kawasan membuat suasana terasa teduh dan tenang, sehingga cocok menjadi pilihan rekreasi keluarga maupun tempat berkumpul bersama teman.
Bagi warga, Umbul Sungsang juga menjadi pengingat bahwa sumber mata air bukan sekadar objek wisata. Selama bertahun-tahun, keberadaannya telah menopang aktivitas masyarakat dan menjadi bagian dari cerita Desa Nepen.
Karena itu, menjaga kebersihan sumber mata air dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dari pengembangan wisata. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, Umbul Sungsang diharapkan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mempertahankan karakter alaminya.
Di tengah menjamurnya destinasi wisata, Umbul Sungsang menawarkan sesuatu yang berbeda: kesegaran mata air, suasana pedesaan, serta cerita panjang tentang kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama sumber air tersebut. (rara belva zain carissa)
Editor : Kabun Triyatno