RADARSOLO.COM - Bagi sebagian orang, belalang mungkin hanya dikenal sebagai serangga yang biasa dijumpai di lingkungan persawahan.
Namun, di tangan penjual kuliner, hewan yang dalam bahasa Jawa disebut walang tersebut justru berubah menjadi camilan yang memiliki penggemar tersendiri.
Walang goreng menjadi salah satu kuliner yang menarik perhatian karena menyajikan sesuatu yang tidak biasa. Belalang yang selama ini lebih dikenal sebagai bagian dari ekosistem sawah, diolah menjadi kudapan dengan berbagai pilihan rasa dan kemasan.
Kuliner tersebut salah satunya dijajakan Prasetyo Adi nugeroho di kawasan Car Free Night (CFN) Gemolong. Ia baru sekitar dua hingga tiga bulan membuka lapak di lokasi tersebut. Sebelumnya, Prasetya lebih sering berjualan dengan cara berkeliling.
Baca Juga: Pistachio Kian Digemari, Bukan Sekadar Pelengkap Dessert
Keputusannya berjualan di CFN Gemolong bukan tanpa alasan. Menurutnya, penjual walang goreng masih jarang ditemukan di kawasan tersebut. Kondisi itu justru menjadi celah untuk membawa camilan yang tidak biasa tersebut ke tengah keramaian.
“Di sini belum ada yang jual walang jarang, langka,” ujar Prasetya, Sabtu (8/8/2026).
Bagi pembeli, walang goreng mungkin hanya terlihat sebagai camilan dalam kemasan. Namun, perjalanan menuju meja jualan tidak sesederhana itu. Bahan bakunya datang dalam kondisi mentah dari tangan petani, sebelum kemudian diolah hingga siap disantap.
Prasetya biasa menggunakan jenis walang utis. Sebelum menjadi camilan siap santap, walang harus melalui beberapa tahap pengolahan.
Baca Juga: Dari Panggung Musik ke Istana, Ghea Indrawari Bernyanyi Bersama PM Thailand
Walang terlebih dahulu dimasukkan ke air panas, kemudian dicuci hingga bersih. Barulah Setelah itu, digoreng dan dibalut dengan bumbu.
Racikan bumbu yang digunakan menjadi resep tersendiri bagi Prasetya. Ia tidak membocorkan campurannya, tetapi menyediakan tiga pilihan rasa untuk pembeli, yakni original gurih, pedas gurih, dan pedas manis.
Dari ketiga varian tersebut, original dan pedas gurih menjadi rasa yang paling banyak diminati. Sedangkan untuk pedas manis, walang kembali dimasak bersama bumbu setelah digoreng sehingga rasa bumbu lebih melekat.
Pilihan tersebut kemudian dikemas dalam beberapa ukuran. Ada kemasan kecil seharga Rp 10.000, kemasan lebih besar Rp15.000, box besar Rp30.000, hingga toples besar seharga Rp 65.000.
Baca Juga: Musik Dan Ketenangan: Cara Sederhana Menikmati Jeda Rutinitas
Harga tersebut bisa berubah mengikuti ketersediaan walang. Ketika pasokan sulit diperoleh, harga jual ikut naik. Sebaliknya, ketika bahan baku lebih mudah didapat, harga dapat kembali menyesuaikan.
“Kalau barangnya susah, harga naik. Kalau pasokannya lancar, harga bisa turun,” jelas Prasetya.
Namun, bagi mereka yang sudah menjadi penikmatnya, harga tampaknya bukan alasan untuk berpaling. Prasetya menyebut pembelinya datang dari berbagai usia. Tidak hanya orang dewsa, anak-anak pun ada yang menikmati camilan tersebut.
“Rata-rata semua suka, anak kecil juga ada yang penting tidak alergi,” katanya.
Jumlah yang terjual setiap malam memang tidak selalu sama. Tetapi ketika CFN Gemolong, sekitar 18 hingga 27 kemasan dapat berpindah ke tangan pembeli dalam satu malam.
Di tengah deretan jajanan yang semakin beragam, walang goreng menawarkan cerita yang berbeda. Bahan yang bagi sebagian orang mungkin tidak terpikirkan untuk dijadikan camilan justru memiliki pasar tersendiri.
Pada akhirnya, daya tarik walang goreng bukan semata karena bentuknya yang tidak biasa. Ada proses, pilihan rasa, hingga kebiasaan menikmati kuliner yang membuatnya tetap dicari.
Baca Juga: Merasa Menjadi Dua Sisi Berbeda? Bisa Jadi Alter Ego, Bukan Dissociative Identity Disorder
Dari sesuatu yang biasa ditemukan di sawah, walang kini punya tempat lain di dalam kemasan camilan dan di tangan para penikmatnya. (Anmer Jilvandis)
Editor : Adi Pras