SOLOBALAPAN.COM – Di tengah menjamurnya destinasi wisata air modern, Umbul Pelem di Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, justru menunjukkan bahwa wisata berbasis mata air alami mampu menjadi penggerak ekonomi desa. Dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), destinasi ini tidak hanya menawarkan kesegaran air pegunungan, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Setiap akhir pekan maupun musim liburan, ribuan wisatawan datang untuk menikmati kolam berair alami yang jernih dan sejuk. Keberadaan mereka membawa berkah bagi puluhan pelaku usaha kecil, mulai dari pedagang makanan, penyedia jasa parkir, hingga pelaku UMKM di sekitar kawasan wisata.
Keunggulan utama Umbul Pelem terletak pada sumber airnya yang mengalir langsung dari mata air pegunungan. Air terus bersirkulasi secara alami tanpa bergantung pada kaporit sehingga tetap jernih, segar, dan nyaman digunakan untuk berenang.
Suasana semakin lengkap dengan hamparan pepohonan rindang, taman yang tertata rapi, serta udara pedesaan yang sejuk. Tak heran jika Umbul Pelem menjadi pilihan keluarga untuk melepas penat.
"Saya sering ke Umbul Pelem karena tempatnya nyaman. Ada fasilitas terapi juga. Kalau sore suasananya teduh, tidak terlalu panas," ujar salah seorang pengunjung Khamit Cipto Wiyono.
Baca Juga: Bukan Sekadar Mata Air, Ini Rahasia Umbul Nilo Klaten yang Bikin Orang Betah Berendam
Jejak Paku Buwono X Masih Terjaga
Selain menawarkan wisata air, Umbul Pelem juga menyimpan cerita sejarah yang masih dipercaya masyarakat setempat.
Konon, Raja Kasunanan Surakarta Paku Buwono X pernah mengunjungi kawasan tersebut dan menanam sepasang pohon beringin yang hingga kini masih berdiri kokoh di sekitar mata air.
Baca Juga: Saat Doa Menari: Mengenal Tari Umbul Dungo yang Sarat Makna Spiritual
Menurut cerita warga, sang raja juga mencicipi tanaman selada air yang tumbuh alami di dasar umbul. Bahkan berkembang legenda mengenai tutut (keong air) yang hidup di kawasan Umbul Pelem dan Umbul Manten.
"Konon setelah Kanjeng Sunan Pakubuwono X datang ke sini, tutut yang ada di Umbul Pelem dan Umbul Manten ujung cangkangnya menjadi tumpul sehingga tidak melukai kaki orang yang menginjaknya," tutur Ali Abdul Rahmat, salah seorang pemilik warung di kawasan Umbul Pelem.
Meski berkembang sebagai cerita tutur masyarakat, kisah tersebut menjadi bagian dari identitas budaya yang masih hidup hingga sekarang.
Wisata yang Menghidupi Warga
Keberhasilan Umbul Pelem tidak lepas dari pengelolaan BUMDes Wunut yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Mulai dari petugas loket, penjaga kolam, petugas kebersihan, hingga perawatan fasilitas didominasi warga desa. Kehadiran objek wisata ini membuka lapangan pekerjaan baru sekaligus mengurangi angka pengangguran.
Tidak hanya itu, geliat ekonomi juga dirasakan para pedagang yang setiap hari berjualan di sekitar kawasan wisata.
"Dampaknya sangat positif karena bisa meningkatkan perekonomian warga yang memiliki warung maupun usaha di sekitar Umbul Pelem," kata Ali Abdul Rahmat.
Menurutnya, keuntungan yang diperoleh BUMDes juga dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program pembangunan dan bantuan sosial.
"Pengelolaannya oleh BUMDes untuk kemajuan Desa Wunut. Hasilnya juga dimanfaatkan kembali bagi masyarakat, terutama warga yang membutuhkan," tambahnya.
Kini, Umbul Pelem bukan sekadar destinasi wisata air. Tempat ini telah menjadi contoh bagaimana potensi alam dapat dikelola secara profesional untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. (rara belva zain carissa/bun)
Editor : Kabun Triyatno